Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya

Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya
Mommy Tidak Tahu Dad


__ADS_3

"Kenapa takut?Kita sekarang kemana Mom?" tanya Daddy Brian mengalihkan pembicaraan sambil membalas pelukan istrinya.


"Kita ke rumah sakit saja Dad," jawab Mommy Calista.


"Ok, jawab Daddy Brian singkat.


Mereka berdua berjalan ke arah lift saling diam tanpa ada yang mengeluarkan suara sedikitpun hingga mereka masuk ke dalam mobil.


"Dad," panggil Mommy Calista sambil menatap wajah tampan suaminya dengan wajah sendu.


"Ya," jawab Daddy Brian singkat sambil menatap ke arah jalan raya tanpa melihat ke arah istrinya yang sedang menatapnya dengan sendu.


"Dari tadi Daddy kok diam? Ada apa Dad? Apa Mommy melakukan kesalahan?" tanya Mommy Calista dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak ada apa-apa kok Mom, memangnya ada apa Mom?" tanya Daddy Brian balik bertanya sambil memalingkan wajahnya ke arah istrinya dan wajahnya sangat terkejut melihat sepasang mata istrinya berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa Dad, hanya saja tidak biasanya Daddy diam sejak kita berjalan ke arah lift hotel sampai di dalam mobil," jawab Mommy Calista dan tidak berapa lama air matanya keluar.


"Daddy, memang lagi ingin diam Mom," jawab Daddy Brian sambil menghapus air mata istrinya dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.


Mommy Calista menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil memejamkan matanya kemudian perlahan membuka sepasang matanya yang lentik lalu menatap wajah tampan suaminya.


"Apakah Daddy mendengarkan percakapan Mommy dengan dokter itu?" tanya Mommy Calista.


"Ya," jawab Daddy Brian singkat yang memang tidak bisa berbohong dengan istrinya.


"Karena itu Daddy menjadi takut sama Mommy?" tanya Mommy Calista sambil masih menatap wajah tampan suaminya.


"Ya," jawab Daddy Brian singkat lagi.


"Berarti Daddy ingin berpisah dengan Mommy?" tanya Mommy Calista dengan mata berkaca-kaca.


Grep


Daddy Brian yang melihat wajah cantik istrinya kembali berkaca-kaca membuat Daddy Brian memeluk tubuh mungil istrinya karena hatinya sangat sakit jika melihat istrinya menangis.


"Kenapa Mommy bicara seperti itu?" tanya Daddy Brian yang tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh istrinya sambil membelai lembut punggung istrinya.


"Karena Daddy sangat takut sama Mommy berarti Daddy ingin kita berpisah," Jawab mommy Calista dengan mata masih berkaca-kaca tanpa membalas pelukan suaminya.


"Dari awal Daddy selalu bilang kalau Daddy itu cinta banget sama Mommy jadi tidak mungkin Daddy mempunyai pikiran untuk berpisah dengan Mommy. Apa jangan - jangan Mommy yang ingin berpisah dengan Daddy?" Tanya Daddy Brian sambil mendorong tubuh istrinya dan menatapnya dengan wajah cemberut.


Grep


"Tidak, Mommy tidak ada pikiran seperti itu," jawab Mommy Calista dengan nada tegas sambil memeluk tubuh kekar suaminya.


"Syukurlah Daddy ikut senang mendengarnya," ucap Daddy Brian sambil membalas pelukan istrinya.


Mommy Calista tersenyum bahagia setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya. Tangan kanan Mommy Calista memeluk suaminya dari arah samping begitu pula dengan Daddy Brian.


"Daddy," panggil mommy Calista sambil membuat pola abstrak dengan menggunakan tangan kirinya.


"Hmmm," jawab Daddy Brian sambil memejamkan matanya dan menikmati sentuhan istrinya.


"Daddy mengantuk?" tanya Mommy Calista sambil masih membuat pola abstrak.


"Tidak, Mommy berhenti," pinta Daddy Brian.


"Memangnya kenapa Dad?" tanya Mommy Calista dengan wajah polos dan masih asyik membuat pola abstrak di tubuh kekar suaminya.


Grep


'Adik kecil Daddy sudah mulai bangun," bisik Daddy Brian sambil menahan tangan istrinya.


"Tapi Mommy, lagi ingin membuat pola abstrak Dad," ucap mommy Calista.


"Memang Mommy mau bertanggung jawab?" tanya Daddy Brian.


"Mau, tapi nanti kalau kita di rumah," jawab mommy Calista.


"Kalau begitu buat pola nya di rumah saja," ucap Daddy Brian.


Mommy Calista tidak menjawab tapi wajahnya cemberut bersamaan mobil mereka sudah sampai di rumah sakit.


