
Sebuah kawah besar tercipta di sana dengan asap tebal berwarna hitam yang menggumpal ke langit. Di tengah kawah itu terbaring seseorang, dia terus menerus terbatuk dan terlihat kesusahan.
Gu Lang kemudian muncul di atasnya, dia adalah orang yang telah membuat pilar cahaya biru sampai menembus langit dan membelah tanah sampai tercipta sebuah kawah.
Dia juga orang yang membuat tubuh Fu Hei menjadi gosong sama seperti abu, meski begitu Fu Hei tetap masih bisa tertawa di sana.
"Sungguh... kemampuan yang hebat dari Sang Putri Pedang, kemampuannya sama sekali belum menurun dimakan umur..."
Jleb!
Sebuah pedang telah menusuk sampai ke dalam dadanya. Setelah itu, Fu Hei menghembuskan napas terakhirnya.
Gu Lang tidak membiarkan Fu Hei mengucapkan kata-kata terakhirnya atau ucapan perpisahan, dia hanya ingin mengakhiri semuanya secepat mungkin.
Hatinya sangat sakit setelah mengetahui suaminya itu berkhianat bahkan sampai menginginkan kematian yang kejam untuknya.
Malam pun berakhir dengan terbitnya matahari.
Fu Hei memang telah mati, tetapi orang-orang yang loyal kepadanya masih tetap ada dan jumlahnya lebih dari ratusan.
Mereka semua pasti akan berbalik dan mengarahkan taringnya setelah mengetahui tuannya kalah dari Fu Juese dan Gu Lang.
Seluruh Fraksi Fu Hei akan menjadi pendukung putra kedua dan menjalin kerja sama dengan mereka.
__ADS_1
Ada beberapa orang yang meninggalkan rumah, sehingga yang tersisa sekarang hanyalah Fu Juese, Gu Lang, Na Yueyin, Fu Ning, dan para pelayannya.
Semua orang yang meninggalkan rumah berbalik sisi, mereka adalah Istri ketiga dan seorang selir.
Kemudian karena mengikuti kedua ibunya, putri keempat dan kelima sampai putra keenam yang baru berumur beberapa bulan saja, ikut berbalik dan mengikuti putra kedua.
Semua kekacauan akhirnya berakhir.
Paginya Fu Juese kembali meneruskan latihannya. Dia terus konsisten meskipun kondisi tubuhnya sedang terluka dan kelelahan.
Banyak orang yang sudah mencoba untuk menghentikannya namun tetap tidak ada yang berhasil.
Bahkan Na Yueyin yang sampai mengunci kakinya tetap tidak bisa berbuat apapun. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan Fu Juese sekarang. Kenapa dia terlihat begitu terburu-buru dan tidak sabaran seperti itu.
Dirinya terlalu memaksakan tubuhnya sampai akhirnya Fu Juese kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang.
Untung saja ada seseorang yang datang lalu menangkapnya. Fu Juese mengeluarkan napas memburu karena kehabisan oksigen.
Setelah beberapa saat berlalu, dirinya mulai tersenyum melihat sosok dari orang yang menangkapnya.
"Na-na-na?"
"Kenapa aku tersenyum?"
__ADS_1
Na Yueyin terlihat sangat khawatir dengan mengerutkan wajahnya, sedangkan Fu Juese sama sekali tidak peduli kepadanya dan tertawa.
Mereka berdua kemudian pergi ke pinggiran untuk beristirahat sekaligus makan siang.
Karena Fu Juese terlalu lelah sampai tidak bisa mengangkat tangannya, Na Yueyin akhirnya terpaksa memberikan suapan.
"Na?" (Bagaimana rasanya?)
"Mmm... Enak."
"Na-Nana-Na." (Makan yang banyak, jangan sampai jatuh sakit.)
"Aku mengerti."
Di sana Fu Juese makan banyak sekali, dia bahkan menghabiskan puluhan piring sampai akhirnya tertidur di pangkuan Na Yueyin.
Dirinya tertidur dan terbangun saat matahari sudah terbenam.
Rasanya begitu menyegarkan, sebelumnya dia merasa seolah seperti belum tertidur selama beberapa hari. Tapi sekarang semua beban itu menghilang layaknya gas.
Paha Na Yueyin yang dijadikan sebagai bantalan terasa sangat empuk dan hangat, Fu Juese bahkan tidak ingin terlepas dengannya.
Tubuhnya rasanya sudah kembali seperti sedia kala sekarang.
__ADS_1
Fu Juese kembali pulang setelah meminta maaf sekaligus berterima kasih karena membuat Na Yueyin menemaninya sampai malam tiba.