
Di kediaman rumah Fu Juese sekarang, semua orang sedang sangat sibuk menyiapkan sebuah penyambutan.
Hari ini Gu Lang akan pulang setelah sekian lama berada di perbatasan. Fu Juese memiliki seorang ibu yang berbakat dalam ilmu seni bela diri. Dia diagungkan dalam keluarga dan menjadi tulang punggung mereka, bahkan tingkatan seni bela dirinya sampai mengalahkan Fu Hei.
Tapi dalam tradisi keluarga ini wanita tidak dapat memimpin, sehingga tetap Fu Hei lah orang yang memegang penuh kendali atas seluruh keluarga.
Namun sosok Gu Lang tidak semudah itu bisa dilenyapkan. Dia memegang kekuasaan lebih dari 30% di keluarga. Sudah banyak orang yang mengikuti punggungnya dari belakang.
Posisinya adalah yang kedua, setelah Fu Hei. Inilah kemudian yang menjadi penyebab kenapa Fu Juese masih dapat terus tinggal di rumah.
Padahal jika itu mereka dari keluarga bangsawan lain, orang-orang seperti Fu Juese akan segera ditendang bahkan dibuang ke antah berantah, hal itu mereka lakukan demi menjaga nama baik keluarga mereka sebelum nama keluarganya semakin jatuh.
Orang-orang seperti itu dianggap sampah tidak berguna dan hanya bisa menyusahkan keluarganya.
"Keluarga, huh?"
Di dalam catatan, orang kedua yang paling dirindukan oleh Pak tua adalah ibunya, yaitu Gu Lang, istri pertama Fu Hei.
Namun sayang, Gu Lang harus mati sebelum pemberontakan terjadi. Penyebabnya tidak ada yang tahu. Waktu kematiannya adalah tiga hari dari sekarang.
Fu Juese menjadi sangat waspada. Dia harus mencegah kematian Gu Lang bagaimanapun caranya.
__ADS_1
Fu Juese juga telah menyiapkan daftar tersangka di rumah. Bisa jadi itu adalah Fu Hei, dan motifnya mungkin karena status kepemimpinan di dalam keluarga. Bisa juga istri kedua, istri ketiga, atau selir Fu Hei.
Motifnya, mereka iri kepada Gu Lang yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari suaminya.
Atau juga para pelayan dan pengawal di rumah. Semua itu masih belum jelas.
"Jadi sekarang, Aku berperan untuk mengawasi semua orang?"
Fu Juese menggaruk kepalanya karena mengerti akan seberapa menjengkelkannya itu. Pembuktian yang kedua, yaitu... kematian Gu Lang.
Dalam buku catatan, sudah disebutkan apa penyebab kematian Gu Lang. Jadi Fu Juese sedikit memiliki gambaran sekarang untuk bergerak.
Syukurlah dia berhasil mengajak Na Yueyin untuk datang ke rumah besok. Lagipula Fu Juese masih belum dapat menggunakan energi tenaga dalam sama sekali meskipun sudah mengonsumsi ulat cina Yin dan Yang langka, tapi dia rasa jika obat itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menunjukkan kemajuan.
Melawan kultivator di atas tahap < Menengah > akan mendatangkan kerugian padanya. Jadi hal itu akan dia serahkan kepada orang lain.
'Siapa sebenarnya pelaku ini?'
Fu Juese masih tampak berpikir keras sampai seseorang tiba-tiba mengejutkannya dari samping.
"Na!"
__ADS_1
"Oh. Kau sudah mau pamit?"
Fu Juese kembali ke rumah dengan ditemani Na Yueyin. Sejak kejadian si kumis lele, Na Yueyin tidak pernah membiarkan Fu Juese untuk berjalan-jalan sendirian.
"Kalau begitu, sampai jumpa."
Mereka berdua kemudian berpisah. Sebelum itu, Na Yueyin melambaikan tangannya dengan sangat kencang ke arah Fu Juese. Fu Juese pun tersenyum saat melihatnya.
Dia terlihat begitu bersemangat seperti anak kecil. Di dalam buku catatan, Na Yueyin juga dijelaskan memiliki sikap imut seperti ini.
[ Na Yueyin, dia tidak pernah bisa berhenti tersenyum. Yahh, aku suka sih. Tapi dibalik senyuman itu tersembunyi luka yang dalam... ]
Kertas yang ditulis terlihat basah. Pak tua itu sepertinya sangat rindu kepadanya sampai menangis di lembaran itu.
[ Aku pernah mendengar ceritanya. Di masa lalu, perempuan malang itu tidak memiliki siapapun. Tidak ada yang bisa berbicara kepadanya atau mengajaknya berbicara, dia juga dijauhi dan selalu dikucilkan. ]
[ Dia dianggap sebelah mata oleh keluarganya, bahkan sampai disebut-sebut sebagai 'jelmaan iblis'. Na Yueyin juga terus digunakan sebagai alat demi keluarga sampai dirinya mulai muak dan pergi dari rumah setelah pertunangannya dengan Fu Guanji. ]
Jadi itulah yang membuat Na Yueyin begitu bahagia saat bisa berbicara dengan orang lain. Itulah yang membuatnya selalu bersemangat saat sedang berada didekat Fu Juese. Dia hanya memiliki satu kebahagiaan itu saja.
[ Aku hanya bisa berharap, semoga saja Na Yueyin bisa terus bahagia selamanya. ]
__ADS_1