"Maaf tuan dan nyonya, kita sudah sampai di rumah sakit," ucap sopir tersebut kemudian membuka pintu mobil nya begitu pula bodyguard yang duduk di sebelahnya.


Mereka berdua turun dari mobil kemudian berjalan dua langkah lalu membuka pintu belakang pengemudi agar mommy Calista dan Daddy Brian turun dari mobil.


"Terima kasih," ucap mommy Calista pada bodyguard milik suaminya.


"Sama-sama Nyonya," ucap bodyguard tersebut.


"Terima kasih juga telah membukakan pintu untuk suamiku," ucap Mommy Calista ke arah sopir yang merangkap bodyguard karena Mommy Calista tahu kalau suaminya tidak akan mengatakan terima kasih kecuali dirinya.


"Sama - sama Nyonya," jawab sopir tersebut yang merangkap sebagai bodyguard.


Mommy Calista dan Daddy Brian berjalan ke arah lobby sambil berpelukan dari arah samping dan banyak para gadis dan para wanita menatap Daddy Brian tanpa berkedip sedangkan Daddy Brian tidak memperdulikannya malah matanya selalu melihat ke arah istrinya membuat para gadis dan wanita sangat iri dengan mommy Calista.


"Sebelum kita menikah sampai ke dua anak kembar kita sudah besar dan menikah kecuali Adelia karena kita tidak tahu kapan Adelia mau menikah. Daddy selalu menjadi pujaan para wanita," ucap Mommy Calista dengan wajah cemberut.


"Daddy tahu tapi hanya satu wanita pujaan di hati Daddy yaitu istriku yang paling cantik dan yang paling baik hati," ucap Daddy Brian.


"Aish, sejak kapan Daddy jadi tukang gombal?" tanya Mommy Calista sambil tersenyum bahagia.


"Daddy tidak gombal, Daddy serius," jawab Daddy Brian sambil mengusap punggung istrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Daddy, kepala Mommy kok pusing ya?" tanya Mommy Calista sambil menghentikan langkahnya dan tangan satunya yang tidak memeluk daddy Brian memijat keningnya yang terasa pusing.


"Pusing kenapa Mom?" tanya Daddy Brian dengan wajah panik sambil ikut menghentikan langkahnya.


Bruk


"Mommy, tidak tahu Dad ...." ucapan Mommy Calista terputus Calistaa tubuh Mommy Calista seperti tidak bertulang dan langsung ambruk di pelukan suaminya.


Daddy Brian yang melihat tubuh istrinya terasa berat langsung memeluknya dengan tangan kekarnya agar tidak ambruk di lantai.


"Mommy!" teriak Daddy Brian sambil menggendong Mommy Calista ala bridal style.


"Kenapa takut?Kita sekarang kemana Mom?" tanya Daddy Brian mengalihkan pembicaraan sambil membalas pelukan istrinya.


"Kita ke rumah sakit saja Dad," jawab Mommy Calista.


"Ok, jawab Daddy Brian singkat.


Mereka berdua berjalan ke arah lift saling diam tanpa ada yang mengeluarkan suara sedikitpun hingga mereka masuk ke dalam mobil.


"Dad," panggil Mommy Calista sambil menatap wajah tampan suaminya dengan wajah sendu.


"Ya," jawab Daddy Brian singkat sambil menatap ke arah jalan raya tanpa melihat ke arah istrinya yang sedang menatapnya dengan sendu.


"Dari tadi Daddy kok diam? Ada apa Dad? Apa Mommy melakukan kesalahan?" tanya Mommy Calista dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak ada apa-apa kok Mom, memangnya ada apa Mom?" tanya Daddy Brian balik sambil memalingkan wajahnya ke arah istrinya dan wajahnya sangat terkejut melihat sepasang mata istrinya berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa Dad, hanya saja tidak biasanya Daddy diam sejak kita berjalan ke arah lift hotel sampai di dalam mobil," jawab Mommy Calista dan tidak berapa lama air matanya keluar.


"Daddy, memang lagi ingin diam Mom," jawab Daddy Brian sambil menghapus air mata istrinya dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.


Mommy Calista menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil memejamkan matanya kemudian perlahan membuka sepasang matanya yang lentik lalu menatap wajah tampan suaminya.


"Apakah Daddy mendengarkan percakapan Mommy dengan dokter itu?" tanya Mommy Calista.


"Ya," jawab Daddy Brian singkat yang memang tidak bisa berbohong dengan istrinya.


"Karena itu Daddy menjadi takut sama Mommy?" tanya Mommy Calista sambil masih menatap wajah tampan suaminya.


"Ya," jawab Daddy Brian singkat lagi.


"Berarti Daddy ingin berpisah dengan Mommy?" tanya Mommy Calista dengan mata berkaca-kaca.


