Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya

Calon Suamiku Ternyata Sangat Kaya
Apa yang terjadi sebenarnya?


__ADS_3

"Perut ku sangat mual ketika mencium bau masakan itu," Jawab Clarisa jujur.


"Bukannya bau masakan nya harum?" tanya Adelio dengan wajah bingung.


"Tapi aku menciumnya membuat perut ku sangat mual." Jawab Clarisa.


"Kalau begitu Kamu mau makan apa?" Tanya Adelio.


"Aku ingin makan mie ayam dekat sekolah ku dulu," pinta Clarisa.


"Mie ayam? Tidak itu makanan tidak sehat," Tolak Adelio dengan nada tegas.


"Ya sudahlah aku tidak mau makan, aku ingin tidur saja," ucap Clarisa dengan nada kesal sambil membalikkan badannya.


Grep


Adelio menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian memeluk Clarisa dari arah belakang.


"Sayang, pagi - pagi makan mie ayam kurang bagus bagaimana kalau makanannya di ganti yang lain," pinta Adelio dengan nada lembut.


"Baiklah kalau begitu aku ingin makan masakan Daddy," ucap Clarisa.


"Baiklah kalau begitu kita pergi ke rumah orang tuamu?" ucap Adelio sambil melepaskan pelukannya.


"Kenapa ke rumah orang tuaku?" tanya Clarisa sambil berjalan mengikuti langkah suaminya dengan wajah bingung pasalnya orang tuanya sudah meninggal dunia.


"Lho bukannya tadi bilang ingin makan masakan Daddy? makanya kita pergi ke rumah orang tuamu," jawab Adelio yang lupa kalau ke dua mertuanya sudah meninggal.


"Bukan Daddy ku tapi Daddynya darling," jawab Clarisa menjelaskan.


"Apa???" tanya Adelio dengan nada terkejut sambil menghentikan langkahnya.


bruk


Clarisa yang berjalan di belakang suaminya tidak bisa menghentikan langkahnya ketika suaminya mendadak menghentikan langkahnya membuat Clarisa menabrak punggung suaminya.


Grep


Clarisa nyaris terjatuh jika saja Adelio tidak memeluknya.


"Darling kenapa berhenti mendadak?" tanya Clarisa dengan nada kesal.


"Habis aku kaget ketika sayang ku mengatakan meminta dimasakkan sama Daddy," jawab Adelio sambil melepaskan pelukannya.


"Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin merasakan masakan Daddy," jawab Clarisa.


"Apalagi bukankah Sayangku tahu kalau ke dua orang tua ku sudah meninggal?" Tanya Clarisa.


"Maaf Kakak lupa." Jawab Adelio.


"Tidak apa-apa, Kita ke rumah Daddy yuk." Ajak Clarisa.


"Tapi ...." Ucapan Adelio terpotong oleh Clarisa.


"Kalau tidak bisa, Aku ingin tidur saja karena tidak ada yang sayang sama Aku," ucap Clarisa dengan mata berkaca-kaca ketika melihat kalau Adelio merasakan keberatan.


Adelio menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian mengambil ponsel nya dari saku jas nya untuk menghubungi Mommy Calista dan Sambungan pertama langsung di angkat.


("Hallo sayang," panggil Mommy Calista dengan nada lembut).


("Mommy!!"teriak Daddy Brian dengan nada cemburu sambil merebut ponsel milik istrinya).


("Hei jangan telepon istriku!!" Bentak Daddy Brian)


Tut tut tut


("Dad ..." ucapan Adelio terpotong karena Daddy Brian memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak).


"Ahhhhhh.... sudah tua juga masih cemburu," ucap Adelio dengan nada kesal.


"Daddy, kenapa marah - marah?" tanya Clarisa dengan wajah bingung.


"Biasa Daddy, begini saja kita ke dokter terus kita pergi ke rumah orang tua ku," usul Adelio.


"Ok," jawab Clarisa singkat.


