
Daddy Brian dan Mommy Calista yang mendengar Benekditus memanggil nama istrinya langsung melihat mata Sandra tertutup dengan rapat.
''Sandra pingsan,'' ucap mommy Calista.
"Apa?" tanya Benekditus terkejut.
Benekditus langsung mendorong perlahan tubuh istrinya dan memang benar Sandra tidak sadarkan diri membuat Benekditus menggendong istrinya ala bridal style untuk dibaringkan di ranjang khusus menunggu pasien sedangkan Daddy Brian menekan tombol yang berada di atas kepala istrinya.
"Sayang, ayo bangun," ucap Benekditus dengan wajah kuatir.
"Aku kan sudah bilang kalau Aku sangat mencintaimu dan seandainya jika Kamu tidak hamil lagi maka Aku tidak masalah. Walau sebenarnya Aku ingin Kamu hamil dan mempunyai anak kembar tapi jika Kamu tidak bisa Aku akan tetap menerima apapun dirimu karena Aku sangat sayang dan mencintaimu," ucap Benekditus sambil mengusap pipi istrinya dengan lembut.
Ceklek
Tidak berapa lama datang dokter dan perawat masuk ke ruang perawatan.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya dokter tersebut.
"Tolong cek kondisi istriku Dok, istriku pingsan," ucap Benekditus dengan wajah kuatir dan pandangan matanya selalu mengarah ke istrinya.
"Baik Tuan," jawab dokter tersebut.
Dokter itupun mulai memeriksa keadaan Sandra setelah dua belas menit diperiksa dokter tersebut tersenyum.
"Kenapa dokter tersenyum? Istriku baik-baik saja kan?" tanya Benekditus.
"Nyonya baik-baik saja," jawab dokter tersebut sambil memberikan minyak angin agar Sandra tersadar dari pingsannya.
"Eugghhhh,"
"Sayang, mana yang sakit?" tanya Benekditus ketika melihat istrinya melenguh bersamaan membuka matanya.
"Tidak ada yang sakit sayang, hanya perut Mommy tidak enak," jawab Sandra.
"Itu karena Nyonya sedang hamil," jawab dokter tersebut.
"Apa dok? Hamil?" tanya Benekditus dan Sandra bersamaan.
"Benar Tuan, Nyonya hamil dan untuk mengetahui usia janinnya silahkan di cek di dokter kandungan," jawab dokter tersebut.
"Baik Dok," jawab Sandra dan Benekditus bersamaan lagi.
"Baik kalau begitu saya ingin mengecek pasien lainnya," ucap dokter tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Dok," jawab Sandra.
"Sama-sama Nyonya dan saya mengucapkan selamat atas kehamilan Nyonya," ucap dokter tersebut.
"Terima kasih banyak Dok," jawab Sandra.
"Sama-sama Nyonya," ucap dokter tersebut.
Dokter itupun pergi meninggalkan ruang perawatan bersama perawat sedangkan Sandra mengusap perutnya yang masih rata namun tiba-tiba wajahnya sedih dan Benekditus tahu kenapa istrinya sedih.
"Walau nanti anak kita tidak kembar, Papi tidak marah ataupun kecewa karena bagaimanapun dia adalah darah daging Papi dan Papi akan menyayangi dirinya seperti menyayangi Benard." ucap Benekditus sambil membelai pipi istrinya dengan lembut.
"Terima kasih sayang," ucap Sandra.
Benekditus hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan Sandra pun membalas senyuman Benekditus.
"Kita periksa ke dokter kandungan yuk?" ajak Sandra sambil bangun dari ranjang dengan di bantu suaminya.
"Mami kuat berdiri? Kalau tidak kuat Papi akan mencari kursi roda," ucap Benekditus.
"Mami kuat kok," jawab Sandra.
"Baiklah kalau begitu kita ke ruang dokter kandungan," ucap Benekditus.
"Semoga anaknya kembar," ucap Daddy Brian penuh harap karena kebahagiaan saudaranya merupakan kebahagiaan juga buat dirinya.
"Kalau seandainya tidak kembar, jangan kecewa kalian bikin lagi," ucap Daddy Brian usil.
Bugh
"Daddy," ucap Mommy Calista.
"Hehehehe.."
