Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya

Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya
Amarah Daddy Brian


__ADS_3

"Kenapa bisa? Apa yang terjadi dengan Ririn?" tanya Clarisa dengan wajah terkejut seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Tanyalah pada mereka, apa yang Mereka lakukan pada Ririn, putri kesayangan Kami." ucap Valen Ibunya Ririn.


"Kak Adelio, apa benar yang dikatakan oleh Tante?" tanya Clarisa dengan wajah sedih.


"Benar, aku memerintahkan anak buah ku untuk melakukannya," jawab Adelio yang sejak tadi diam.


Adelio tidak mengatakan kalau Daddy Brian juga ikut terlibat karena bagaimanapun dirinya tidak ingin Mommy Calista jadi ikut sedih.


"Kenapa kak Adelio melakukan itu?" tanya Clarisa dengan wajah yang sangat sedih dan mata berkaca-kaca.


"Karena ...." ucapan Adelio terpotong oleh Mommy Calista.


"Pertama, Ririn menjebak mu hingga kamu dan putra kami melakukan hubungan suami istri dan syukurlah putra kami mau bertanggung jawab. Ke dua Ririn mempermalukan dirimu di depan umum padahal jelas-jelas Dia yang bersalah. Ke tiga Ririn tahu kalau Kamu di culik oleh dua pria teman tidurnya Ririn bukannya memberitahukan suamimu malah membiarkan dirimu di culik agar dirinya bisa menggantikan mu menjadi istri putra kami Adelio sekaligus menantu kami," ucap Mommy Calista sambil menatap tajam ke arah Ririn dan Moko secara bergantian.


"Jika Ririn tidak di hukum seperti itu, bisa jadi suatu saat nanti sahabat mu yang sangat jahat itu benar - benar akan membunuhmu. Jadi apakah salah kalau putra kami menghukum sahabatmu yang sangat jahat?" sambung Daddy Brian yang sejak tadi diam.


"Tapikan tidak perlu di hukum seperti itu," ucap Valen dengan nada kesal.


"Aku heran, Kamu itu seorang Ibu seharusnya mengajarkan hal yang baik bukannya mendukung kejahatannya," ucap Mommy Calista.


"Sepertinya kalian lebih sayang dengan Ririn dari pada Clarisa padahal jelas - jelas di sini Clarisa menjadi korban dari kejahatan putri Kalian," sambung Daddy Brian sambil menatap ke dua orang tua Ririn secara bergantian.


"Jujur awalnya aku sangat bahagia karena Paman dan Tante datang menengokku, menyuapi aku dan perhatian padaku tapi ternyata semuanya adalah palsu. Aku sangat kecewa dengan Paman dan Tante karena lebih menyayangi Ririn dari pada aku padahal Aku selalu melakukan apapun yang Tante dan Paman minta," ucap Clarisa sambil menatap ke dua orang tua Ririn secara bergantian dengan perasaan sangat kecewa dan membuat dirinya terluka namun tidak berdarah.


"Kamu sudah hidup bahagia bersama suamimu sedangkan Ririn tidak. Padahal sudah jelas-jelas kamu merebut kekasih sahabatmu," ucap Valen yang tidak mau disalahkan.


"Benar kata Tante mu, kamu sudah hidup enak dan bahagia apalagi kamu juga tidak apa-apa jadi sudah seharusnya Ririn jangan di hukum dengan berat," sambung Moko sambil menatap tajam ke arah Daddy Brian dan Adelio secara bergantian.


"Saat itu Clarisa beruntung karena ada Kak Adelio dan ke dua mertuaku yang menolongku tapi jika tidak, bisa jadi Aku telah tiada." Ucap Clarisa dengan mata berkaca-kaca.


Adelio yang melihat sepasang mata Clarisa berkaca-kaca membuat Adelio menggenggam tangan Clarisa untuk memberikan kekuatan.


"Paman dan Tante, Clarisa tekankan sekali lagi kalau Clarisa tidak merebut kak Adelio dari Ririn tapi Ririn sendiri yang sangat jahat menjebak ku jika seandainya saja kak Adelio adalah orang jahat dan tidak mau bertanggung jawab bagaimana dengan nasibku? Apakah Paman dan Tante tidak memikirkan hal itu?" tanya Clarisa sambil memegangi perutnya yang mulai terasa kram.


"Tetap saja kamu merebut, seharusnya sebagai seorang sahabat, Kamu harus mengalah demi kebahagiaan sahabatmu," ucap Valen dengan nada kesal.

__ADS_1


"Betul sekali, seharusnya Kamu mengalah dan merelakan Adelio menikah dengan putri Kami." Sambung Moko.


"Tante dan Paman lebih baik pergilah," usir Clarisa yang malas berdebat.


"Dasar anak durhaka, percuma Kami merawat mu dan menyekolahkan mu hingga lulus kuliah." Ucap Moko.


"Asal Kamu tahu Kami mau merawat mu karena wajahmu sama seperti putri Kami agar suatu saat bisa dijadikan kambing hitam untuk putri Kami. Jika tidak mana mau Kami merawat mu." Ucap Valen yang melihat kalau perut Clarisa mulai kram karena sejak tadi meringis menahan rasa sakit.


"Seandainya saja Kami tahu kalau Kamu seperti ini, seharusnya Kami jual agar putriku bahagia bisa menikah dengan Adelio atau dengan pria yang lebih kaya." Sambung Moko.


