Catatan Sang Pendekar

Catatan Sang Pendekar
- Malam panjang(2).


__ADS_3

Menjelang pagi hari, Fu Juese sedang bersiap untuk melanjutkan kembali latihannya. Dia kemarin tidak berlatih seperti rutinitasnya yang biasa, jadi dia akan menggantinya hari ini.


Fu Juese akan melakukan porsi latihan, dua kali lebih banyak sebagai gantinya. Kemarin, Fu Juese tidak bisa dianggap absen. Fu Juese berlatih tarung melawan ibunya sampai malam.


Tapi prioritasnya tetap adalah apa yang tertulis di buku catatan si Pak tua.


Fu Juese memilih untuk keras terhadap dirinya sendiri, karena tidak ingin melihat mimpi buruk yang Pak tua itu tunjukkan dalam bukunya.


'Tujuanku hanya satu...'


Dia ingin merubah masa depan dirinya dan orang-orang di sekitarnya.


Namun sebelum berlatih, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Tiba-tiba saja, Fu Hei memintanya untuk bertemu.


Dia sudah lama tidak berbicara dengan ayahnya itu, tapi Fu Juese tahu jika ayahnya sama sekali tidak peduli terhadapnya. Ini pertama kalinya, sejak pertemuan mereka yang terakhir saat lima tahun yang lalu.


Fu Juese tiba di depan ruangannya.


Tok, tok.


Fu Juese mengetuk pintu sebelum masuk.


Di sana, Fu Juese bisa melihat seorang pria tua dan berjanggut hitam sedang membaca buku.


"Kau akhirnya datang juga."


Dia adalah Fu Hei.


Fu Juese kemudian segera menunduk memberi salam padanya.


"Salam, Ayah."

__ADS_1


"Sudah, berhentilah dan berdiri."


Fu Hei masih tetap membaca bukunya. Dia masih belum menatap wajah anaknya bahkan saat dia masuk ke dalam ruangannya.


"Kudengar kau menjadi lebih kuat dan sedikit demi sedikit mulai berubah, ya?"


"Perihal mengenai itu, Aku tidak bisa mengatakan apapun, bukan diriku sendiri yang bisa menjawabnya."


Saat Fu Juese membenarkan posisinya dan berdiri. Dia tiba-tiba terkejut, ada sosok perempuan yang berdiri di belakang Fu Hei. Dia adalah Hai Rong, istri kedua sekaligus ibu dari Fu Guanji.


"Aku... masih belum berubah."


"Hoh. menarik..."


'Sejak kapan dia sudah berada di sana?


Apakah sedari masuk tadi, dirinya sudah ada?'


"Kalau begitu kuucapkan selamat dan terus berusahalah."


Tiba-tiba Fu Hei memberikan dirinya selamat.


'Apa hanya segitu?'


Fu Juese telah mati-matian selama ini, bekerja keras siang dan malam secara konsisten untuk beberapa bulan terakhir.


'Dan, Aku hanya mendapatkan kata selamat?'


Fu Juese bahkan sedari awal sama sekali tidak memerlukannya. Bukan ini yang dia cari.


"Lalu, bagaimana dengan putri keluarga Na? Apakah ada masalah diantara kalian?"

__ADS_1


Begitulah sifat Fu Hei, dia masih belum berubah sama sekali. Dia mengatakan kalimat itu tanpa emosi sedikitpun.


Dia juga tukang memerintah dan suka diperlakukan layaknya bak seorang raja.


"Tidak ada masalah yang berarti, hanya..."


Fu Juese menatap wajah Ayahnya cukup lama. Banyak hal yang ingin dikatakannya.


Tapi apapun yang dikatakannya, hal itu pada akhirnya hanya akan diabaikan.


"Dia bukanlah putri kedua Na Mei, melainkan putri pertama, Na Yueyin. Apakah tidak masalah untukmu?"


Fu Hei terdiam untuk sebentar, sampai beberapa saat kemudian dia pun mengangguk.


Fu Hei seperti tidak mempermasalahkan kenyataan itu, yang terpenting mereka masih bisa menjalin hubungan dengan keluarga Na.


"Baguslah, sekarang kau boleh pergi."


Jika hal itu berkaitan dengan bisnis atau persoalan keluarga yang lebih tinggi, Fu Hei akan selalu cepat dan sensitif. Dia tidak ingin terjadi kesalahan atau pun mendapat kerugian sedikitpun. Dia adalah orang yang egois.


Jika ada suatu masalah, selama masalah itu bisa dia kerahkan menggunakan pionnya, maka dia akan dengan mudah membuangnya seolah seperti tisu.


'Dan sekarang, Aku adalah salah satu pion itu.'


Fu Juese kemudian menunduk dan berpamitan pergi.


Setelah berjalan keluar, baru beberapa saja dia melangkah, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.


"Berhenti di sana."


Saat berbalik Fu Juese bisa melihat sosok Hai Rong, istri kedua Fu Hei.

__ADS_1


Fu Juese memilih mengabaikannya dan terus berjalan.


__ADS_2