
Na Yueyin tahu seberapa kuat pukulan Fu Hei, setiap pukulannya terasa seperti kita seolah-olah sedang berhadapan dengan batu besar.
Fu Hei bertarung melawan Fu Juese.
"Haha!" Dia tertawa karena menarik.
Fu Hei segera menghapus kuda-kuda bertahannya dan merengsek maju.
Fu Juese juga, setelah memastikan jika Na Yueyin tidak akan kembali lagi, dia ikut berlari.
Ayah dan Anak itu saling menghampiri satu sama lain.
Buk! Bak!
Fu Hei memberikan tendangan lurus kepada anaknya sampai membelah udara dan Fu Juese hanya berdiam diri menerimanya.
Fu Juese menerima tendangan dari ayahnya itu dengan terbuka, dan bahkan suara yang dihasilkan sangat keras dan berderit, seolah saja seperti, Fu Hei sedang menghantam sebuah besi!
"Lagi-lagi? Bayangan hitam sialan itu lagi?!"
Fu Juese menerima serangannya tanpa merasakan sakit sedikitpun, seolah saja yang barusan menendangnya hanya sebuah boneka mainan. Dia menerima begitu saja tendangan itu tetapi masih baik-baik saja.
"Bayangan apa itu sebenarnya?!"
Fu Hei bertanya-tanya, ada apa dengan bayangan itu, kenapa dirinya sama sekali tidak dapat menggores benda itu.
Mengetahui serangan Ayahnya yang gagal, Fu Juese kemudian berjingkat dan menggeser satu kakinya. Dalam satu langkah saja, sekarang Fu Hei masuk ke dalam jangkauannya.
PLAK!
__ADS_1
[ Tepukan Singkat milik Dewa Kematian ]
Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnngggg!!!
Tiba-tiba pandangan Fu Hei menjadi kabur, tetapi dia masih tetap sadar.
Snap!
Belum satu triknya itu selesai, Fu Juese kembali dengan menambah trik lainnya.
"Apa lagi ini, kenapa mataku kabur dan berputar?"
Sebuah jarum kecil, habis menusuk leher Fu Hei, karenanya Fu Hei mulai hilang kendali.
'Sekarang...' Fu Juese tersenyum setelah berhasil memainkan satu persatu kartunya.
Fu Juese kemudian berjalan mendekati Ayahnya yang sempoyongan itu.
Selangkah...
Dua langkah...
Tiga...
Sekarang keduanya pun saling berhadapan. Di tangannya ada sebuah bayangan hitam yang sudah terbentuk. Fu Juese memberikan tatapan dingin kepada Ayahnya sebagai salam terakhir.
Kemudian dari tangannya, Fu Juese membentuk sebuah pedang menggunakan empat jarinya. Dia meletakkannya tangannya itu di depan dada Ayahnya.
Jleb!
__ADS_1
Fu Juese menembusnya. Dia berhasil membuat lubang besar di sana.
Tapi anehnya, tidak ada darah sama sekali yang keluar dari tubuh itu. Mata Fu Juese melebar dan seketika sebuah tendangan tiba-tiba saja muncul entah darimana.
Fu Juese terpelanting dan terbang sampai menubruk tembok rumahnya di belakang.
[ Seni Mitos dari Sembilan Nyawa Sang Kucing Agung ]
"Sialan, jadi hilang satu nyawaku."
Dia adalah Fu Hei, dirinya muncul dari kehampaan.
Bukan hanya itu, Fu Hei juga muncul dengan tubuh yang sehat dan sama sekali tidak kekurangan apapun.
Apa yang dilakukan oleh Fu Juese sebelumnya, seolah seperti ilusi belaka. Tulang rusuknya yang patah sudah sembuh. Stamina miliknya tetap utuh beserta dengan tenaga dalamnya.
"Sekarang, jadi sudah tidak ada lagi nyawa yang tersisa, deh."
Fu Hei menggigit bibirnya dan meremas tangannya berulang kali. Inti Iblisnya ini memang sangat unik.
Dia diberikan sembilan nyawa dan setelah mati, dia akan dibangkitkan dalam keadaan semua menjadi normal seperti sedia kala.
Tapi, semua nyawa itu sekarang sudah menghilang.
Karena kemampuan itu, Fu Hei berhasil selamat dari medan perang berulang kali, dan juga saat berjumpa dengan musuh yang berada di luar jangkauannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jika ada dari anda semua yang suka dengan novel ini, tolong vote, like, dan share. Karena semua itu sangat berarti bagi author untuk terus semangat.
__ADS_1