"Lebih baik kita pergi dari sini," ucap Valen sambil menarik tangan suaminya dan tersenyum menyeringai melihat wajah Clarisa pucat menahan rasa sakit pada bagian perutnya.


'Aku dengar Kamu hamil dan semoga saja Kamu keguguran lalu Kamu di usir oleh suamimu dan keluarga suamimu.' Sambung Valen dalam hati.


"Jika suatu saat nanti suamimu sudah bosan padamu jangan pernah kembali ke rumah," sambung Moko sambil berjalan mengikuti langkah istrinya.


"Aku tidak akan kembali ke rumah Tante dan Paman," ucap Clarisa dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan pernah menyesal apa yang telah kamu katakan, dasar anak tidak tahu di untung," ucap Valen.


Bruk


Rasa kram pada perutnya di tambah ucapan Valen dan Moko membuat Clarisa tidak bisa menahan rasa sakitnya membuat Clarisa berteriak sambil memegangi perutnya yang sangat bersamaan Clarisa ambruk tidak sadarkan diri di ranjang karena tadi posisi dirinya duduk di ranjang.


"Clarisa!!" teriak Mommy Calista, Daddy Brian dan Adelio secara bersamaan.


Mommy Calista, Daddy Brian dan Adelio yang sejak tadi matanya tertuju ke arah orang tua Clarisa tidak tahu kalau Clarisa menahan kram pada perutnya hingga di saat Clarisa berteriak kesakitan membuat Mereka serempak menatap ke arah Clarisa termasuk ke dua orang tua Clarisa.


Tanpa punya rasa empati sedikitpun ke dua orang tua Ririn tidak memperdulikannya malah pergi meninggalkan Clarisa bersama suami dan ke dua besan Mereka sambil tersenyum puas melihat penderitaan Clarisa.


Adelio menepuk perlahan pipi Clarisa sambil menyebut nama Clarisa sedangkan Daddy Brian menekan tombol darurat agar dokter segera datang. Hingga Mommy Calista melihat darah segar keluar dari sela-sela ke dua paha Clarisa membuat Mommy Calista membulat kan matanya dengan sempurna.


"Adelio, Clarisa mengeluarkan darah segar cepat panggil dokter, takutnya Clarisa mengalami perdarahan dan bisa saja keguguran," ucap Mommy Calista dengan wajah kuatir.


"Apa?? Anak - Anak Daddy dan Mommy kalian harus kuat," ucap Adelio sambil membelai perut Clarisa yang masih rata.


Ceklek

__ADS_1


Seorang perawat membuka pintu kamar perawatan dengan lebar kemudian dokter masuk ke dalam kamar perawatan dan diikuti oleh perawat.


"Ada yang bisa kami bantu Tu.." ucapan dokter tersebut terpotong oleh Adelio.


"Cepat periksa istriku!" perintah Adelio.


Dokter itupun langsung memeriksa keadaan Clarisa yang pucat pasi.


"Kami akan membawanya ke ruang UGD," ucap dokter tersebut.


"Aku akan menggendongnya," ucap Adelio dengan perasaan tidak menentu sambil menggendong tubuh Clarisa sedangkan Daddy Brian mengambil botol infus milik Clarisa.


"Baik, suster siapkan semua yang dibutuhkan," ucap dokter tersebut sambil berjalan mengikuti langkah Daddy Brian dan Adelio.


"Baik Dok," jawab perawat tersebut dengan patuh.


Kini Clarisa berada di ruang UGD sedangkan Daddy Brian dan Adelio masih berdiri sambil menatap ke arah pintu UGD.


"Aku sangat membenci Ririn dan orang tuanya sampai ke ubun-ubun," ucap Adelio dengan rahang mengeras sambil menggenggam erat ke dua tangannya.


"Kalau tahu begini seharusnya wanita ular itu mati agar kejadian ini tidak terjadi," sambung Daddy Brian dengan mata mulai berubah menjadi merah.


Deg


Adelio sangat terkejut melihat perubahan mata Daddy Brian karena selama ini dirinya tidak pernah melihat kalau ke dua mata Daddy Brian bisa berubah. Adelio dan Adelia tidak pernah tahu kalau Daddy Brian sepasang matanya bisa berubah menjadi merah tanda kalau jiwa psychopath yang sudah lama tidur dengan pulas kini mendadak bangun dari tidurnya.


Hanya Mommy Calista dan keluarga suaminya yang tahu kalau Daddy Brian memiliki jiwa psychopath sama seperti Ayahnya Daddy Alvaro sekaligus Kakeknya Daddy Brian.


"Daddy, kenapa mata Daddy berubah menjadi merah?" tanya Adelio dengan wajah terkejut.


"Daddy, akan membunuh mereka semua namun sebelum membunuhnya ..." ucapan Daddy Brian terpotong oleh Mommy Calista yang tiba-tiba datang sambil membawa botol infus.


"Daddy," panggil Mommy Calista sambil berjalan ke arah Daddy Brian.


Grep


"Mommy, mereka sangat jahat dan tidak pantas kalau Mereka hidup karena telah membuat menantu kita mengalami pendarahan lagi," ucap Daddy Brian sambil memeluk tubuh mungil istrinya yang tadi berjalan mendekati dirinya.

__ADS_1


__ADS_2