Grep


Daddy Brian yang melihat wajah cantik istrinya kembali berkaca-kaca membuat Daddy Brian memeluk tubuh mungil istrinya karena hatinya sangat sakit jika melihat istrinya menangis.


"Kenapa Mommy bicara seperti itu?" tanya Daddy Brian yang tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh istrinya sambil membelai lembut punggung istrinya.


"Karena Daddy sangat takut sama Mommy berarti Daddy ingin kita berpisah," Jawab mommy Calista dengan mata masih berkaca-kaca tanpa membalas pelukan suaminya.


Grep


"Tidak, Mommy tidak ada pikiran seperti itu," jawab Mommy Calista dengan nada tegas sambil memeluk tubuh kekar suaminya.


"Syukurlah Daddy ikut senang mendengarnya," ucap Daddy Brian sambil membalas pelukan istrinya.


Mommy Calista tersenyum bahagia setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya. Tangan kanan Mommy Calista memeluk suaminya dari arah samping begitu pula dengan Daddy Brian.


"Daddy," panggil mommy Calista sambil membuat pola abstrak dengan menggunakan tangan kirinya.


"Hmmm," jawab Daddy Brian sambil memejamkan matanya dan menikmati sentuhan istrinya.


"Daddy mengantuk?" tanya Mommy Calista sambil masih membuat pola abstrak.


"Tidak, Mommy berhenti," pinta Daddy Brian.


"Memangnya kenapa Dad?" tanya Mommy Calista dengan wajah polos dan masih asyik membuat pola abstrak di tubuh kekar suaminya.


Grep


"Adik kecil Daddy sudah mulai bangun," bisik Daddy Brian sambil menahan tangan istrinya.


"Tapi Mommy, lagi ingin membuat pola abstrak Dad," ucap mommy Calista.


"Memang Mommy mau bertanggung jawab?" tanya Daddy Brian.


"Mau, tapi nanti kalau kita di rumah," jawab mommy Calista.


"Kalau begitu buat pola nya di rumah saja," ucap Daddy Brian.


Mommy Calista tidak menjawab tapi wajahnya cemberut bersamaan mobil mereka sudah sampai di rumah sakit.


"Maaf tuan dan nyonya, kita sudah sampai di rumah sakit," ucap sopir tersebut kemudian membuka pintu mobil nya begitu pula bodyguard yang duduk di sebelahnya.


Mereka berdua turun dari mobil kemudian berjalan dua langkah lalu membuka pintu belakang pengemudi agar mommy Calista dan Daddy Brian turun dari mobil.


"Terima kasih," ucap mommy Calista pada bodyguard milik suaminya.


"Sama-sama Nyonya," ucap bodyguard tersebut.


"Terima kasih juga telah membukakan pintu untuk suamiku," ucap Mommy Calista ke arah sopir yang merangkap bodyguard karena Mommy Calista tahu kalau suaminya tidak akan mengatakan terima kasih kecuali dirinya.


"Sama - sama Nyonya," jawab sopir tersebut yang merangkap sebagai bodyguard.

__ADS_1


Mommy Calista dan Daddy Brian berjalan ke arah lobby sambil berpelukan dari arah samping dan banyak para gadis dan para wanita menatap Daddy Brian tanpa berkedip sedangkan Daddy Brian tidak memperdulikannya malah matanya selalu melihat ke arah istrinya membuat para gadis dan wanita sangat iri dengan mommy Calista.


"Daddy." Panggil Mommy Calista.


"Ya." Jawab Daddy Brian.


"Sebelum kita menikah, mempunyai dua anak kembar hingga sudah besar sampai putra Kita Adelio menikah dan sebentar lagi Kita mempunyai cucu. Daddy selalu menjadi pujaan hati para gadis dan para wanita," ucap Mommy Calista dengan wajah cemberut.


"Daddy tahu tapi hanya satu wanita pujaan di hati Daddy yaitu istriku yang paling cantik dan yang paling baik hati," ucap Daddy Brian.


"Aish, sejak kapan Daddy jadi tukang gombal?" tanya Mommy Calista sambil tersenyum bahagia.


"Daddy tidak gombal, Daddy serius," jawab Daddy Brian sambil mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Daddy, kepala Mommy kok pusing ya?" tanya Mommy Calista sambil menghentikan langkahnya dan tangan satunya yang tidak memeluk daddy Brian memijat keningnya yang terasa pusing.


"Pusing kenapa Mom?" tanya Daddy Brian dengan wajah panik sambil ikut menghentikan langkahnya.


Bruk


"Mommy, tidak tahu Dad ...." ucapan Mommy Calista terputus karena tubuh Mommy Calista seperti tidak bertulang dan langsung ambruk di pelukan suaminya.


