
Fu Juese menjadi sendirian di dunia sampai bertahun-tahun. Tanpa memiliki jiwa dia terus berjalan mencapai sebuah kota sampai dirinya bertemu dengan Na Yueyin, seorang perempuan yang berasal dari negeri yang sama dengannya.
Na Yueyin selalu setia kepadanya. Dia tidak dapat berbicara, namun selalu ada di sisinya saat dirinya membutuhkan. Na Yueyin juga selalu ikut di sampingnya kemana pun dia pergi.
Na Yueyin merelakan hidupnya demi menjaga Fu Juese. Dia tidak menikah pada saat itu karena beralasan untuk merawat Fu Juese. Bahkan sampai ajalnya menjemput pun Na Yueyin masih tetap sendiri.
"Na Yueyin terlihat sangat menderita dan kesepian pada masa itu."
Fu Juese juga masuk ke sebuah sekte bela diri, dia memiliki seorang teman, satu-satunya teman yang dia miliki pada waktu itu. Tetapi temannya itu mati karena melindungi dirinya yang terlalu lemah dan tidak berguna.
Seorang manusia biasa dengan seseorang yang melakukan kultivasi dengan inti iblis, memiliki perbedaan yang sangat jauh. Mereka memiliki kekuatan lima kali lipat lebih banyak dari pada manusia biasa.
"Dan Aku menjadi yang terlemah di jaman itu."
Pada jaman itu entah bagaimana Fu Juese berhasil mempertahankan hidupnya sampai usianya mencapai delapan puluh satu tahun. Begitu banyak penyesalan yang telah dia tinggalkan di belakang.
"...Itu semua adalah kisahku."
"...." Sang Pertapa hanya terdiam, keheningan tercipta diantara keduanya.
"Jadi itu masih belum dapat mengubahmu, huh? Aku mengerti. Kalau begitu, Aku ada satu permintaan lainnya untukmu."
Fu Juese tidak ingin melihat hidupnya yang sangat menyedihkan dan penuh kegelapan itu. Dia ingin merubah segalanya.
Tidak ada cara lain sehingga dia hanya kepikiran satu cara ini saja. Mungkin jika kepalanya lebih jernih dan hatinya sedikit tenang, maka dia dapat menemukan solusi lain yang lebih baik.
"Apa itu?"
Sang Penjaga memberanikan diri untuk menatap wajahnya, sorot matanya masih tetap tidak berubah bahkan setelah mendengarkan seluruh kisah hidup Fu Juese. Hal ini menunjukkan bahwa seolah-olah saja, Petapa Suci Penjaga Dunia ini sama sekali tidak memiliki hati di dalamnya.
"Aku akan tetap kembali ke masa lalu dan hidup di sana."
__ADS_1
"Hah. Sudah kukatakan jika itu mustahil." Penjaga Suci itu menghela napas.
"Tapi... sebagai seseorang yang lain."
"Oho? Coba kudengarkan apa maksudmu itu. Terangkanlah kepadaku secara singkat, manusia."
Jika Fu Juese tidak dapat kembali sebagai dirinya waktu masih muda ataupun tidak sebagai dirinya yang sekarang, maka Fu Juese hanya akan kembali ke masa lalu tetapi dengan tubuhnya yang berusia delapan puluh tahun ini.
"Kurasa itu tidak masalah... Benar, kupikir itu masih bisa dilakukan. Tapi apakah tidak masalah bagimu, kau hanya akan memiliki waktu sampai matahari terbenam saja di sana."
"Tidak masalah. Aku ingin kembali dan bertemu dengan diriku di usia tujuh tahun."
"Itu menarik. Aku mengijinkannya, lagipula Aku sudah melihat seluruh suratan takdirmu. Semua apa yang kau lakukan hanya akan berjalan sia-sia, kau tidak akan pernah bisa menggapai sesuatu di dalam hidupmu."
"Hmph. Lucu sekali."
Sang Penjaga tersenyum lebar ke arah Fu Juese sedangkan Fu Juese sendiri malah terlihat sedang menggigit bibirnya sendiri.
Tapi lagi-lagi dia teringat kepada seseorang, wajahnya yang sedang tersenyum lebar dan tertawa sembari meringis itu menanti Fu Juese. Apakah itu tidak masalah baginya?
'Na Yueyin. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Sudah kukatakan berkali-kali padamu, tidak peduli apapun semua usaha yang akan kulakukan, semua itu akan berjalan dengan sia-sia.'
Tiba-tiba mata Fu Juese melebar, dia seketika menyadari sesuatu.
Ada sesuatu yang hilang pada saat ini. Ada sesuatu yang aneh tetapi sangat penting yang dapat menjelaskan situasi sekarang.
"Kalau begitu akan kumulai sekarang."
Kedua tangan Sang Penjaga mengarah pada Fu Juese, sebuah cahaya menyelimuti tubuhnya dan perlahan membuatnya menghilang dari mulai ujung kaki. Sepertinya proses perpindahan Fu Juese sedang berjalan saat ini.
"Wahai penjaga Agung, Aku memiliki sebuah pertanyaan untukmu." Fu Juese seketika tersenyum licik karena ingat dengan sesuatu yang penting itu.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Kau mengatakan jika aku tidak akan pernah bisa meraih sesuatu di dalam hidupku, benarkan?"
"Benar sekali. Terus apa, apakah harus kukatakan itu sampai sepuluh kali padamu? Membuatmu semakin terpuruk?"
Fu Juese tiba-tiba tertawa setelah mendengarnya, "Jika begitu, mengapa Aku bisa mengumpulkan sobekan peta terlarang ini. Bahkan menemukan tempat ini dan bertemu denganmu?"
Fu Juese berdiri dengan rasa penuh percaya diri lalu menaikkan salah satu alisnya menghadap ke arah Sang Penjaga.
Seketika kedua alis mata Sang Penjaga Dunia itu naik, matanya melebar sangat lebar. Dia menganga seolah 'klik' dengan seluruh situasi sekarang.
"Oh, tidak, tunggu dulu Fu Juese... berhentilah... berhentilah!"
Pemindahan Fu Juese masih terus berjalan saat ini dan sekarang hanya menyisakan tinggal wajah dan lehernya.
"Aku telah melakukan kesalahan, brngsek!" Sang Penjaga mulai berlari ke arah Fu Juese.
"Tunggu Aku, semuanya belum terlambat. Aku akan merubah semuanya. Kita akan bertemu lagi di masa lalu. Sampai jumpa, Wahai Penjaga Dunia?"
Fu Juese terus tertawa dan perlahan menghilang, dia meninggalkan debu asap di sana sedangkan petapa suci itu memukul tanah di bawahnya, dia membuat seluruh gua runtuh sampai setengahnya.
Hampir saja cakarnya itu mencapai wajah Fu Juese. Sayang sekali semua itu sudah terlambat.
Padahal tinggal sehelai saja dirinya dari wajah Fu Juese, dan tinggal satu milimeter saja dia dapat meraihnya. Fu Juese yang melihat semuanya itu tersenyum dari balik cahaya.
Baru kali ini Pertapa Suci sang Penjaga Dunia mendapatkan hinaan dari seseorang.
"Tidak mungkin! Bagaimana seseorang yang memiliki takdir aneh ada! Bagaimana bisa selama ini dia bersembunyi dari kesadaranku?!" Penjaga itu menggigit bibirnya sampai berdarah.
"Kepart, sialan!"
__ADS_1