
Seketika ledakan terjadi di sana. Kamar Gu Lang hancur dengan meninggalkan lubang besar di tengah temboknya.
Asap banyak keluar dari sana, tapi di balik itu, sosok mata merah sedang mengintai di sana.
"Kukukuku!"
Dia terkekeh.
Mata Gu Lang bergetaran dan dia tampak sangat amat marah. Gu Lang terlihat seolah akan bangkit kapan saja jika dilihat dari raut wajahnya.
"Gahahahaha!"
Bayangan itu masih tertawa sampai Gu Lang dengan terbata menyebut namanya...
"...Fu... H...Ei...."
Dan kabut yang menutupinya perlahan menghilang. Dia adalah Fu Hei. Sosoknya menyeringai dari kegelapan malam.
'Seharusnya, Aku sudah menduganya.'
Dia adalah pelaku misterius yang sebenarnya. Apa yang dilakukan oleh Fu Guanji sebenarnya hanyalah dampak dari dirinya karena merubah masa depan.
__ADS_1
Karena hal itu, beberapa hal menjadi bergeser dari masa depan yang seharusnya, dan Fu Juese harus mampu mengatasi semua perubahan itu.
Motif Fu Hei sudah jelas, kenapa dirinya sampai melakukan ini, yaitu karena status kedudukannya sebagi patriak di keluarga terancam.
Di keluarga, Fu Hei dikenal sebagai boneka saja, sedangkan sosok Gu Lang lebih dikenal sebagai pemimpin utama atau yang aslinya. Intinya, Gu Lang lebih disegani dari Fu Hei di Klan.
Maka dari itu, lama kelamaan pasti pengikut Fu Hei juga akan jatuh dan berbalik mengkhianati tuannya. Maka sebelum semuanya terjadi seperti itu, sekarang adalah waktu yang tepat, menurutnya.
Fu Hei kemudian menyusup ke kamar Gu Lang dan menyerangnya dari belakang. Alhasil, semuanya menjadi seperti sekarang ini.
"Fu Hei!"
Karena Ayahnya baru saja mengeluarkan ledakan energi tenaga dalam yang besar, Fu Juese terlempar dengan jarak lima langkah darinya. Dia bertahan menggunakan tangannya, sedangkan Na Yueyin terlihat sedang melindungi Gu Lang di belakangnya menggunakan tenaga dalam yang tersisa.
Fu Ning, Ibunya, Adik kembar, dan seorang selir berdiri di pinggiran.
"Tempat ini sesak, kan? Mari kita berpindah tempat."
Fu Hei tersenyum saat memandangi Fu Juese.
Fu Hei kemudian melompat dari lantai ketiga. Di sela-sela lompatannya itu, Fu Hei masih bisa memikirkan tentang untung dan rugi. Dia menyayangkan emosinya yang tadi tiba-tiba meluap dan membuat kediamannya meledak, dan karena hal itu dirinya pun tidak mau lagi mengulanginya sehingga Fu Hei memutuskan untuk bertarung di luar.
__ADS_1
Fu Hei mendarat di sebuah taman. Karena taman itu masih memiliki harga yang banyak, dia yang tidak ingin kerepotan memikirkan tentang dampaknya lagi kemudian berpindah tempat sekali lagi lalu memilih untuk bertarung di halaman.
Padahal dia sudah berkhianat dan mencelakakan keluarganya sendiri. Kenapa Fu Hei masih tetap bisa setenang itu, apakah ini sikap yang layak ditunjukkan sebagai kepala keluarga?
Sebelum Fu Juese pergi, tangannya tiba-tiba diraih oleh seseorang.
"Kakak!"
Itu adalah Fu Ning.
"Kakak, Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya, tapi Aku tahu jika kau akan bertarung melawan Ayah kan? Jadi, Aku mohon, jangan pergi kak."
Fu Hei adalah seorang seniman bela diri dengan kelas < Elite >, sedangkan Fu Juese hanya seorang manusia normal tanpa bisa melakukan kultivasi karena inti iblisnya. Apa yang bisa dia lakukan?
Fu Juese kemudian melirik ke arah Na Yueyin, dia juga setuju dan menggelengkan kepalanya sama seperti Fu Ning.
Pada akhirnya, Fu Juese memilih mengabaikan saran semua orang dan tetap melangkah pergi. Dia melompat keluar rumah dari lantai ketiga dan memutuskan langsung menemui Fu Hei.
Na Yueyin yang melihatnya hanya bisa menjulurkan tangannya. Dia sebenarnya ingin ikut membantu tetapi dirinya masih belum bisa sekarang karena sedang sibuk melanjutkan pengobatan Gu Lang.
Gu Lang masih belum sembuh benar, dan karenanya Na Yueyin kemudian berdoa agar semuanya dapat berjalan dengan baik, dan Fu Juese pun dapat kembali dengan selamat.
__ADS_1
Na Yueyin kemudian segera mempercepat kinerjanya.