
Melihat Kakaknya yang sudah terbakar oleh api amarah, Fu Ning kemudian menghadangnya tepat di depan pintu masuk.
"Tidak! Tidak akan kubiarkan kakak pergi begitu saja! Kau harusnya sudah sadar, sudah jelas jika ini hanyalah jebakan jadi jangan termakan langsung begitu saja dengannya!"
Fu Ning mencoba mati-matian untuk mencegah Kakaknya itu pergi namun tetap tidak berhasil bahkan omongannya tidak digubris sama sekali.
"Tunggu lah sebentar, aku akan memikirkan jalan keluar yang terbaik, ingatkan Kakak jika aku ini adalah adik perempuanmu yang paling pintar dan juga paling imut..."
Fu Ning merengek-rengek di sana, tapi kian detik Fu Juese kian dekat dengannya.
'Mukanya begitu gelap, dia sudah termakan emosi, jika sudah begini tidak ada yang bisa mencegahnya.'
Fu Juese pun berjalan begitu saja melintasi adiknya itu seolah hanya sebuah angin lalu biasa.
Dia sama sekali tidak mendengarkan omongan adiknya yang menjelaskan panjang lebar mengenai jebakan atau tipuan di tempat itu.
Dan...
Fu Juese sama sekali tidak peduli semua itu.
Di depan rumahnya, Na Yueyin ikut bergabung dengannya.
"Tidak... bahkan kau juga Kakak Yueyin? Kenapa kalian berdua..."
Fu Ning kemudian menggigit bibirnya.
__ADS_1
Dia juga tidak ingin kalah, pada akhirnya Fu Ning mulai memberanikan diri dan pergi bersama dengan sepuluh naga sebagai pelindungnya.
"Na-Na-Na?"
(Bukankah apa yang dikatakan Fu Ning itu benar? Kenapa kau langsung pergi begitu saja?)
"Aku... tidak ingin sampai melihat mimpi buruk itu terjadi di duniaku."
"Na...?"
(Apa maksudmu itu?)
Na Yueyin hanya memiringkan kepalanya karena kurang mengerti.
"Intinya aku tidak ingin melihat kegelapan itu lagi."
Itulah cerita sedih tentang seorang pria dengan usia yang sangat tua tanpa ada seorang pun di sekitarnya.
Fu Juese kemudian melepaskan gelang besi pada kaki dan tangannya, dia mulai memacu langkahnya agar lebih cepat lagi, dia meninggalkan Fu Ning dan Na Yueyin di belakang dan terus bergerak maju.
Fu Juese sekarang telah sampai di tempat Gu Lang disandera seorang diri.
Dia melihat rombongan itu yang berjumlah lebih dari tiga puluh orang.
'Sangat sedikit, apakah segini saja kekuatan dari bandit yang terkenal itu?'
__ADS_1
Fu Juese mengintai kelompok mereka dari atas bukit.
Dia akan tahu jika ini adalah sebuah jebakan atau bukan dengan mengawasinya secara langsung.
Hari sudah mulai gelap sekarang dan Na Yueyin bersama dengan Fu Ning serta para pengawalnya telah sampai di bukit itu.
"Sebelumnya aku ingin mengatakan ini lebih dulu."
Fu Juese yang terus berjongkok dan melihat tempat kamp milik musuh akhirnya mulai berdiri.
"Aku sama sekali tidak tahu seberapa kuat mereka itu."
Apalagi bandit itu adalah musuh dari seluruh kekaisaran di dunia dan bisa dianggap ******* paling berbahaya.
"Sesuai namanya mungkin kita tidak dapat kembali jika turun ke bawah sana."
Fu Juese mengangkat pedangnya dan mengikatkannya dengan pinggang.
Wajahnya tampak sangat serius.
Dia kemudian menunjuk sesuatu di tengah-tengah kamp.
Di sana Gu Lang terlihat terikat dan diborgol dibawah pohon besar.
Dirinya tampak lemas tidak berdaya dengan rambut yang acak-acakkan dan tertunduk.
__ADS_1
"Tapi aku tidak dapat kembali sekarang sebelum memburu mereka semua."