Catatan Sang Pendekar

Catatan Sang Pendekar
- Perasaan Asli Yin Zixia.


__ADS_3

Fu Juese terlihat celingak-celinguk mencari teman-temannya yang lain. Sampai suara derit kereta kuda pun terdengar dan berhenti tepat di depannya.


Fu Juese yang melihatnya tersenyum.


Ada empat orang yang dikenalnya di sana.


Mereka terlihat sehat dan baik-baik saja.


Satu hari sebelumnya...


Di malam sebelum turnamen berlangsung...


Yin Zixia terlihat sedang galau sendiran di dalam kamarnya.


Dia baru kepikiran apakah ini keputusan yang tepat dan terbaik bukan hanya bagi dirinya melainkan juga negaranya.


Dirinya hanyalah remaja putri yang baru berusia lima belas tahun bulan ini. Dia berpikir dirinya masih sangat muda dan belum pantas dengan hal-hal seperti perjodohan.


Akhirnya dirinya pun membulatkan tekatnya. Dia mengetuk pintu kamar pengawalnya dan menceritakan segala keluh kesahnya.


Setelah mendengar segala cerita dari tuan putrinya Tian Jian pun mengangguk setuju untuk membantu masalahnya.


Besoknya saat turnamen diadakan dirinya akan mengajukan diri untuk ikut serta di dalamnya.


Dirinya bahkan bersedia menanggung malu dihadapan banyak orang jika sampai diolok-olok karena memiliki rasa yang tidak-tidak kepada majikannya.


'Maafkan aku wahai pengawalku Tian Jian tetapi aku sungguh berterima kasih kepadamu.'

__ADS_1


'Tidak masalah bagiku, tuan putri.'


Yin Zixia menundukkan kepala di depan pengawalnya.


Tian Jian telah bersama dengan putri Yin Zixia untuk waktu yang sangat lama. Bahkan lebih dari tujuh tahun lamanya dirinya terus mengabdikan hidup untuknya.


Dirinya juga berjanji bahkan setelah putrinya itu menikah dirinya akan tetap selamanya mengabdikan diri untuknya.


Tian Jian juga merasakan jika menikah dengan Pangeran Wan Feng adalah sebuah kesalahan dan tanpa dasar saling menyukai satu sama lain. Dirinya hanya melihat nafsu di matanya.


'Apa itu cinta?'


Yin Zixia menggeleng saat mendengar kata itu dari Tian Jian.


Masalahnya adalah tuan putrinya itu sama sekali tidak mengerti tentang kasih sayang.


Orang tua Yin Zixia terlalu overprotektif kepadanya dan selalu sibuk setiap saat dengan urusan negara.


Karena tidak ingin kehilangan putri mereka satu-satunya seperti putri mereka yang pertama. Maka Yin Zixia pun ditahan dan terus menerus diamati layaknya burung piaraan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Hal itupun agaknya menjadi lebih longgar setelah kedatangan Tian Jian di sana.


Tian Jian yang baru datang itu dapat mengubah sedikit demi sedikit pemikiran kedua orang tuanya. Bahkan Yin Zixia sampai boleh pergi ke kekaisaran tetangga semua itu juga berkat usulan dari Tian Jian.


Masa lalu seperti itulah yang telah membentuknya sampai menjadi seperti saat ini.


Sikap buruk Yin Zixia terbentuk karena masa lalunya.

__ADS_1


Dia tidak bisa berbicara dengan siapapun. Setiap kali dirinya berbicara dengan seseorang pasti orang itu akan tersakiti. Dirinya tidak pandai bergaul dan melihat situasi.


'Mungkin tuan putri akan merasa lebih baik jika berbicara dengan seseorang yang memiliki usia sama dengan anda.'


Tian Jian kemudian mengusulkan Yin Zixia untuk pergi ke ruangan sebelah.


'Saya akan mengawasi pria itu untuk anda di sini. Oh, dan ingat ini baik-baik, jika pria mesum kecil itu meminta anda untuk masuk ke kamarnya langsung tinju saja di tempat, mengerti?'


Yin Zixia kemudian mengangguk mengerti.


Fu Juese keluar dari kamar setelah mendengar ketukan pintu pelan dari luar.


Fu Juese cukup terkejut setelah membuka pintu dan mengetahui seseorang sedang menatapnya tajam.


'Apakah perempuan ini mengajakku berkelahi malam-malam seperti ini?' Batinnya.


Fu Juese tidak mengetahui perasaan Yin Zixia yang kesulitan merangkai kata dan hanya bisa berbicara langsung ke intinya.


Fu Juese kemudian menyadari adanya keberadaan yang menyeramkan dari luar. Dia melihat Tian Jian terus melototinya di pojokkan.


Karena keberadaan dari orang aneh tersebut Fu Juese pun mengusulkan Yin Zixia untuk masuk ke dalam. Alhasil tiba-tiba Fu Juese mendapatkan sebuah tinjuan dari sang tuan putri dan pintu kamarnya langsung tertutup rapat saat itu juga.


'Kau masih di sana kan?'


'Ya, ada apa?'


Tetapi Fu Juese masih mau diajak berbicara walupun dibalik pintu kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2