Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya

Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya
Mana Calista?


__ADS_3

"Calista." Panggil Brian setelah beberapa saat dirinya berpikir tanpa menjawab pertanyaan Calista.


"Ya." Jawab Calista singkat.


Brian menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menarik dagu Calista agar bisa menatap wajah cantik Calista .


"Jika seandainya Kakak anak orang kaya, apa tanggapanmu?" Tanya Brian.


"Pffftttt..."


"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Brian dengan wajah kesal sambil melepaskan tangannya yang tadi memegang dagunya.


"Habis Kakak lucu." Jawab Calista dengan wajah polos.


"Lucu kenapa?" Tanya Brian sambil menatap tajam ke arah Calista namun Calista hanya tersenyum tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Kalau memang Kak Brian anak orang kaya kenapa mesti menyamar menjadi pria ..." Ucap Calista menggantungkan kalimatnya.


Brian yang mengerti kalimat selanjutnya dari perkataan Calista membuat Brian kembali menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Karena Kakak mencari seorang gadis yang benar-benar tulus sama Kakak dan Kakak sudah menemukannya yaitu kamu." Jawab Brian dengan jujur.


"Jika ada seorang gadis dan gadis itu melakukan hal yang sama, apakah Kak Brian juga menerima gadis itu?" Tanya Calista sambil memundurkan tubuhnya agak menjauh dari Brian.


"Tentu saja tidak, Kakak sudah memilih dirimu jadi mana mungkin hati kakak diberikan untuk gadis lain." Jawab Brian dengan tegas sambil memiringkan tubuhnya untuk menatap Calista karena Calista memundurkan tubuhnya.


"Jika ternyata aku sama seperti gadis lainnya, apakah Kak Brian akan tetap memilihku? Atau mencari lagi seseorang yang benar-benar tulus dan lebih baik dariku?" Tanya Calista sambil turun dari sofa.


"Kak Brian tahu, aku sangat membenci pria kaya di mana mereka bisa merendahkan orang tanpa memikirkan perasaan apakah orang itu terluka atau tidak." Sambung Calista sambil menatap ke arah Brian dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak semua orang seperti itu." Jawab Brian.


"Aku tahu tapi dari sekian banyak orang yang aku kenal hampir semuanya sama." Ucap Calista sambil berjalan dengan mundur.


"Dulu orang tuaku sangat bahagia dan pekerja keras hingga ke dua orang tuaku kaya tapi apa yang aku dapat? Ayahku selingkuh hingga membawa selingkuhannya bersama anak selingkuhannya hingga membuat ibuku meninggal dunia padahal sebagian harta yang dimiliki milik keluarga besar dari Ibuku." Ucap Calista.


"Saat itu aku hanya berharap bisa bertemu dengan pria kaya agar aku bisa keluar dari neraka di mana aku diperlakukan tidak adil oleh Ayahku dan juga siksaan dari Ibu tiri ku bersama adik tiri ku. Hingga akhirnya aku dipertemukan seseorang pria tapi apa yang Aku dapatkan? Dia selingkuh dengan adik tiriku." Sambung Calista dengan suara tercekat.


"Aku yang tidak pernah mendapatkan keadilan dan kasih sayang yang tulus membuatku pergi dari rumah. Aku melamar kerja tapi hampir semua pemilik restoran menghina diriku karena pakaianku jelek." Sambung Calista.


"Ketika aku sudah mendapatkan pekerjaan dan nunggu besok akan dijadikan koki tetap dan gaji akan dinaikkan tapi itu hanya sebuah mimpi. Aku di fitnah dan orang kaya itu merendahkan aku di tambah menghina diriku di depan banyak orang.'' Ucap Calista.


Calista menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk menghilangkan rasa sesak.


"Saat itu Aku sangat kecewa dan rasanya ingin berteriak dan menangis namun Aku berusaha untuk tidak melakukannya. Ketika Aku pergi dari restoran tersebut namun tanpa Aku duga datang keluargaku mereka juga sama merendahkan ku bahkan pria brengs*k itu ikut merendahkan aku." Ucap Calista.


"Kak Brian tahu, Ayahku hanya menatapku dengan tatapan dingin dan datar tanpa memperdulikan perasaanku ketika semua orang menghina diriku." Sambung Calista.


Tes


Tes


Calista yang tidak bisa menahan amarahnya dan kesedihan secara bersamaan membuat Calista mengeluarkan air matanya membuat Brian tersentak dan langsung berdiri kemudian berjalan ke arah Calista.