Daddy Brian yang melihat tubuh istrinya terasa berat langsung memeluknya dengan tangan kekarnya agar tidak ambruk di lantai.


"Mommy!" teriak Daddy Brian sambil menggendong Mommy Calista ala bridal style.


Daddy Brian menggendong istrinya ala bridal style sambil memanggil perawat dan tidak berapa lama muncul dua perawat sambil mendorong brangkar.


Daddy Brian meletakkan perlahan tubuh istrinya di brangkar kemudian dua perawat mendorong brangkar menuju ke arah UGD diikuti oleh Daddy Brian.


Sampai dekat pintu UGD Daddy Brian melihat Adelio yang sedang duduk di kursi sambil menatap ke arah pintu UGD.


"Adelio," panggil Daddy Brian.


"Daddy, Mommy kenapa?" tanya Adelio dengan wajah kuatir sambil berdiri mendekati Daddy Brian.


"Daddy tidak tahu, tadi Mommy tiba-tiba pingsan waktu Daddy dan Mommy mengobrol di lobby rumah sakit,'' ucap Daddy Brian.


"Bagaimana keadaan Clarisa?" tanya Daddy Brian sambil duduk di ruang tunggu begitu pula dengan Adelio.


"Clarisa nyaris keguguran Dad, sekarang lagi ditangani oleh dokter." Jawab Adelio.


"Itu semua salah dokter itu, nanti Daddy akan memberikan pelajaran untuk dokter pribadimu, di markas Kita," ucap Daddy Brian sambil menahan amarahnya.


"Maksud Daddy?" tanya Adelio tidak mengerti.


"Dokter pribadimu sangat menyukaimu karena itu dengan sengaja tidak memberikan obat agar istri dan anak dalam kandungan mu ...." ucap Daddy Brian menggantungkan kalimatnya.


"Apa? Kurang aj*r, Adelio akan memberikan pelajaran untuk dokter itu," ucap Adelio sambil berdiri dan menahan amarahnya.


"Nanti saja Kita berikan pelajaran karena yang terpenting keselamatan istri dan anak Kalian yang masih di dalam kandungan." Ucap Daddy Brian.


"Betul kata Daddy." Ucap Adelio sambil duduk di samping Daddy Brian.


"Adelio, pesan daddy kalau istrimu sedang hamil tahan ha srat mu, memang terasa sangat berat tapi demi anak kalian, kamu harus bisa menahannya," ucap Daddy Brian mengalihkan pembicaran untuk menasehati putra sulungnya.


"Memang kenapa Dad?" tanya Adelio.


" Daddy rasa karena tadi pagi kalian melakukan itu makanya Clarisa hampir keguguran." jawab Daddy Brian.


"Kok Daddy tahu?" tanya Adelio penasaran.


"Ya tahulah," jawab Daddy Brian.


"Tahu darimana Dad?" tanya Adelio kepo.


"Tahulah, suara kalian membuat Daddy ingin melakukannya bersama Mommy mu tapi Mommy tidak mau," ucap Daddy Brian dengan wajah kesal terhadap putra sulungnya.


"Kok Daddy bisa tahu kalau kami melakukan hubungan suami istri?" tanya Adelio penasaran dengan wajah memerah menahan malu.


"Ya tahulah, Mommy yang meretas cctv kamar kalian," ucap Daddy Brian.


"Daddy dan Mommy melihat kami ..." ucap Adelio menggantungkan kalimatnya.


Peletak


"Aish Daddy, kenapa men jitak kepala Adelio?" tanya Adelio dengan nada kesal.


"Habisan kamu kalau bicara sembarangan, tidak mungkinlah Daddy melihat tubuh polos kalian. Mommy yang melihat sekilas lalu Mommy memiringkan laptopnya agar Daddy dan Mommy tidak melihat kalian melakukan hubungan suami istri." Jawab Daddy Brian.


"Lalu kenapa men jitak Adelio?" tanya Adelio dengan nada masih protes.


"Kan Daddy bilang hanya mendengar suara kalian bukan melihat rekaman video cctv makanya Daddy jitak." Jawab Daddy Brian.


"Sebenarnya Daddy mau jitak kamu dua kali tapi Daddy tidak mau," sambung Daddy Brian.


"Tidak mau? Memang kenapa Dad?" tanya Adelio penasaran.


"Daddy tidak mau kamu jadi anak bod*h," jawab Daddy Brian asal.


"Hehehehe..." Tawa Adelio.


"Daddy melihatmu sepertinya Daddy baru sadar kalau kamu..." ucap Daddy Brian menggantungkan kalimatnya.


"Aku kenapa Dad?" tanya Adelio penasaran.

__ADS_1


__ADS_2