Clarisa dan Adelio kemudian pergi meninggalkan mansion mereka menuju ke rumah sakit. Di tempat berbeda tepatnya di mansion milik Daddy Brian di mana Mommy Calista sedang menatap kesal ke arah suaminya pasalnya ponselnya di rebut di tambah ponselnya di banting hingga hancur berkeping-keping.


"Kenapa menatap Daddy seperti itu?" tanya Daddy Brian sambil menahan amarahnya.


"Daddy, Mommy kan lagi bicara dengan ..." ucapan Mommy Calista terpotong oleh suaminya.


"Selingkuhan ... Betulkan?" tanya Daddy Brian sambil menahan amarahnya.


"Apakah Mommy serendah itu di mata Daddy?" tanya Mommy Calista dengan mata berkaca-kaca.


"Kalau bukan lalu kenapa memanggil dengan sebutan kata sayang?" tanya Daddy Brian sambil memalingkan wajahnya.


Sesungguhnya Daddy Brian tidak tega melihat mata istrinya berkaca-kaca tapi karena cemburu membuat Daddy Brian tidak memperdulikannya.


"Memang nya salah memanggil ..." ucapan Mommy Calista terpotong kembali oleh suaminya.


"Salah, Mommy sudah menikah dengan Daddy jadi tidak boleh mencintai pria lain," ucap Daddy Brian.


"Mommy tahu, tapikan ..."ucapan Mommy Calista terpotong kembali oleh suaminya membuat Mommy Calista menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Tidak ada tapi-tapian," jawab Daddy Brian sambil mengeluarkan pisau lipatnya dengan mata mendadak berubah menjadi merah.


"Daddy akan mem bu nuh Mommy?" tanya Mommy Calista dengan wajah terkejut.


tes


tes


"Betul sekali setelah itu Daddy akan mem bu nuh pria itu," ucap Daddy Brian tanpa memperdulikan air mata istrinya yang menetes.

__ADS_1


"Apakah Daddy tega membunuh ..." ucapan Mommy Calista terpotong oleh Daddy Brian.


"Kenapa ti.."ucapan Daddy Brian terpotong oleh istrinya.


"Berarti Daddy tidak sayang dengan kami," jawab Mommy Calista.


"Maksud Mommy? Mommy sangat sayang dan mencintai selingkuhan Mommy??" tanya Daddy Brian dengan nada satu oktaf sambil mengarahkan pisau lipat nya ke arah perut istrinya.


"Daddy boleh melakukan apapun terhadap Mommy tapi Mommy mohon jangan lakukan untuk ..."ucapan Mommy Calista lagi - lagi terpotong.


"Mem bu nuh selingkuhan Mommy," ucap Daddy Brian.


"Daddy, bisakah Mommy bicara tanpa perlu memotong pembicaraan Mommy, sekali ini saja," pinta Mommy Calista sambil menyatukan ke dua tangannya.


"Baik, katakan," ucap Daddy Brian sambil menahan amarah nya.


"Daddy boleh melakukan apapun terhadap Mommy termasuk menyiksa dan membunuh Mommy tapi Mommy mohon jangan lakukan untuk ke dua anak kita Adelio dan Adelia bersama pasangan masing-masing." mohon Mommy Calista.


"Tentu saja tidak, karena mereka adalah anak kesayangan Daddy." jawab Daddy Brian.


"Lalu kenapa Daddy ingin mem bu nuh Adelio?" tanya Mommy Calista.


"Maksud Mommy apa? Daddy tidak mungkin melakukan itu," jawab Daddy Brian dengan wajah bingung.


"Tadi Daddy bilang setelah membunuh Mommy mau mem bu nuh Adelio," ucap Mommy Calista.


"Jadi yang menelepon Mommy tadi itu Adelio?" tanya Daddy Brian yang mulai mengerti arah pembicaraan Mommy Calista.


"Iya benar Adelio yang menghubungi Mommy, jadi Mommy minta jangan mem bu nuh putra kita cukup Mommy saja, " jawab Mommy Calista.


Mommy Calista memejamkan matanya sambil mengangkat ke dua tangannya ke arah samping kanan dan kiri seakan pasrah jika hari ini dirinya di bu nuh oleh suaminya.


