Catatan Sang Pendekar

Catatan Sang Pendekar
- Jalan panjang(2).


__ADS_3

Ketiganya menelan ludah saat melihat Fu Juese.


"Apa tadi itu yang barusan kudengar?"


"Apa kau ingin menantang kami, sampah? Idiot?"


Fu Juese tersenyum tipis, sudah lama sekali dia tidak mendengar orang mengatainya seperti itu.


Fu Juese mulai berlari. Dia kemudian memukul salah satu orang yang berada di dekatnya. Lantas orang itu jatuh bergulingan ke tanah, seperti apa yang mereka lakukan kepadanya sebelumnya.


Tapi tidak sepertinya, orang itu tidak pernah kembali berdiri. Dia pingsan di sana dengan sekali pukulan.


"Hi! Hiiiiiiih!"


Sekilas Fu Juese bisa mendengarkan suara teriakan histeris dari dua orang lainnya. Dia mengerti itu. Dia sendiri juga tidak pernah menyangkanya.


'Fu Juese sekarang dapat mengalahkan seorang kultivator tahap Dasar?'


Latihannya lebih keras dari mereka, bahkan tanpa absen sekalipun. Sedangkan mereka berbeda, ketiganya malas dan selalu mengeluh bahkan bolong-bolong saat berlatih.


Fu Juese kembali berlari. Dia ingin menyelesaikan semua ini dengan cepat dan kembali melanjutkan latihannya tetapi seseorang kemudian muncul.


Tep.


Pukulannya berhasil dihalau.


Fu Juese terkejut, ternyata ada seseorang lainnya di dekat sini selain ketiga orang itu.


"Aku terkejut, tidak pernah disangka, jika seorang manusia biasa bisa menandingi seorang seniman bela diri..."


Pria umur pertengahan dengan kumis lele muncul tepat di hadapannya. Dia menangkis pukulan Fu Juese dengan sangat mudah menggunakan telapak tangannya.

__ADS_1


"Siapa kau?"


"Oho, menakutkan sekali. Apakah kau masih si sampah yang sama, si bangsawan pecundang itu? Dunia akan heboh melihat ini..."


Fu Juese melotot padanya.


"Bagaimana kau mengetahui namaku?"


"Yah, siapa yang tidak mengenal salah satu anggota keluarga Fu yang Agung."


"Aku tidak menyukaimu."


Keduanya saling melihat satu sama lain untuk waktu yang cukup lama.


"Apakah kau berniat mencari gara-gara dengan kita? Kau tidak ingin masuk ke sekte kami? Kau tahu, Aku bisa merekomendasikanmu loh."


Fu Juese terdiam, dia masih bisa berkepala dingin. Keuntungan untuk menjadi murid di sekte sangat menggiurkan. Dia akan mendapatkan sejumlah uang dan menerima berbagai sumber daya langka yang bisa membuatnya semakin lebih kuat.


Fu Juese memiringkan kepalanya karena tidak mengerti.


"Aku tidak cukup bodoh, Aku bisa melihat bakatmu, bisa dikatakan kau sudah berada dibatasmu kan? Kau tidak bisa berkembang lagi..."


Fu Juese yang mendengarnya mengepalkan tangannya, sangat rapat bahkan menghasilkan suara yang gemeretak. Dia sendiri juga tahu bahwa itu merupakan kebenaran. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi. Dirinya bahkan masih belum cukup kuat untuk melawan siapapun.


"Kakak Seperguruan! Dia adalah orangnya! Dia telah menyerang kami terlebih dahulu!"


Telinga Fu Juese naik turun setelah mendengarnya. Dia berbalik untuk melihat siapa orang yang mengatakannya, tapi saat dia melakukan itu.


"Jadi begitu, kalau benar, wah, gawat..."


Tubuh Fu Juese bergetar, seorang pria dengan tinggi badan dua kali dari dirinya sudah berdiri di depannya. Dia adalah si kumis lele.

__ADS_1


"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sekarang atau itu akan menjatuhkan nama sekte kami, Sekte Barakuda Ungu..."


Buk!


Tiba-tiba Fu Juese sudah meringkuk di tanah.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uaaargh...!!!"


Rasanya sangat sesak sekali, dia tidak tahu kapan tapi si pria kumis lele itu sudah menancapkan tangannya pada perut Fu Juese.


Fu Juese banyak sekali memuntahkan air di sana. Dua berandalan yang berada di belakang juga menjadi kegirangan saat melihatnya.


"Maaf nak, tapi..."


Rambut Fu Juese ditarik ke atas. Wajahnya terlihat kusam dan berdebu, semili air masih keluar dari mulutnya. Fu Juese telah memuntahkan banyak isi perutnya.


"Aku hanya ingin ini semua cepat selesai."


Buk! Buk! Buk! Buk! Buk!


Tidak ada yang mencoba menghentikannya. Semua orang hanya melihat. Bercak darah sudah sampai mengucur dan menciprat ke tanah dan pakaiannya.


Wajah Fu Juese sudah tidak berbentuk. Tinggal ketakutan saja yang tersisa pada dirinya. Dalam dirinya dia memohon untuk di selamatkan.


Tapi, dia kemudian teringat pada tulisan di buku catatan Pak tua.


[ Ini adalah kenyataan... ]


[ Kenyataan adalah hal yang terburuk. Kenyataan memang sangat kejam. ]


[ Di dunia dimana yang terkuat yang mendapatkan segalanya ini, tidak ada yang akan menyelamatkanmu... ]

__ADS_1


[ Hanya dirimu sendiri yang bisa... Fu Juese... Jalanmu sangat panjang, tapi Aku tahu kau bisa mewujudkan harapanku... ]


__ADS_2