
"Kami merupakan utusan dari Kekaisaran Jiang Hu, dan persoalan kami kemari adalah karena sehubungan dengan pertunangan dari dua kerajaan besar."
"Hmm, jadi begitu."
Wan Kai kemudian meletakkan tangannya di dagu dan mulai mengusapnya.
Dia terlihat berpikir sebentar sampai anaknya Wan Feng tiba-tiba muncul dan tertawa di tengah aula perjamuan.
"Benarkah itu? Jadi siapakah orang yang akan menjadi tunanganku ini? Aku penasaran dengan wajahnya! Apakah aku boleh melihatnya, bolehkan?! Aku ingin melihatnya!!!"
Pangeran itu memiliki sikap seperti seorang bocah dan kekanakan. Dia sombong dan angkuh seperti rumor yang beredar.
Wan Feng sangat berbeda jauh dari citra para pangeran lainnya di dunia ini.
Yin Zixia yang mendengarnya bahkan ingin sekali mencela pangeran itu seperti yang biasa dia lakukan namun dirinya belajar untuk menahan diri sekarang.
Jika salah bicara sedikit di sini maka perang bisa seketika meletus kapan saja.
Di antara dua negara besar ini, tidak ada yang tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang semisal keduanya saling berperang.
"Perempuan yang akan menjadi tunangan anda adalah saya sendiri, perempuan yang sedang berbicara di hadapan semua orang."
Yin Zixia langsung membuat heboh keramaian yang sedang menonton di pinggir aula kerajaan.
Siapa yang mengira bocah kecil itu akan pandai berbicara sampai sedemikian rupa dengan wajah biasa saja.
__ADS_1
Dia juga memiliki paras yang rupawan di usianya yang masih belia.
Tidak bisa dibayangkan akan secantik apa nanti dirinya saat dewasa.
Wan Kai yang terlihat berpikir sebelumnya kemudian berhenti mengusap dagunya.
Dirinya berpikir perempuan ini memiliki kualifikasi yang bagus dan cocok untuk disandingkan bersama putranya.
Dia sopan dan baik hati, perempuan ini juga memiliki bakat yang lumayan di bidang seni bela diri.
"Papa! Aku mau dia!!!"
Wan Feng terlihat menelan ludahnya.
"Pokoknya aku menginginkan dia!!!"
Dia terus menerus meneriaki Ayahnya sendiri seolah dirinya bukanlah seorang raja di sana.
Sampai ketika Wan Kai pun mengalah karena tidak sanggup lagi membendung keinginan anaknya tersebut.
Dia lalu mengabulkan keinginan anak semata wayangnya itu.
"Baiklah siapa namamu itu lagi?"
"...Zixia. Nama saya adalah Yin Zixia Paduka Raja."
__ADS_1
"Kita akan mengadakan upacara pertunangan yang sakral setelah satu bulan lagi. Jadi tinggalah di sini dan jangan sungkan meminta apapun, anggaplah di sini sebagai rumahmu."
Yin Zixia pun menunduk dan kelompok mereka pergi.
Mereka menginap sebagai tamu di kamar-kamar mewah kerajaan.
"Ck! Aku sama sekali tidak suka padanya!"
Bukan hanya Pejing saja yang berpikiran begitu tetapi semua orang yang menyaksikannya juga akan berpikiran sama dengannya.
Putra Mahkota kerajaan Wan, Wan Feng adalah hidung belang dan terkenal memiliki nafsu yang besar.
"Lalu bagaimana dengan menurutmu...?"
Yin Zixia tiba-tiba menengok ke arah pria di sampingnya.
Entah sejak kapan dirinya sudah berjalan di sisi Fu Juese. Semua orang bahkan sampai tidak menyadarinya.
Saat melihatnya sendiri Tian Jian dibuat terkejut sampai mengepalkan tangannya.
Tuan Putri Yin Zixia terlihat penasaran akan bagaimana sikap Fu Juese.
Dia sampai menunggu beberapa detik dan memiringkan kepalanya.
"Tidak baik jika kita membicarakan itu di sini, jadi akhiri semua percakapan kita cukup sampai sini saja."
__ADS_1
Yin Zixia yang mendengarnya kemudian membuang muka dengan mendengus kesal.