Catatan Sang Pendekar

Catatan Sang Pendekar
- Menuju Kekaisaran Tetangga.


__ADS_3

Malamnya semua orang terlihat sedang berkemas.


Mereka akan berangkat saat pagi-pagi sekali jadi semua orang memilih tidur lebih awal malam itu.


Di dalam kamar, Fu Juese yang selesai berkemas tidak mencoba untuk tidur melainkan melanjutkan latihannya seperti biasa.


Fu Juese bersila di atas ranjangnya yang empuk dan melakukan meditasi.


Hanya beberapa jam saja tersisa sebelum matahari terbit dan Fu Juese berpikir dirinya tidak memerlukan tidur. Dia hanya ingin secepatnya tumbuh menjadi lebih kuat.


Dirinya tidak bisa membayangkan akan menghadapi monster seperti apa di perjalanan nanti.


Fu Juese hanya berharap semoga tingkatan kelas bela dirinya bisa cepat naik sebelum mereka memasuki wilayah musuh.


Tetapi sayang sekali tidak ada tanda-tanda satu pun yang menunjukkan tingkatannya itu akan segera naik.


Fu Juese masih belum mendapatkan pencerahan sedikitpun.


Di samping tas kecilnya berdiri sebuah senjata pedang dengan sarung ungu.


Pedang itu adalah sebuah Pusaka Suci. Pedang yang jika ditarik maka akan mengeluarkan sinar bulan tetapi berwarna keunguan dengan hawa buruk di sekitarnya.


Fu Juese membawa pedang Bulan Ungu untuk menemaninya.


Fu Juese melakukannya untuk berjaga-jaga saja semisal situasi yang tak terkendali muncul dalam perjalanan. Dan juga karena Sekte Barakuda Ungu sudah menghilang maka Fu Juese bebas untuk menggunakannya sekarang.

__ADS_1


Orang-orang yang berangkat besok hanya ada lima orang itupun atas pilihan Fu Juese sendiri.


Mereka berlima adalah Fu Juese, Gu Lang, Yin Zixia, Tian Jian, dan Peijing.


Peijing adalah seorang pembunuh dari kerajaan.


Dia adalah orang yang gagal menjegal leher Fu Juese kemarin dan malah menderita kekalahan. Mereka pun menyetujui usulan Fu Juese.


Mengetahui bakat Fu Juese yang bisa berkembang layaknya monster keluarga kerajaan sepertinya ingin menandatangani kontrak dan membuat perjanjian dengannya.


Fu Juese kemudian setuju untuk menjadi pengawal hanya sampai tuan putri mereka kembali lagi ke kekaisaran Jiang Hu.


Pagi pun datang dan semua orang terlihat sangat sibuk dengan urusannya masing-masing.


Hanya Fu Juese yang masih belum terlihat di sana.


Suara yang kencang dari pintu itu membuat penghuni di dalamnya tersentak.


Fu Juese terbangun dari posisi meditasinya setelah mengusap air liur di mulutnya.


'Jadi benar, dia tertidur lagi.'


Fu Ning menyipitkan mata saat melihat Kakaknya yang panik beranjak dari kasur.


Fu Juese tidak ingin disebut tertidur saat dirinya sedang bersila di atas kasur empuk. Dia bisa sangat marah jika seseorang sampai mengatakannya seperti itu.

__ADS_1


Dia ingin disebut sedang melakukan meditasi untuk menemukan pencerahan.


'Jika tahu kau mudah tertidur, kenapa kau tetap saja melakukan meditasi di atas kasur.'


Fu Ning tidak tahu lagi ingin mengatakan apa saat melihat Kakaknya itu. Dia kemudian memilih pergi dari sana.


Setelah Fu Ning pergi Fu Juese dengan terburu-buru melepaskan bajunya.


"Tak."


"Hm?"


Tetapi sesuatu pun jatuh dari balik bajunya.


Fu Juese selalu menyimpan buku catatan dari Pak Tua di balik bajunya. Dirinya berpikir tempat yang paling nyaman untuk menyimpannya, yaitu tubuhnya sendiri.


Buku itu terlihat membuka sebuah bab baru.


'Jadi itukah menu latihanku selanjutnya?'


Fu Juese menyeringai karena sudah tidak sabar lagi ingin memulai.


[ Cara menguasai sepenuhnya tubuh Sang Kaisar Naga Hitam!!! 100% Anda dapat menjadi naga! NO HOAX!!! Buktikan segera di tempat!!! Buku ini hanya dikhususkan untuk para pemula atau sampah masyarakat! ]


Alis mata Fu Juese sedikit berkedut saat membaca judul babnya.

__ADS_1


'Sialan.'


Batinnya yang ingin sekali mencincang sang penulis.


__ADS_2