
Malam hari, Fu Juese akan mengurung diri dan melakukan meditasi di kamarnya sampai pagi tiba.
Dirinya sudah menjadi seorang pendekar bela diri sekarang. Meskipun baru masuk di kelas Dasar tapi kemampuan Fu Juese yang sebenarnya bahkan lebih tinggi dari itu.
Semua orang tahu jika seorang pendekar seni bela diri tidak terlalu membutuhkan tidur dan melakukan meditasi sebagai gantinya. Mereka menyerap energi alam untuk makanan inti iblisnya.
Fu Juese berhasil memperbaiki satu dari dua inti iblisnya dan diisi dengan teknik seni tubuh besi sang kaisar naga hitam.
Jadi, dia perlu memperbaiki inti iblisnya yang satu lagi untuk mempelajari seni bayangan kosong sang hantu.
Keduanya mendapatkan jumlah bintang yang paling banyak, sehingga harus secepatnya dikuasai untuk bisa menjadi lebih kuat lagi.
Paginya Fu Juese bangun dan kembali bersiap-siap melakukan latihannya, tapi sebelum itu entah kenapa di dalam kamarnya yang sempit itu tiba-tiba ketambahan sosok penunggu.
Penunggu itu terlihat mungil dan kecil, dia juga memiliki rambut berwarna pirang yang sama persis dengan Fu Juese.
"Fu Ning?"
"Selamat pagi, kakak."
Fu Ning berdiri di tengah kamar, dia langsung memberikan hormat dengan tersenyum dan menunduk sopan kepada kakaknya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Hm? Berdiri?"
"Kumohon, seriuslah."
"Oh, ayolah."
Sepertinya dia sudah berdiri sejak lama di sana. Fu Juese tidak tahu kapan tepatnya, tapi yang jelas, pakaian yang dikenakan Fu Ning masih pakaian yang sama pada saat makan malam kemarin.
Biasanya adiknya itu tidak akan pernah mengenakan pakaian gaun jika ingin pergi tidur, jadi Fu Juese berpikiran pasti Fu Ning sudah lama berada di kamarnya.
"Kenapa kakak melihatku sampai seperti itu, apa ada yang salah?"
"Fu Ning, apa kau tidak tahu masalah yang akan datang jika kau berkunjung ke kamar pria?"
Fu Juese kemudian berceramah panjang lebar tentang sopan santun jika ingin masuk ke dalam kamar orang lain.
"Apa masalahnya, toh hanya adik perempuan yang mengunjungi kamar kakak laki-lakinya, jadi tidak ada masalah dan jangan membesar-besarkannya."
'Tentu saja itu salah, ini adalah kamar seorang pria.'
__ADS_1
Fu Juese sangat terganggu dan jadi tidak bisa melakukan meditasi dengan benar...
"Ayolah kakak, aku tahu kau baru bisa bermeditasi beberapa jam saja dan setelahnya langsung tertidur, jika tidak seharusnya kau sudah tahu kapan saat diriku masuk."
Fu Juese menjadi tercengang mendengarnya.
"Sejak kapan kau masuk?"
"Subuh-subuh tadi."
"Itu sudah sangat lama kan? Dan apa yang kau lakukan selama itu?"
"Tidak ada, hanya berdiri terus di sini dengan memandangi wajah kakakku."
"Baiklah, kau sudah kelewatan ternyata."
Fu Ning kemudian tertawa terbahak di sana sembari memegangi perutnya. Dia sangat terhibur dengan sikap kakaknya itu, tetapi Fu Juese tidak ingin terus bercanda di sini, dirinya harus pergi untuk berlatih sekarang.
Fu Ning pun menyampaikan sesuatu pada kakaknya.
"Aku menemukan sebuah tempat yang menarik di dalam rumah ini."
"Benarkah?"
"Baiklah, tunjukkan padaku."
Fu Juese segera bangkit, mereka berdua kemudian berangkat menuju kantor Fu Hei.
Fu Ning orang yang menemukan tempat rahasia itu.
Awalnya, dia hanya penasaran dan melakukannya untuk menghabiskan waktu semata karena tidak ada orang lain lagi di rumah yang besar itu.
Semua orang telah pergi termasuk ibunya, jadi pantas jika dirinya tampak sangat bosan di dalam rumah yang hanya berisikan para pelayan dan mereka bertiga.
Saat pertama kali dia masuk, dia tidak menemukan apapun bahkan satu saja barang yang mencurigakan, sampai akhirnya sebuah topeng unik berwarna putih membuatnya tertarik.
Dirinya kemudian tidak sengaja mengangkatnya lalu ruang bawah tanah tiba-tiba terbuka.
"Begitulah aku menemukan tempat ini."
Fu Ning mendengus dengan menepuk dadanya menutup cerita.
Di dalamnya, ada sebuah altar kecil. Di atas altar itu ada sebuah pedang dan buku yang tergeletak.
__ADS_1
Fu Juese yang penasaran kemudian mengeceknya.
"Ini..."
Matanya seketika melebar.
"Kau terkejut kan sekarang kakak?"
Di sana ada sebilah pedang tajam yang sarungnya berwarna ungu. Pedang itu terlihat sangat tipis seolah mudah patah jika dilihat dari depan, tapi jika dilihat dari samping, sebenarnya pedang ini sungguh kokoh dan bisa menebas apapun.
Bukan hanya itu saja, tapi pedang ini memancarkan aura haus darah yang mengerikan.
'Ini pedang pusaka milik sekte barakuda ungu, kenapa bisa ada di sini? Lalu satunya lagi...'
[ Seni Mitos Sembilan Nyawa Sang Kucing Agung ]
Itu adalah kitab tentang seni bela diri yang telah menyelamatkan nyawa ayahnya, Fu Hei pada detik-detik terakhir.
"Fu Ning, kau tahu apa yang harus dilakukan kan?"
"Aku mengerti."
Fu Ning tersenyum lebar dan mengangguk.
Kedua benda itu tidak boleh sampai diketahui oleh orang-orang di luar. Jika itu terjadi, maka perang bisa saja pecah besoknya.
Hal ini jugalah yang mungkin menjadi penyebab kenapa pemberontakan bisa terjadi, sehingga seluruh Istana Kerajaan Yin jadi memusuhi mereka.
Satu lagi, sebelum mereka berdua keluar dari ruang bawah tanah, Fu Juese tiba-tiba saja teringat sesuatu.
"Kerja bagus, Fu Ning."
Dia tersenyum dan mengusap kepala adiknya.
"Y-Ya!"
Fu Ning tiba-tiba menjadi gagap dan menunduk ke bawah. Dia tidak pernah menyangka akan diperlakukan seperti itu sebelumnya.
Sekarang, tidak ada yang bisa melihat ekspresi seperti apa yang sedang dibuatnya.
Fu Juese juga hanya bisa melihat telinganya yang setengah memerah, kemudian segera berbalik tidak peduli.
'Yah, bukan urusanku.'
__ADS_1