Catatan Sang Pendekar

Catatan Sang Pendekar
- Sepuluh Naga.


__ADS_3

Fu Juese sekarang sedang berdiri di hadapan sepuluh orang.


Mereka semua mengepungnya dari segala arah sehingga membuat Fu Juese tidak bisa bergerak bebas kemanapun.


"Kemarilah."


Awalnya mereka berniat menciutkan semangat lawan dengan jumlahnya.


Namun apa yang terjadi malah berbanding terbalik dengan kenyataan.


Fu Juese sangat percaya diri dengan kemampuannya.


Puluhan orang itu kemudian bergerak dengan berteriak bersama-sama.


"Hiyaaaah!!!"


Seseorang mencoba untuk memukulnya dari depan, Fu Juese pun mengelak dengan menggeser kepalanya.


Seseorang lainnya juga datang, dia melakukan tendangan dengan terbang ke udara, tapi Fu Juese tidak mempedulikannya dan malah berlari menjauh.


"Hiyaaaat!!!"


"Hiyaaaat!!!"


Fu Juese berhasil menghindari setiap serangan satu persatu dari orang yang mendatanginya.


Dia melompat dan beberapa kali menunduk di sana.


Fu Juese juga kadang terlihat menangkis setiap serangan dengan sentuhan-sentuhan kecilnya.


"Apa-apaan ini?!"


"Serangan kita bersepuluh sama sekali..."


"Tidak ada satu pun yang mengenainya?!?!"


Mereka sudah mencoba sekuatnya tapi tidak ada yang berhasil bahkan untuk menggoresnya.


"Yup, waktu telah habis sekarang."

__ADS_1


Begitulah kata-kata Fu Juese yang kemudian membuat semua orang pada akhirnya menghela napas panjang.


Mereka semua sedang melakukan latih tanding di balai pelatihan.


Semua itu dilakukan untuk mengetahui seberapa majukah perkembangan mereka selama berlatih berbulan-bulan di balai pelatihan.


Ada sepuluh orang di sini, mereka bersepuluh adalah orang-orang elit dari komunitas langit para naga muda.


Mereka melakukan uji coba latih tanding dengan menyerang Fu Juese.


Awalnya mereka berniat melakukannya satu lawan satu saja, tapi dengan usul Fu Juese mereka pun melakukannya secara bersamaan.


Pada awalnya, mereka berpikir semuanya akan berjalan dengan sangat mudah namun apa yang mereka pikir mudah itu nyatanya sangat sulit sekali, bahkan untuk menggores sedikit saja kulit Fu Juese.


Mereka kemudian berpikir, apa yang sebenarnya telah mereka lakukan selama ini?


Latihan berbulan-bulan lamanya menjadi sia-sia saja seperti sedang menangkap udara?


Semuanya tidak ada yang berguna.


Mereka semua akhirnya sadar jika di dunia ini seorang monster memang benar adanya.


"Terima kasih atas ilmunya."


"Kau memang memiliki kualifikasi untuk menjadi pemimpin kami, tuan muda."


"Tuan muda, kami bersepuluh berjanji akan selalu setia dalam perjalanan anda."


Fu Juese kemudian tersenyum.


"Kalian semua memiliki kekuatan yang besar, latihan berbulan-bulan kalian tidak ada yang percuma, akan ku berikan beberapa nasihat pada kalian semua."


Fu Juese kemudian menyebutkan satu persatu apa yang dirasakannya kelemahan setiap orang dalam latih tanding sebelumnya.


"Bo An An, kau terlalu percaya diri dengan tubuh besarmu, kau tidak memiliki kelincahan sama sekali."


"Saya mengerti, tuan muda."


"Da Xia, tidak banyak yang kukatakan, tapi kau terlalu fokus dengan musuh di depanmu sampai tidak mencoba bergabung dengan yang lainnya, jika saja seranganmu bisa dikolaborasikan dengan yang lain maka aku pun akan kesulitan."

__ADS_1


"Saya mengerti, tuan muda."


"Chu Bi Jun... kau cepat tapi lemah."


"Saya mengerti, tuan muda terima kasih."


"Jiao Lanfen..."


"...terima kasih tuan muda."


"...."


"..."


"Dan satu lagi."


Setelah Fu Juese selesai memberikan saran kepada semua orang, dia kemudian memberikan penegasan dan mungkin inilah yang sangat ingin dikatakannya.


"Aku tidak membutuhkan bantuan kalian semua atau balasan siapa pun, cukup urus urusanmu sendiri saja mengerti? Aku pergi."


Mereka bersepuluh pun langsung menunduk saat itu juga.


Sayangnya kata-kata dari Fu Juese hanya masuk dari kuping kanan dan keluar dari telinga kiri setiap orang.


Sepuluh orang itu tetap ingin melayani Fu Juese apapun yang terjadi.


Mereka telah berhutang banyak kepadanya bisa dikatakan setengah teknik maupun keterampilan yang mereka dapat adalah berasal dari Fu Juese.


'Bagus, benar begitu.'


Fu Ning yang melihat dari pinggir lapangan pun tidak dapat menahan senyumnya.


Dia terus cengar cengir di pinggiran.


Fu Ning melihat kesepuluh orang itu, mereka masih kecil dan sebaya dengannya.


Sorot mata mereka menunjukkan semangat dan loyalitas yang tinggi.


Fu Ning tahu kesepuluh orang itu tidak akan pernah mendengarkan apa kata kakaknya itu.

__ADS_1


'Yah, untung kakakku sama sekali tidak pelit dengan ilmunya, sekarang aku hanya perlu memberikan sedikit bumbu di sini.'


__ADS_2