Cling


Grep


Daddy Brian menjatuhkan pisau lipatnya kemudian memeluk tubuh mungil istrinya. Dirinya sangat menyesal karena tidak bisa menahan amarahnya.


"Maafkan Daddy, Daddy tidak bisa mengendalikan amarah ketika Mommy mengatakan sayang waktu Mommy menerima telepon. Mommy boleh menghukum Daddy tapi Daddy mohon jangan tinggalkan Daddy," mohon Daddy Brian.


"Mommy tidak akan menghukum Daddy atau pun meninggalkan Daddy karena Mommy sangat mencintai Daddy. Mommy hanya minta satu hal percaya lah pada Mommy apapun yang terjadi Mommy akan selalu setia dan selalu mencintai Daddy hingga Mommy menutup mata untuk selama - lamanya," ucap Mommy Calista sambil membalas pelukan suaminya.


"Jika Mommy pergi maka Daddy juga ikut," ucap Daddy Brian.


"Daddy harus kuat apalagi anak - anak kita membutuhkan Daddy," ucap Mommy Calista.


"Ssttt ... Jangan bicara tentang kematian karena Daddy sangat takut kehilangan Mommy," ucap Daddy Brian sambil mendorong perlahan tubuh Mommy Calista.


"Mommy juga takut kehilangan Daddy," ucap Mommy Calista.


"Putra kita nelpon Mommy mau mengobrol tentang apa?" tanya Daddy Brian mengalihkan pembicaraan.


"Mommy mana tahu, pas Adelio telepon ponsel milik Mommy di rebut dan di ban ting sama Daddy," jawab Mommy Calista dengan nada kembali kesal.


"Maaf Mommy, nanti Daddy beliin ponsel baru lagi," ucap Daddy Brian dengan wajah bersalah.


"Baik," jawab Daddy Brian sambil mengambil ponselnya dari saku jasnya.


'Lain kali aku akan hati - hati dalam bicara karena kini aku tahu kalau suamiku sangat mudah cemburu.' ucap Mommy Calista dalam hati.


Daddy Brian menghubungi putra pertamanya dan sambungan ke dua di angkat oleh Clarisa.


("Hallo dad," panggil Clarisa).


("Tadi Adelio telepon Mommy? Ada apa?" tanya Daddy Brian penasaran).


("Itu dad, Clarisa ingin Daddy ..."ucap Clarisa menggantungkan kalimatnya).


("Clarisa ingin Daddy melakukan apa?" tanya Daddy Brian tambah penasaran).


("Ini dad, tidak tahu kenapa tiba - tiba Clarisa ingin makan masakan buatan Daddy," ucap Clarisa dengan suara pelan namun terdengar jelas di telinga Daddy Brian).


("Kok tumben Clarisa ingin masakan buatan Daddy?" tanya Daddy Brian sambil menatap ke arah istrinya).


("Apa Clarisa hamil dad?" tanya Mommy Calista).


("Kamu hamil Clarisa?" tanya Daddy Brian).


("Clarisa kurang tahu dad, mom," jawab Clarisa ).


("Sekarang kalian di mana?" tanya Daddy Brian).


("Kami mau pergi ke rumah sakit dad mau mengecek ke dokter kandungan," jawab Clarisa).


("Semoga saja kamu hamil jadi kami punya cucu yang tampan dan cantik," ucap Daddy Brian).


("Kok Daddy bisa menebak kalau Aku hamil bayi kami kembar? Kan belum di cek?" tanya Clarisa).


("Hanya menebak saja, siapa tahu kalian punya anak kembar seperti kami," jawab Daddy Brian).


("Amin dad. Maaf dad, kami sudah sampai dan doakan semoga aku hamil," ucap Clarisa).


("Daddy dan Mommy akan mendoakan semoga kamu hamil dan nanti kamu datang bersama Adelio ke mansion kami untuk merasakan masakan Daddy," ucap Daddy Brian).


