Catatan Sang Pendekar

Catatan Sang Pendekar
- Malam panjang(15).


__ADS_3

Fu Hei kembali berlari untuk menyerang, melihat itu Gu Lang maju ke depan untuk menghalau serangan Fu Hei menggunakan sebilah pedangnya. Kedua senjata mereka bertemu dan membuat suara yang sangat nyaring sampai menimbulkan percikan api.


Beberapa detik kemudian Gu Lang terpental ke belakang.


Jika saja keadaannya masih sehat seperti biasanya, maka Gu Lang akan dengan mudah memenangkan berbenturan itu.


Sayangnya keadaan Gu Lang saat ini sungguh mengkhawatirkan, dia tidak bisa mengeluarkan setengah dari tenaganya yang biasa.


Dari samping, Fu Ning membantu Gu Lang, dia menembakkan sebuah nyala api menggunakan tenaga dalam dari inti iblisnya, tetapi Fu Hei dapat dengan mudah membelahnya menjadi dua bagian.


Setelah itu, sekarang giliran Na Yueyin untuk menyerang, dia muncul dari balik Fu Hei bersama sebuah tombak panjangnya. Keduanya pun saling bertukar serangan, cakram melawan tombak.


Tapi semakin lama, Na Yueyin terlihat semakin terdesak. Banyak guratan dan sayatan luka di tubuhnya, Na Yueyin pun berakhir dengan terkena pukulan di perut dan terpental mundur.


Untung saja tombaknya berhasil melindungi dirinya tepat pada waktunya, jika terlambat sedetik saja maka tamat sudah riwayat Na Yueyin saat itu.


Kali ini adalah giliran Fu Juese.


'Bocah ini tidak bisa diremehkan lagi.'


Fu Hei membuat wajah malas sebelum berhadapan dengannya sekali lagi, hal ini disebabkan karena dia wajib terus menerus mewaspadai bocah itu jika ingin selamat.


'Padahal dia hanya seorang bocah lemah yang tidak bisa apa-apa dulunya.'


Bagaimanapun Fu Juese membawa banyak trik bertarung bersamanya. Masih belum tahu apalagi yang dirinya masih simpan.


Fu Juese sudah seperti seorang pembunuh bayaran yang profesional di mata Fu Hei.


'Dia mulai berlari!'


Fu Juese berlari secara zig-zag.

__ADS_1


Saat jarak mereka tinggal dua langkah saja, sebuah bola api muncul dan Fu Hei dengan cepat segera membelahnya.


Namun...


'Hilang! Dimana dia? Dimana anak itu berada sekarang?!"


Fu Hei terlihat panik, dia berbalik dan melihat ke sekitar, tapi tidak juga ada siapapun di sana.


'Apa lagi ini!'


Dia merapatkan giginya dan mulai berkeringat.


Dari atas, Fu Juese tiba-tiba muncul dan melakukan serangan tendangan menggunakan tumitnya.


Alhasil, kepala Fu Hei dipaksa untuk menunduk ke bawah.


'Sial! Jadi kau ada di sana!'


"Hah! Kena kau!"


Tidak...


Bukan menangkap, tetapi Fu Juese sendirilah yang sengaja membuat dirinya tertangkap.


'Tunggu, apa lagi ini?'


Kedua tangan mereka saling mencengkeram satu sama lain. Sebuah bayangan hitam kemudian meluncur dan keluar dari tangan Fu Juese. Mata Fu Hei segera melebar karena sadar apa yang ingin diperbuat Fu Juese.


"Oh, tidak..."


KRAK!

__ADS_1


"Aaaaarrrgh!!!"


Suara tulang yang remuk terdengar seperti sebuah ranting pohon kecil di sana, dan senjata cakram yang ada ditangannya berubah menjadi bubur seketika itu juga.


Kaki Fu Juese perlahan menyentuh tanah dan dia masih mencengkeram tangan Ayahnya dengan erat. Fu Juese sama sekali tidak berniat mau melepaskannya.


Fu Hei menjerit dan mengerang kesakitan berulang kali. Masih ada satu lagi tangan yang tersisa, Fu Hei kemudian mengepalkan tangannya dan bermaksud untuk memukul Fu Juese.


Tapi...


Tang!


Sebuah tombak menghadangnya. Di sana Na Yueyin muncul dan menahan serangannya, urat-urat otot bahkan sampai keluar di kepalanya. Hal itu menunjukkan seberapa keras Na Yueyin berusaha menghalau serangan itu.


Boom! Boom! Boom! Boom!


"Argh! Graaa! Grah! Graaa!"


Sebuah bola api terus membakar punggung belakang dari Fu Hei. Pemandangan ini terlihat seperti sekumpulan hyena yang sedang mati-matian melawan macan.


Fu Juese terus meremukkan tangan Fu Hei dan bahkan menekannya sampai tipis seperti sebuah kertas. Sedangkan Na Yueyin terus menerus menerima serangan dan perlawanan Fu Hei. Lalu Fu Ning memborbardir punggung Fu Hei berulang kali.


Sudah dua detik terlewat dan sebuah cahaya biru yang menembus langit keluar dari belakang semua orang.


Tiga detik kemudian terlewat, bayangan hitam yang ada di tangan Fu Juese perlahan menghilang.


Bersamaan dengan Fu Juese yang melepaskan cengkraman tangannya, Na Yueyin dan Fu Ning pun juga ikut mundur ke belakang.


Darah banyak mengalir keluar dari tangan Fu Hei, dia bahkan tidak bisa merasakan lagi tangannya yang satu itu.


Saat berbalik pilar cahaya sudah berada di depan mukanya. Cahaya biru itu kemudian meledak dan menenggelamkan halaman beserta rumah belakang.

__ADS_1


__ADS_2