"Kak Brian ingat waktu kita di rumah kontrakan? Di mana semua orang merendahkan aku dan mengusir diriku dengan alasan tidak jelas padahal seumur hidupku, Aku tidak pernah mengusik orang lain tapi kenapa Aku selalu di usik? Apa salahku? Ibu tiri ku merebut posisi Ibuku tapi kenapa Aku selalu di usik? Adik tiriku telah merebut kasih sayang dari Ayahku, tapi kenapa Dia juga mengusik ku dengan merebut mantan kekasihku, apa salahku? Aku sudah melepaskan mereka untuk mereka, tapi kenapa mereka juga masih tidak melepaskanku?" Tanya Calista beruntun.


Grep


Brian yang tidak tega Calista menangis terlebih ucapan Calista membuat hatinya sangat sakit sekali sekaligus marah dalam waktu bersamaan. Membuat Brian memeluk tubuh Calista sambil mengusap punggung Calista.


Hatinya sangat sakit dan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Calista sekaligus marah terhadap orang-orang yang telah membuat Calista menderita.

__ADS_1


"Kakak pasti ingat dengan perkataan Kakak waktu itu yang mengatakan : Pemilik apartemen ini masih single dan mencari seorang istri, apakah kamu berminat? Kalau berminat Kakak akan memperkenalkan dirimu dengan temanku." Ucap Calista mengulangi perkataan Brian sambil membalas pelukan Brian.


''Ya Kakak ingat." Jawab Brian sambil mendorong perlahan tubuh Calista.


"Lalu aku menjawab : Sayangnya aku tidak berminat karena untuk sementara ini aku ingin berkerja dengan keras dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya." Ucap Calista sambil memeluk tubuh Brian.


Karena pelukan Brian membuat dirinya nyaman dan terlindungi. Selama ini Calista menginginkan pelukan seseorang agar mengurangi rasa kesedihan yang teramat sangat.


"Karena Aku tidak ingin di hina oleh keluargaku, mantan kekasihku dan juga orang lain karena aku miskin." Sambung Calista.


"Sstttttt ... Sudah, jangan di ingat lagi karena mulai sekarang dan seterusnya tidak ada lagi orang yang akan menghinamu lagi." Ucap Brian dengan nada lembut sambil membalas pelukan Calista.


"Aku hanya minta satu hal jangan pernah untuk melukai hatiku karena aku sangat lelah." Ucap Calista sambil memejamkan matanya.


"Kakak janji untuk tidak menyakiti ataupun melukai hatimu." Ucap Brian dengan tegas sambil membelai punggung Calista dengan lembut.


"Terkadang Aku ingin tidur dan tidak bangun lagi." Ucap Calista.


"Jangan katakan itu karena Kakak tidak suka terlebih Kakak sangat tulus mencintaimu dan mulai sekarang dan seterusnya tidak akan lagi orang yang menghinamu." Ucap Brian sambil masih mengusap punggung Calista dengan lembut.


Sentuhan Brian membuat Calista tenang hingga tidak membutuhkan waktu lama Calista tidur dengan pulas dalam posisi berdiri.


Brian yang merasakan tubuh Calista berat membuat Brian mendorong perlahan tubuh Calista.


'Rupanya sudah tidur.' Ucap Brian dalam hati sambil menggendong Calista ala bridal style menuju ke arah tangga.


'Kamu sangat percaya padaku dan tidak takut jika seandainya aku melukaimu. Terima kasih atas kepercayaan yang kamu berikan padaku dan percayalah aku bukan pria seperti mereka.' Sambung Brian dalam hati sambil membuka pintu kamarnya lalu mendorong perlahan pintu kamarnya dengan menggunakan salah satu kakinya.


Brian berjalan ke arah ranjang kemudian meletakkan perlahan tubuh Calista ke ranjang. Brian seperti biasa melepaskan satu persatu pakaiannya hingga menyisakan celana boxernya kemudian berbaring di ranjang.


Brian memeluk tubuh Calista dan menjadikan tangannya sebagai bantalan kepala Calista. Brian menyelimuti tubuh mereka kemudian mengecup kening Calista dengan lembut.


'Besok adalah hari pertama kamu akan bekerja dan selama kamu bekerja tidak ada orang yang berani menghina ataupun merendahkan dirimu.' Ucap Brian dalam hati sambil memejamkan matanya.


Malam menjelang pagi, suara burung saling bersahutan dan perlahan Calista menggeliatkan tubuhnya di mana ke dua tangan dan ke dua kakinya direntangkan hingga tanpa sadar tangan kanan Calista menampar wajah Brian.


Plak


"Aduh!" Teriak Brian.


Calista dan Brian serempak membuka matanya, Calista melihat Brian sedang mengusap pipinya yang habis di pukul oleh Calista.


Tap


Fiuhhh


Calista langsung bangun kemudian mengusap wajah Brian dengan perasaan bersalah sambil meniup wajah Brian.


