
"Tidak mungkin..."
Hai Rong adalah orang yang paling terkejut di sini, dia sama sekali tidak menyangka anaknya akan berbuat demikian.
Lalu tiba-tiba, dia mengatakan, "Itu Aku! Aku adalah pelaku yang meracuni semua gelas ini! Fu Guanji sama sekali tidak bersalah, Akulah orang yang memintanya!"
Hai Rong mengakuinya.
Mata Fu Guanji tidak percaya dan melebar mendengar itu.
"Ibu..."
Fu Guanji kemudian berteriak dan memaksa berontak dari cengkeraman Fu Juese.
"Lepaskan Aku, brengsk, cepat lepaskan Aku!"
Sayangnya Fu Guanji masih belum cukup kuat untuk melakukannya. Dia terlihat seolah seperti cacing yang hanya bisa menggeliat di tangan Fu Juese.
"Baiklah, kau tahu apa kesalahanmu?"
Fu Hei tiba-tiba berdiri. Sosoknya yang besar itu berhasil mengintimidasi semua orang.
"Sa-Saya minta maaf!"
"Tidak. Kau mencoba membunuh salah seorang anggota keluarga, kau dan anakmu harus angkat kaki dari sini."
Suara Fu Hei terdengar berat dan menggema di dalam ruangan. Dia memberikan hukuman yang tidak terlalu berat maupun tidak juga ringan kepada keduanya. Setidaknya keduanya tidak dirusak inti iblisnya ataupun dipotong salah satu anggota tubuhnya.
"Baiklah, kami berdua menerima--"
__ADS_1
Sebelum Hai Rong selesai bicara, Fu Guanji tiba-tiba memotong kalimat ibunya.
"Tunggu sebentar, Ayah!"
Hai Rong langsung melirik ke arah anaknya itu kemudian melotot. Tapi Fu Guanji sama sekali tidak memedulikan hal itu dan terus berbicara. Dia berteriak di sana akan keputusan Ayahnya.
Kenapa dia dan ibunya, harus menerima hukuman yang seperti itu?
'Hukuman ini sama sekali tidak adil.'
Hukuman itu sama saja dengan mencoret namanya dari keluarga.
"Aku lebih baik dari si sampah, Juese, tolong berikan Aku dan ibu sebuah kesempatan. Kami berjanji akan--"
"Guanji, apakah tadi suaraku kurang keras? Cepat pergi dari sini bersama dengan ibumu atau tidak..."
"Tapi Ayah-!"
"Ayah, tunggu sebentar."
"Satu..."
"Tidak Ayah, apa yang kau lakukan? Aku adalah anakmu, kaulah yang mendidikku seperti ini."
Fu Guanji mati-matian mencoba membela diri dan ibunya tetapi Fu Hei sama sekali tidak bergeming. Dia masih tetap dikeputusannya yang awal.
"Kau berkata, Aku adalah harapan keluarga di masa depan!!!"
"Dua..."
__ADS_1
"Kau berkata, kau berkata, kau berkata. Aku adalah anakmu yang paling kau sayangi!!!!"
Sebelum Fu Hei masuk dalam hitungan ketiga, saat itu juga Hai Rong menginterupsi.
"Guanji, hentikan. Tuan, tolong ampuni kekasaran anakku, kami akan pergi dari rumah ini sekarang."
Hai Rong menunduk dan segera meraih tangan anaknya. Demi melindungi putranya itu, dia harus maju dan menghentikannya, jika tidak, tidak ada yang tahu apa yang akan Fu Hei perbuat pada putranya.
"Tidak, tapi, ibu, bagaimana dengan sampah itu, dia masih tetap di sini?"
"Guanji, hentikan, kita akan pergi."
Fu Guanji bertambah benci dengan Fu Juese. Dia terus melototinya bahkan saat diseret ibunya.
"Semua ini tidak akan pernah terjadi, jika saja sebelumnya, Fu Juese tidak pernah ada..."
Dia mengibaskan tangan Hai Rong.
"Kenapa sampah ini tidak diam saja di pojokkan!!! Kenapa dia malah berusaha!!! Lagipula dia hanyalah sampah yang tidak berguna!!! Kenapa!!! Kenapa!!! Kenapa!!! Hah!!! Sialan!!! Jawab Aku!!!"
Fu Juese yang mendengarnya hanya memejamkan mata, dia kemudian menggeleng setelah sosok Fu Guanji yang sebenarnya keluar.
Fu Juese juga sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun. Kenapa dia harus diperlakukan layaknya sampah di keluarga?
'Kenapa harus Aku?' Fu Juese ingin sekali membalik omongan Fu Guanji, namun pada akhirnya dia memilih mendiamkannya.
Dia juga tidak tahu kenapa Fu Guanji sangat membencinya, baik itu di buku catatan Pak tua atau pun sekarang. Sepertinya, Fu Juese tidak dapat merubah sifat adiknya itu.
"Kenapa kalian malah melihatku seperti itu! Kenapa kalian semua malah berdiri di sisinya!!!! Kenapa tidak ada satupun orang yang berdiri disisiku!!! Pengkhianat!!!!!!"
__ADS_1
Fu Guanji juga melirik pada semua orang yang ada di rumah satu persatu. Tapi tidak ada satu pun yang berdiri di sana membantunya.
Fu Guanji yang dipenuhi kekecewaan meludah dan berjanji akan kembali untuk balas dendam suatu saat nanti.