("Benarkah dad? Tapi kalau Clarisa ternyata belum hamil bagaimana dad?" tanya Clarisa dengan nada sedih).


("Kalian buat lagi sampai jadi anak,"jawab Daddy Brian dengan vulgar).


Bugh


("Daddy," panggil Mommy Calista sambil memukul bahu suaminya namun suaminya tidak marah melainkan malah tertawa).


("Pffftttt...")


("Maaf dad, aku tutup teleponnya dulu," ucap Clarisa sambil menggelengkan kepalanya).

__ADS_1


("Ok," jawab Daddy Brian singkat).


Tut Tut Tut


Sambungan komunikasi langsung terputus kemudian Clarisa memasukkan kembali ponselnya di saku jas suaminya.


"Ada apa sayang?" tanya Adelio karena melihat wajah istrinya memerah menahan malu.


"Kata Daddy kalau aku belum hamil juga, Daddy meminta kita untuk bikin terus sampai aku hamil," ucap Clarisa sambil menutup wajahnya.


"Adelio setuju usulan Daddy kalau nanti hasilnya negatif di kantor kita buat lagi sampai istriku hamil," ucap Adelio sambil membuka pintu mobil kemudian turun dari mobil begitu pula dengan Clarisa.


Bugh


"Itu sih maunya darling," ucap Clarisa sambil memukul bahu suaminya namun suaminya tidak marah melainkan malah tertawa.


"Pffftttt,"


Grep


"Tapi istriku suka kan," goda Adelio sambil memeluk Clarisa dari arah samping.


"Darling," ucap Clarisa dengan wajah memerah sambil membalas pelukan suaminya dari arah samping.


Adelio tersenyum bahagia melihat wajah istrinya yang sangat menggemaskan dimatanya dalam hatinya sangat bersyukur mempunyai istri seperti Clarisa.


"Darling, aku sangat bahagia karena kamu hidupku lebih berwarna," ucap Adelio.


"Aku juga sangat bahagia mempunyai suami yang sangat tampan dan juga mempunyai mertua yang sangat baik padaku," ucap Clarisa sambil tersenyum bahagia.


Adelio membalas senyuman istrinya sambil sekali-sekali mengecup pucuk kepala istrinya. Hingga banyak para gadis dan wanita sangat iri dengan keromantisan Adelio dan Clarisa.


Tanpa mereka sadari sepasang mata menatapnya dengan penuh kebencian terhadap Clarisa hingga wanita itu berjalan ke arah mereka berdua.


"Apa kabar sahabatku?" tanya Ririn sambil melirik ke arah Adelio.


Wanita yang menatap Clarisa adalah sahabatnya yang dulu menjebak Clarisa dengan Brian yang bernama Ririn mantan kekasih Adelio. Adelio yang melihat kedatangan Ririn sangat terkejut membuat Adelio memeluk istrinya secara posesif.


"Ririn? Kamu kemana saja?" tanya Clarisa sambil tersenyum bahagia karena dapat bertemu dengan sahabatnya.


"Lebih baik kita langsung ke dokter kandungan," ucap Adelio dengan nada dingin.


"Kamu hamil?" tanya Ririn dengan wajah terkejut sambil menahan tangan Clarisa.


"Benar, memangnya kenapa?" tanya Adelio sambil menatap Ririn dengan penuh kebencian dan menepis tangan Ririn.


"Betul Aku lagi hamil, memangnya kenapa?" tanya Clarisa secara bersamaan namun ucapannya sedikit beda.


"Apakah kak Adelio mencintai Clarisa dari pada aku?" tanya Ririn dengan mata berkaca-kaca.


"Apa maksudmu Rin? Kalian saling kenal?" tanya Clarisa dengan wajah sangat terkejut.


"Tentu saja kami saling kenal, kak Adelio adalah kekasihku, kenapa Kamu merebut kekasihku?" tanya Ririn sambil menatap sahabatnya dengan tatapan penuh kecewa.