"Maaf Kak, aku benar-benar tidak sengaja." Ucap Calista merasa bersalah.


Grep


"Sakit tahu." Ucap Brian dengan nada manja sambil memeluk tubuh Calista.


"Maaf, apa yang harus aku lakukan agar menghilangkan rasa sakitnya?" Tanya Calista merasa bersalah tanpa memperdulikan pelukan Brian.


"Ada yang bisa kamu lakukan tapi aku yakin kamu menolaknya." Ucap Brian.


"Aku tidak akan menolaknya, apapun yang Kak Brian minta akan aku lakukan." Jawab Calista dengan nada yakin.


"Apapun?" Tanya Brian.

__ADS_1


"Ya, apapun." Jawab Calista.


"Baik dan kamu jangan protes." ucap Brian.


"Baik." Jawab Calista tanpa curiga sedikitpun.


Brian membalikkan tubuhnya dan kini Calista berada di bawah sedangkan dirinya berada di atas. Brian mencium singkat bibir Calista kemudian pindah ke leher Calista dan memberikan tanda kepemilikan.


Tangan kanan Brian melepaskan satu persatu kemeja yang dikenakan oleh Calista sambil mencium dan menggigit leher Calista membuat Calista mengeluarkan suara merdunya.


Entah bagaimana kini tubuh mereka polos tanpa sehelai benangpun. Hingga dua belas menit kemudian Brian mengarahkan tombak saktinya untuk digesek - gesekkan ke goa milik Calista tanpa dimasukkan hingga beberapa saat keluarlah lahar dari tombak saktinya.


"Kamu juga ingin dikeluarkan?" Tanya Brian tepat di telinga Calista.


Calista hanya menganggukkan kepalanya membuat Brian memasukkan jari telunjuk dan berlanjut ke jari tengah dan terakhir jari manis. Tubuh Calista menggelinjang hebat hingga akhirnya Calista mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya.


Cup


"Kalau kita sudah resmi menikah barulah adik kecilku aku masukkan." Ucap Brian sambil menggulingkan tubuhnya ke arah samping.


Brian menggendong tubuh polos Calista untuk di bawa ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka yang lengket.


Lima belas menit kemudian mereka sudah selesai mandi dan masing - masing memakai jubah handuk.


"Kamu nanti berangkat kerja bareng Kakak kerja atau berangkat sendiri?" Tanya Brian.


"Bareng juga boleh." Jawab Calista.


"Ok, sekarang pakailah pakaian yang aku belikan." Ucap Brian.


"Berarti apa yang kemarin Kakak katakan benar kalau Kakak pura-pura menyamar menjadi pria miskin?" Tanya Calista tanpa menjawab ucapan Brian.


Grep


"Betul dan maaf kalau Kakak membohongi dirimu. Percayalah sama Kakak kalau Kakak bukan pria brengs*k seperti pria diluaran sana." Ucap Brian sambil memeluk tubuh Calista.


"Minggu depan kamu akan Kakak perkenalkan dengan keluarga besar Kakak." Sambung Brian.


"Kalau keluarga Kakak menolakku bagaimana?" Tanya Calista sambil membalas pelukan Brian.


"Keluarga Kakak sangat baik jadi kamu tenang saja. Sekarang kamu ganti pakaian dan pakai pakaian yang Kakak belikan." Ucap Brian mengulangi perkataannya sambil melepaskan pelukannya.


Calista juga melepaskan pelukannya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan Brian sendirian.


"Tenanglah Sayang, akan ada kejutan untukmu." Ucap Brian sambil tersenyum kemudian menggenggam erat ke dua tangannya untuk mengurangi kemarahan terhadap keluarga Calista.


Brian akan membalaskan dendam untuk Calista karena mereka telah membuat Calista menderita dan dirinya ingin agar Calista tidak merasakan kesedihan lagi.


Selesai mengatakan hal itu Brian membalikkan badannya kemudian berjalan ke arah lemari pakaiannya untuk mengambil pakaian kerjanya.


Dua puluh lima menit kemudian Brian sudah selesai memakai pakaian kerja kemudian keluar dari kamarnya menuju ke ruangan makan.


Brian melihat Calista sudah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka berdua membuat Brian tersenyum bahagia.


Grep


"Kakak jadi tidak sabar untuk secepatnya menikah denganmu." Ucap Brian sambil memeluk Calista dari arah belakang.


"Kak Brian." Ucap seorang gadis dengan nada kesal sambil melepaskan pelukan Brian.


Deg

__ADS_1


Jantung Brian berdetak kencang kemudian membalikkan badan gadis tersebut dan matanya membulat sempurna.


"Kenapa kamu ada di sini? Mana Calista?" Tanya Brian dengan wajah kesal.


__ADS_2