Benekditus dan Sandra hanya tersenyum kemudian mereka keluar dari ruang perawatan menuju ke ruang dokter kandungan.
"Semoga saja anaknya kembar," ucap Mommy Calista penuh harap.
"Mudah-mudahan saja karena Benekditus sangat menginginkan anak kembar,'' ucap Daddy Brian .
"Oh ya Dad, bagaimana dengan ke dua orang tua Clarisa?" tanya Mommy Calista yang sudah tahu pasti suaminya melakukan sesuatu ke mereka.
"Sudah Daddy hukum," jawab Daddy Brian.
__ADS_1
"Pasti Daddy menghukum mereka sangat sa dis," ucap Mommy Calista yang bisa menebak apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Mereka pantas mendapatkannya," jawab Daddy Brian .
"Kenapa tidak di tembak saja Dad?" tanya Mommy Calista yang tidak tega membayangkan hukuman yang mereka terima.
"Terlalu enak buat mereka," jawab Daddy Brian .
"Dad," panggil Mommy Calista.
"Ya," jawab Daddy Brian dengan singkat.
"Bisakah Daddy menghilangkan jiwa psychophat Daddy?" tanya Mommy Calista penuh harap.
"Sebenarnya jiwa psychophat Daddy sudah lama tidur tapi ketika ada orang yang menyentuh dalam arti menyakiti salah satu keluarga Daddy maka Daddy tidak segan-segan untuk menghukum mereka," jawab Daddy Brian .
"Tapi bisakah hukumnya berdasarkan kesalahan yang diperbuatnya?" tanya Mommy Calista.
"Maksudnya?" tanya Daddy Brian.
"Jika Dia melakukan kesalahan kecil kasih kesempatan Dia untuk memperbaiki kesalahannya. Jika kesalahannya sedang hukum Dia dengan membuat dirinya menjadi miskin dan seandainya Dia sadar untuk memperbaiki kesalahannya kembalikan semua hartanya tanpa terkecuali dan yang terakhir jika kesalahannya terlalu berat seperti orang tua Ririn langsung tembak ma ti saja karena sudah berulang kali diberikan kesempatan," ucap Mommy Calista dengan nada lembut sambil menggenggam tangan suaminya.
Daddy Brian menghembuskan nafasnya dengan perlahan karena bagaimanapun jika jiwa psychophat nya bangun maka dirinya tidak bisa mengontrol emosi nya dan langsung menyiksanya hingga orang tersebut menginginkan kematian.
"Daddy akan mencobanya," ucap Daddy Brian akhirnya.
"Daddy pasti bisa melakukan apa yang Mommy minta," ucap Mommy Calista sambil tersenyum.
"Terima kasih Mom," jawab Daddy Brian .
"Terima kasih untuk apa?" tanya Mommy Calista.
"Terima kasih karena sudah mau menerima Daddy apa adanya tanpa ada rasa takut sedikitpun jika Daddy melukai Mommy. Terima kasih juga ketika Daddy hampir saja melukai Mommy, Mommy tidak pergi malah memaafkan Daddy tanpa berpikir dua kali," Jawab Daddy Brian .
"Karena Mommy sangat mencintai Daddy dan mau menerima apa adanya Daddy," jawab Mommy Calista.
"Apa yang membuat Mommy mencintai Daddy dan mau menerima Daddy apa adanya?" tanya Daddy Brian .
"Karena Daddy sangat tulus mencintai Mommy dan selalu melakukan apapun yang Mommy minta. Perhatian dan kasih sayang Daddy sama Mommy dan anak-anak membuat Mommy semakin mencintai Daddy dan mau menerima Daddy apa adanya," jawab Mommy Calista sambil tersenyum dan mengusap pipi suaminya.
Grep
Daddy Brian memeluk tubuh istrinya dengan perasaan bahagia dan Mommy Calista pun membalas pelukan suaminya sambil mengusap punggung suaminya dengan lembut.
__ADS_1
'Sampai kapanpun Aku tidak pernah takut karena Aku sangat mencintaimu.' Ucap Mommy Calista dalam hati.
'Demi istriku, Aku akan berusaha menghilangkan jiwa psychophat ku karena Aku sangat mencintai istriku.' Ucap Daddy Brian dalam hati.