Catatan Sang Pendekar

Catatan Sang Pendekar
- Malam panjang(4).


__ADS_3

Selesai latihan, malam pun tiba.


Di meja makan semua orang sedang menunggu kedatangan Fu Juese. Tinggal dirinya seorang yang belum hadir. Tapi saat dirinya muncul, suasana di meja makan menjadi aneh.


Fu Juese membawa seseorang bersamanya. Ada seorang perempuan yang sedang tersenyum canggung di balik tubuhnya.


Perempuan itu sama sekali tidak tahu kenapa dirinya bisa sampai di sini. Dia hanya menuruti apa kemauan Fu Juese saja. Malam itu, akhirnya mereka mendapatkan tambahan satu orang lagi di meja makan.


"Oh! Ada Nak Na Yueyin rupanya."


Gu Lang berdiri dan tersenyum menyambutnya.


Fu Hei juga ikut menyapanya dan mempersilakan dirinya duduk. Fu Guanji dan Hai Rong tampak terkejut, jelas sekali terlihat wajah kekesalan di muka keduanya. Mereka berdua terus menatap wajah Na Yueyin dengan kecut, anak dan ibu itu memiliki rupa yang sama saja.


Sedangkan Fu Ning, dia sama sekali tidak merespons dan memasang wajah datar. Dia bersikap seperti biasanya. Fu Ning adalah orang yang apatis dan cuek, jika itu tidak ada hubungannya langsung dengan dirinya sendiri atau sesuatu itu tidak menarik di matanya, maka Fu Ning akan memilih diam dan menganggapnya seolah angin lewat.


Acara makan malam dimulai, semua orang kemudian mulai memakan hidangan yang telah disiapkan di atas meja.


Na Yueyin disambut dengan hangat di sana. Dia banyak diberikan pertanyaan oleh orang-orang di sekitarnya, kebanyakan pertanyaan itu adalah berasal dari Gu Lang.


Gu Lang rupanya mampu menggunakan bahasa isyarat dengan cukup baik, hal itu sering dia lakukan di medan perang sebagai cara berkomunikasi mereka di sana agar tidak ketahuan musuh saat bersembunyi.


Di ruang makan itu, Gu Lang seolah sedang mengadakan tes interview untuk menyeleksi calon menantunya.


Setelah itu, semua orang secara bergantian mencoba berkomunikasi dengannya. Sayangnya, Na Yueyin tidak dapat menjawab sebagian pertanyaan yang diajukan oleh setiap orang.

__ADS_1


Semua orang kemudian mengerti itu dan menganggap, jika tuan putri ini adalah sosok seseorang yang pemalu.


"Ah, karena sudah sangat larut, Na Yueyin sudah terlambat untuk pulang sekarang. Dia ingin meminta ijin untuk menginap semalam saja di sini apabila dibolehkan."


Fu Juese kemudian memanfaatkan hal itu untuk dirinya sendiri.


Na Yueyin yang mendengarnya tiba-tiba memerah. Dia berpikir, kapan dirinya pernah mengatakan hal itu dan menjadi salah tingkah di sana.


Fu Ning juga jadi terbatuk-batuk. Lalu Gu Lang seolah merasa muda kembali, dia tiba-tiba menjadi bersemangat dan bersiul.


"Fyuit. Agresifnya."


Sedangkan Fu Hei sama sekali tidak mempermasalahkannya.


"Silahkan saja, toh kalian berdua sudah bertunangan dan akan menikah beberapa tahun lagi."


Sekarang minuman telah dibagikan kepada semua orang. Satu-persatu telah memegang gelasnya masing-masing.


Saat akan meminumnya, seseorang tiba-tiba menyabet semua gelas itu sampai terlempar ke lantai.


'Seperti dugaanku...'


Fu Juese yang melihatnya tidak bisa menahan senyumannya.


Orang yang menangkis dan menampar gelas semua orang adalah Na Yueyin.

__ADS_1


"Apa ini? Kenapa kau--!"


Fu Hei tidak tahan lagi dan membentaknya secara tidak sadar.


Na Yueyin kemudian panik dan kebingungan untuk menjelaskan. Jika dilihat dari luar, perilakunya sama sekali tidak pantas dan kurang sopan.


Alhasil, Na Yueyin hanya dapat menunduk. Semua mata sekarang mengarah padanya. Na Yueyin masih belum berbicara sepatah kata pun mengenai alasan kenapa dia melakukannya.


Tapi seseorang kemudian tiba-tiba langsung berdiri.


"Ada racun di dalam gelas tadi."


Orang itu adalah Fu Juese.


Fu Juese kemudian menjelaskan semuanya secara detail, seolah-olah dirinya adalah Na Yueyin. Dia mengakhirinya dengan menatap ke arah Na Yueyin untuk meminta pendapatnya.


"Apakah benar yang dikatakan Fu Juese barusan?" Tanya Fu Hei dengan wajah menahan amarahnya.


Na Yueyin kemudian secepatnya mengangguk berulang kali. Tidak pernah dirinya sangka sebelumnya jika akan ada seseorang yang begitu mengerti sosoknya.


Fu Juese kemudian tersenyum tipis dan meletakan tangannya di pundak Na Yueyin.


Lagipula bagaimana tidak, di buku catatan ada banyak sekali ratusan ribu kata tentang Na Yueyin.


'Pak tua itu sungguh mengerikan.'

__ADS_1


Fu Juese mengusap lembut Na Yueyin seolah mengatakan jika, semua akan baik-baik saja, jadi tidak perlu takut, dan terima kasih sudah menemani Pak tua sampai matimu.


__ADS_2