"Maaf Aku tidak tahu kalau kalian pasangan kekasih dan sejak kapan kalian menjadi pasangan kekasih?" tanya Clarisa sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Apakah Kamu menikah dengan kekasihku?" tanya Ririn tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya.


"Tentu saja kami menikah karena kami saling mencintai," jawab Adelio sambil menahan pelukannya karena istrinya ingin melepaskan pelukannya.


Grep


Ririn mengangkat tangannya hendak menampar Clarisa namun tangan Adelio menahannya kemudian mendorongnya dengan kasar.


bruk


"Jangan pernah sekali - sekali menyakiti istriku!" bentak Adelio dengan nada dingin dan datar.


"Ririn," panggil Clarisa berusaha melepaskan pelukan Adelio lalu berjalan ke arah Ririn.


Ririn yang melihat sahabatnya ingin menolongnya berusaha bangun dan mendorong sahabatnya.


Grep


Adelio yang melihat istrinya di dorong langsung menahan tubuh istrinya agar tidak terjatuh.


"Clarisa, kenapa Kamu jahat padaku? Aku ini sahabat baikmu dan keluargaku memberikan tumpangan untukmu tapi dengan tega nya Kamu merebut kekasihku!" bentak Ririn dengan suara keras sambil menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.


Ucapan Ririn membuat para pengunjung dan petugas rumah sakit menatap ke arah mereka dan berjalan ke arah mereka bertiga membuat Ririn tersenyum bahagia dan pura - pura mengeluarkan air mata buayanya.


"Hiks ... Hiks ... Kenapa sahabatku tega padaku? Apa salahku? Kenapa orang yang sudah Aku anggap saudara bahkan orang tuaku sudah menganggap dirimu sebagai putrinya dengan teganya menusuk diriku dari belakang?" tanya Ririn beruntun.


"Ririn, sungguh Aku tidak tahu kalau kalian adalah pasangan kekasih." ucap Clarisa merasa bersalah.


"Bukannya hiks.. hiks ... hiks... aku sudah pernah bilang kalau kak Adelio adalah kekasihku kenapa Kamu berpura-pura?" tanya Ririn pura-pura menangis.


"Tidak aku sangka jadi sahabat kok jahat banget tega merebut kekasih sahabatnya," celetuk pengunjung pertama.


"Iya, kayak tidak ada pria lain," sambung pengunjung ke dua.


"Dasar wanita mu ra han!!!" teriak mereka serempak.


Grep


Clarisa yang sangat malu berusaha melepaskan pelukan suaminya namun suaminya yang awalnya memeluk dari arah samping kini memeluknya saling berhadapan untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan untuk istrinya karena tubuh istrinya gemetar dengan ucapan para pengunjung yang menghina istrinya.


"CUKUP! Kamu bilang Sahabatmu tega dan jahat!!! Justru Kamu lah yang paling jahat, Kamu dengan teganya menjebak Sahabatmu untuk diberikan ke pria lain tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun." Ucap Adelio dengan nada satu oktaf.


"Apa maksud kak Adelio?" tanya Clarisa dengan wajah bingung dan merubah panggilan suaminya.


"Clarisa kamu jangan percaya dengan apa yang dikatakan oleh kak Adelio," jawab Ririn dengan wajah pucat.


"Apa perlu aku buktikan? Kalau aku berbohong atau tidak? Oh ya satu lagi aku juga ada bukti selama kamu tinggal di luar negri, Kamu tidur sekaligus dengan dua pria. Jadi siapakah wanita mu ra han Sahabatmu atau Kamu?" tanya Adelio sambil menatap Ririn dengan tatapan menghina.


Ririn langsung terdiam dan tidak berani bicara hanya wajahnya langsung pucat pasi membuat orang - orang menghina Ririn karena telah berani berbohong.

__ADS_1


Ririn langsung pergi sambil menahan amarahnya terhadap Clarisa sedangkan Clarisa yang mendengar ucapan suaminya sangat terkejut seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya membuat Clarisa mendorong tubuh suaminya agar menatap wajahnya.


"Aku ingin kak Adelio jujur padaku, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Clarisa dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2