
Fu Juese mengumpulkan banyak sekali tenaga di kepalan tangannya. Dia menarik tangan itu ke belakang dan sangat jauh sembari menarik napas. Fu Juese memanfaatkan otot punggungnya demi menambah tenaga pukulannya.
Woooooooosh!
Seketika, dia langsung menyentakkan tubuhnya ke depan dan memutar pinggangnya sangat kencang lurus ke arah perut Gu Lang.
Gu Lang yang menerimanya, bahkan sampai terdorong tiga langkah ke belakang, dia juga sampai dibuat terduduk di atas tanah.
"Mengesankan... ibu tidak bisa lagi berkata-kata."
"Fyuuuuuh..."
Sehubungan dengan itu, Fu Juese mengeluarkan napas sangat panjang.
Gu Lang terlihat puas dan menutup matanya. Setelah mendapatkan pengakuan dari ibunya itu, Fu Juese tersenyum lebar, inilah yang menunjukkan jika latihannya selama ini bukanlah hal yang percuma, atau juga sia-sia.
Sedangkan, para penonton yang ada di pinggiran terlihat membisu dan hanya menganga. Gu Lang, masih memegangi kepalanya yang merasakan sakit kepala. Dia memejamkan matanya cukup lama dan terdiam
.
Beberapa detik kemudian, Gu Lang akhirnya bisa kembali bangun. Pusingnya sudah banyak berkurang sekarang.
"Apa yang tadi itu sebenarnya?"
"Teknik terbaru yang baru saja kuciptakan."
__ADS_1
Gu Lang pun tersenyum dan menatap nanar anaknya. Rasanya dia sangat ingin menangis sejak kemarin.
Dia sudah menangis saat kemaren malam di meja makan tetapi karena tidak mengetahui kekuatan anaknya yang seperti ini. Sekarang, dia ingin menangis kembali.
"Kau sudah berubah."
Fu Juese, sudah bukan lagi seorang anak kecil manja yang biasa dia kenal. Fu Juese, tidak perlu lagi perlindungan darinya seperti di masa lalu.
Dengan fisik sekuat itu, sudah cukup baginyaa bisa bertarung melawan seorang seniman bela diri.
Namun, Gu Lang jadi teringat pada inti iblis anaknya itu. Jika saja kedua inti iblis itu tidak dirusaknya, maka pasti anaknya itu merupakan salah satu jenius bela diri di era ini.
"Ibu berlebihan, sayangnya Aku tahu jika ibu masih terlihat bermain."
"Apa?"
"Ibu masih menahan diri. Jika saja ibu menggunakan tenaga dalamnya, maka hasilnya tentu saja akan berbeda."
"Oho... jadi kau ingin menantang ibu? Baiklah, maju sini kau anak durhaka..."
Fu Juese pun tersenyum dan kembali bersiap, Gu Lang juga melakukan hal yang sama, tapi dia masih belum menggunakan tenaga dalamnya.
Kedua ibu dan anak itupun, melanjutkan latihan sparing mereka di halaman sampai malam hari.
**
__ADS_1
"Ini tehmu, tuan."
Seorang pelayan menunduk dan segera berjalan pergi setelah meletakan satu pot teh di hadapan Fu Guanji.
Di gazebo minimalis itu, berkumpulah Fu Guanji beserta dengan ketiga adiknya. Mereka meninggalkan Fu Juese dan Gu Lang sendirian dan menuju kemari.
Fu Juese masih terus bertarung melawan Gu Lang. Hasilnya, Fu Juese terus dikalahkan di sana.
Ternyata Gu Lang masih bisa menjadi lebih kuat lagi. Tapi, kekuatan fisik Fu Juese juga sama sekali tidak dapat diremehkan. Dia mungkin dapat menandingi Fu Guanji sekarang.
"Kakak, apakah kau juga bisa melakukan hal yang sama persis seperti, Kak Juese?"
Fu Ning tiba-tiba memecah keheningan di sana.
"Kak... Juese? Katamu..."
Fu Guanji sedikit terganggu dengan kata-kata Fu Ning, dia tiba-tiba memanggil Fu Juese dengan sebutan hormat sebagai Kakak-nya.
"Tentu saja, Aku juga bisa! Aku akan melakukan latihan yang lebih gila lagi darinya dan segera menempatkan batas di antara kita!!!!"
Fu Guanji menepuk dadanya dengan keras.
"Serahkan saja padaku, bukankah kau yang mengatakannya sendiri, jika Aku adalah satu-satunya harapan di keluarga!!!"
Dia tidak mengakui sama sekali kekuatan Fu Juese karena terpaku dengan harga dirinya yang sangat tinggi. Sedangkan Fu Ning, dia berbeda, perempuan pintar ini tidak melakukan hal yang seperti itu.
__ADS_1
Dia tulus akan melakukan apa yang dia bisa demi masa depan keluarganya.