
Setelahnya, Fu Juese berhasil kembali di jamannya.
Waktu dimana umurnya masih tujuh tahun waktu dimana segalanya masih belum kacau dan waktu dimana dirinya bisa membuat persiapan yang cukup demi sagala hal penting di masa datang.
Dia terkesima saat melihat lingkungannya yang dulu sekaligus sangat dirindukannya ini. Dadanya berasa penuh, Fu Juese seketika ingin menangis jika mengingat kembali semuanya. Dia sangat akrab dengan lingkungan ini.
Semua yang telah dia lewati di masa depan bagaikan sebuah mimpi jika melihat keadaan di sini.
"Ah. Hampir saja..." Fu Juese sangat rindu dengan lingkungan di sekitarnya dan semua orang sampai-sampai dia melupakan tujuan awalnya dia kemari.
Fu Juese lagi-lagi disadarkan oleh sebuah kenyataan. Dia tidak benar-benar kembali ke masa lalu dan karena itu dia tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa.
Fu Juese hanya bisa menikmati waktu ini sampai batas matahari terbenam dan setelahnya dia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.
Fu Juese secepatnya beranjak pergi. Pertama dia membutuhkan sesuatu, dia pergi untuk membeli sesuatu sebelum bertemu dengan dirinya yang berumur tujuh tahun.
Kediaman Mansion mewah milik keluarga Fu hanya dihuni oleh keluarga utama saja. Fu Juese sedang berada di depan pagar rumahnya dan mengintip ke dalam. Pemandangan di sana masih sama tetapi bukan itu yang ingin dilihatnya. Dia sedang mencari keberadaan dirinya yang berusia tujuh tahun.
Dia menatap ke langit. Langit mulai berubah warna menjadi kemerahan, tatapannya menunjukkan kesedihan. Keberadaan dirinya yang berusia tujuh tahun masih belum terlihat dan sebentar lagi dirinya akan menghilang.
"Dimana bocah tengik itu berada?" Umpat Fu Juese.
**
"Pak tua, siapa kau, apa yang kau lakukan?"
Seorang bocah melihat seorang gembel sedang duduk-duduk di depan pagar rumahnya.
'Apa yang dilakukan Pak tua ini, jangan bilang dia ingin mengemis di sini?'
Bocah itu tersinggung saat melihat orang yang berpenampilan seperti gembel bisa duduk di depan pagar rumahnya dengan santai. Tempatnya berada itu bukanlah tempat yang layak jika ingin melakukannya.
'Oh, datang juga.'
__ADS_1
Sebaliknya kebalikan dengan bocah itu, Pak tua ini malah tersenyum setelah melihat kedatangan bocah di depannya.
"Sebentar lagi kita akan berpisah, jadi kau bisa tenang, anak muda."
"Huh?"
Seolah mengetahui yang dipikirkan oleh bocah itu, Pak tua itu bermaksud membuatnya tenang tetapi bocah itu masih belum mengerti dan menganggap jika orang dihadapannya itu hanya asal omong.
"Pak tua, aku tidak ingin mengatakannya. Tapi dengar, gembel, kau dilarang mengemis di rumah ini."
Pak tua itu hanya menganga saat mendengarnya. Dia kemudian berpikir, apa benar bocah dihadapannya itu adalah dirinya yang masih berumur tujuh tahun?
'Dia sungguh, arogan sekali.' begitulah komentarnya tentang dirinya di masa lalu.
Banyak orang-orang di masa lalunya yang bilang kepadanya jika dirinya adalah orang yang sombong dan arogan sekali di masa lalu, dia mati-matian menyanggahnya karena merasa jika kritik itu tidaklah benar. Tapi setelah melihatnya sendiri, rasanya dia ingin sekali tertawa.
"Kenapa kau malah tersenyum, gembel, apa kau juga adalah orang gila?"
Di sana berdiri Fu Juese kecil, dia sangat kecil dan menggemaskan. Rambut pirang dan mata biru yang jernih mirip sekali dengan dirinya.
Fu Juese besar tertawa setelah mengatakannya sedangkan Fu Juese kecil menggembungkan pipinya karena tidak terima dikatakan mirip.
'Dia masih sama... Kembali dengan membawa luka-luka dan tubuh yang babak belur setelah keluar.' Batin Fu Juese besar saat melihat mimisan bocah di depannya.
"Ahh... jadi teringat di masa lalu... Apa kau habis ditonjok?"
Mendengar itu Fu Juese kecil memiringkan kepalanya karena bingung. Dia berpikir jika otak Pak tua gembel di depannya itu benar-benar gesrek.
"Hei, itu dia teman-teman!"
"Haha, si idiot ternyata cepat juga larinya."
"Kali ini kau tidak akan selamat!"
__ADS_1
Di belakangnya berdiri bocah-bocah yang sebaya dengan dirinya di masa lalu. Fu Juese besar tersenyum saat melihat mereka, sedangkan yang kecil malah meringkuk sebelum bermaksud untuk lari ke dalam rumah, tapi hal itu segera ditangkap oleh Fu Juese besar.
"Tenanglah."
"Apa? Lepaskan, gembel."
"Ish. Kau masih tidak sopan kepadaku."
Fu Juese besar secara perlahan berjalan menghampiri ketiga orang itu. Ketiga orang itu terus melihat dirinya dan tidak melakukan apa pun.
"Siapa kau pak tua-- Uargh!"
"Benar, siapa kau-- Argh!"
"Ini tidak ada hubungannya denganmu, jadi pergi-- Ugh!"
Tanpa mendengarkan ketiganya Fu Juese besar langsung mendorong mereka alhasil ketiganya sekarang sedang terduduk di tanah.
"Woa. Aku jadi bersemangat, sebenarnya sudah sangat lama Aku ingin melakukan ini dari dulu. Hahaha. Nah, Fu Juese!"
"Ah? I-Iya."
Tiba-tiba pak tua itu memanggilnya.
"Kelemahanmu yang pertama adalah kau tidak memiliki keberanian sama sekali."
"Eh?"
"Padahal mereka bertiga sebenarnya orang yang lemah."
Pak tua tersenyum lebar saat mengatakannya. Fu Juese besar melakukan itu semua demi memberikan Fu Juese kecil sebuah semangat. Suatu contoh untuk membuat dirinya berubah.
Ketiganya sebenarnya adalah seorang pendekar bela diri dengan tingkat Kultivasi Dasar. Seharusnya Fu Juese kecil juga bisa melakukannya, namun karena suatu kondisi yang tidak normal terjadi dalam dirinya memungkinkan dia tidak dapat berkultivasi.
__ADS_1
Fu Juese akhirnya dipandang aneh oleh masyarakat dan dianggap orang yang 'bodoh', 'idiot', atau 'sampah' karena berbeda dan tidak dapat melakukan kultivasi.