
[ Setelah kepulangan Gu Lang, tiga hari kemudian ibu akan ditemukan tidak bernyawa di ranjangnya akibat keracunan. ]
Hanya itu petunjuk yang diberikan Pak tua di buku catatan. Di rumah ini ada banyak sekali tersangka dengan berbagai motif. Orang-orang yang tidak menyukai Gu Lang dan anaknya bisa dihitung jari. Pertama ada istri kedua, dan ketiga, lalu seorang selir.
"Tapi jika diluaskan, hanya untuk berjaga-jaga, maka..."
Ada putra kedua, putri ketiga sampai kelima dan, bisa jadi Fu Hei ikut termasuk. Saat sore sebuah kereta kuda mewah berhenti di depan pagar rumah.
Seseorang keluar darinya, itu adalah Gu Lang. Fu Juese segera tersenyum dan berlari ke arahnya.
"Ibu!"
"Juese!"
Keduanya pun tidak lama saling mengenali dan langsung berpelukan. Mereka menumpahkan kerinduannya selama ini karena sudah lama tidak bertemu.
Saat masuk ke dalam rumah, mereka disambut langsung oleh Fu Hei, istri kedua, ketiga, dan seorang selir, lalu ada para pelayan yang berjejer di sampingnya. Mereka semua menundukkan kepalanya pada Gu Lang.
"Selamat datang kembali, Nyonya!"
"Selamat datang, Istriku."
"Selamat datang, Nona Gu."
Mereka menyambut dengan wajah penuh senyuman. Padahal salah satu dari merekalah yang akan merenggut nyawa Gu Lang nanti.
Sekarang, semua orang sedang duduk di meja makan. Saat makan malam dimulai, sudah ada pelayan sendiri yang mengantar makanan.
Fu Juese tidak perlu lagi melakukan hal-hal yang biasa dia lakukan setiap harinya. Mereka juga tidak mungkin menyuruhnya melakukan hal seperti itu disaat Gu Lang ada.
__ADS_1
"Juese, apa itu yang ada di jarimu?"
Gu Lang menyadarinya sesuatu pada tangan anaknya. Benda itu mengeluarkan warna kemilau dan terlihat indah.
"Ini? Ahh..."
Fu Juese kemudian menceritakan kejadian beberapa bulan terakhir kepada ibunya. Banyak hal yang sudah terjadi. Saat Gu Lang mendengar semua itu, dia sangat terkejut.
"Tidak mungkin..."
"Begitulah apa yang terjadi."
"Begitu, sepertinya Aku telah melewatkan banyak kejadian penting, maafkan Aku nak..."
"Tidak apa-apa, bu."
Meski begitu, disela-sela misi berbahayanya, Gu Lang selalu teringat dengan wajah anaknya.
Saat waktu malam tiba, Gu Lang menatap ke langit dan berdoa setiap hari agar anaknya itu dalam keadaan baik saja.
"Apa ibu tahu, Aku sudah mulai berlatih."
Dalam beberapa bulan ini, Fu Juese banyak melatih fisiknya. Gu Lang jadi sadar jika tubuh anaknya itu menjadi sangat berbeda dari yang dulu.
Dulu Fu Juese hanyalah pria kurus yang kurang gizi dan mungkin, bisa jadi dirinya terombang-ambing saat diterpa angin.
Namun, lihatlah dirinya yang sekarang. Otot-otot tubuhnya terlihat lebih kencang, pundaknya menjadi lebih naik, posturnya juga tegap, dan tubuhnya lebih berisi.
"Jadi begitu, kurasa orang-orang bilang bahwa setelah menikah, orang itu akan berubah banyak adalah benar."
__ADS_1
Gu Lang kemudian tertawa.
"Tapi Aku masih belum menikah, hanya memiliki tunangan saja."
Di dunia ini, usia Fu Juese sudah cukup jika untuk memiliki tunangan, namun masih belum cukup umur untuk menikah.
Dirinya harus menunggu lima tahun lagi jika ingin lanjut ke hubungan yang lebih serius. Tapi ada kasus dimana orang-orang tidak melakukannya dan menikah di bawah umur. Dan itu sama sekali tidak masalah, lima belas tahun hanyalah batas normal dan banyak diterima oleh masyarakat.
"Kurasa itu sama saja, Nak. Hmmm, Aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu siapa perempuan itu."
"Ibu akan secepatnya bertemu dengannya."
"Sungguh? Ah! Kau juga jadi terlihat jauh lebih dewasa sekarang, Aku melihatnya dari cara bicaramu. Kau sudah terlihat seperti seorang pria sejati. Woo, anakku sangat keren!"
Gu Lang kemudian menatap wajah anaknya untuk waktu yang cukup lama. Banyak emosi yang bergejolak di dalam dadanya, namun tidak dapat dia sampaikan.
"Aku jadi ingin menangis."
Tiba-tiba Gu Lang mengatakan hal itu, Fu Juese juga sadar, jika buku itu telah banyak mengubahnya. Tanpa buku itu dia tidak akan pernah bisa berubah menjadi yang sekarang ini. Dia akan menjadi seorang pecundang dan mempermalukan nama keluarganya di masa depan nanti.
Jadi, untuk sekarang Fu Juese harus berterima kasih kepada Pak tua yang telah menyelamatkannya.
"Tapi Aku punya sebuah pesan untukmu."
"Sebisa mungkin, Aku akan mengabulkan apapun permintaan ibu."
"Jangan menikah lagi, kau cukup perlu satu orang istri saja."
Seolah tersinggung, Fu Hei tiba-tiba tersedak dan terbatuk berulang kali di meja makan.
__ADS_1