
"Pak tua, apa yang kau lakukan?! Kau sama sekali tidak memiliki tenaga dalam, kenapa kau malah menantang mereka berempat?"
Fu Juese kecil berteriak-teriak di sana, dia menjadi orang yang paling berisik pada saat itu tetapi Pak tua di depannya itu malah tidak terpengaruh dan masih tetap tenang. Dia seratus persen tidak mendengarkannya.
"Ayo, kita harus lari, Pak tua!"
"Fu Juese, kau tidak boleh lari. Lari hanya diperbolehkan jika kau benar-benar yakin tidak dapat mengalahkan musuhmu. Kau juga tidak boleh cengeng dan mudah menyerah."
"Pak tua...."
Setelah sedikit ceramah motivasi itu, ketiga orang teman-teman Fu Juese kecil kembali berdiri.
Ketiga temannya itu terlihat kesal dan marah, mereka bersiap menyerang Pak tua meski tahu jika itu melanggar ajaran dari sektenya.
"Hiyaaaah!"
Ketiganya datang bersamaan menghampirinya namun Pak tua itu berhasil menghindari setiap serangan yang datang kepadanya dengan mata yang tertutup.
"Sialan. Kenapa tidak ada yang kena!"
Mereka bertiga menggunakan seni bela diri tangan kosong, meskipun masih belum sempurna tetapi seharusnya itu cukup untuk mengalahkan seorang pria dewasa normal tanpa kemampuan seni bela diri.
"Sial. Sial. Sial. Sial. Sial."
Namun pak tua itu dengan mudah menangkis semuanya tanpa menggunakan tenaga dalam.
"Kau lihatkan, Fu Juese."
__ADS_1
Mereka bertiga kesusahan melawan si pak tua. Padahal dia sudah kehilangan salah satu tangannya. Dia juga tidak memiliki sebelah mata sehingga apa yang dia lihat terbatas. Si pak tua juga sepertinya sedang dalam keadaan sedang tidak sehat.
"Lalu bagaimana bisa?"
Fu Juese kecil mengernyitkan keningnya melihat semua itu, dia mulai mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Pertarungan terlihat bahwa sebentar lagi akan selesai, dan pak tua itu tidak memberikan satu pun serangan kepada mereka, kondisi ketiga orang itu sudah sangat kelelahan karena banyak membuang energi dan tenaga dalamnya.
"Tidak ada pilihan lain, kita harus menggunakannya."
Salah satu dari mereka mengatakannya dan keduanya pun mengangguk. Mereka bertiga bersama-sama mencari sesuatu di saku celananya, itu adalah sebuah pil. Pil itu berwarna merah dan mengeluarkan cahaya.
"Pil Merah Iblis?"
Pak tua itu tahu pil apa itu dan memutuskan untuk bergerak lebih dulu. Dia kemudian memukul orang yang paling dekat dengannya sampai terbalik ke belakang. Dia kemudian melakukan tendangan berputar dan sebuah pukulan mengenai bagian belakang musuhnya. Ketiganya kemudian ambruk satu persatu.
"Guhak! Apa-apaan Pak tua itu..."
"Aku... akan mengingatmu... Pak tua..."
Ketiganya jatuh tidak sadarkan diri.
"Fu Juese, kau lihat. Tidak perlu untuk takut bertarung dengan mereka para seniman bela diri."
"Pak tua, kau sungguh ajaib. Kau baik-baik saja kan?"
"Aku baik-baik saja."
__ADS_1
Meski mengatakan seperti itu tetapi tidak dipungkiri lagi jika dia terlihat tidak baik-baik saja. Dia terlihat begitu letih. Matanya setengah tertutup dan napasnya keluar masuk tidak karuan.
"Fu Juese..."
"Ya."
"Dengarkan aku." Pak tua itu mengambil napas sebelum berbicara, "Aku sudah hidup selama delapan puluh tahun dan masih selamat sampai sekarang, padahal Aku bertarung melawan seluruh pendekar bela diri kuat di dunia. Memang tidak semuanya Aku bertarung secara jujur, Aku harus menggunakan banyak trik dan menggunakan akalku."
Fu Juese mendengarkan semua itu dengan takjub. Siapa sebenarnya Pak tua ini, dan ada apa dengannya dia begitu perhatian sekali kepadanya.
"Kau juga bisa melakukannya sama sepertiku. Aku tidak bisa menggunakan tenaga dalam sama sekali karena sudah terlambat, tapi kau masih belum. Kau masih bisa memperbaiki inti iblismu."
"Benarkah?"
Pak tua itu mengangguk menjawabnya.
"Aku yakin kau adalah orang yang pintar, karena seperti itulah kita berdua. Tapi setelah ini, nasibmu akan jauh berbeda denganku."
Fu Juese besar menyerahkan buku itu kepada dirinya di masa lalu.
"Pak tua, siapa namamu?"
"Aku? Aku adalah Fu Juese."
Pak tua itu tersenyum. Tubuhnya tiba-tiba menghilang dan digantikan dengan seberkas cahaya tepat bersamaan setelah bayangan matahari padam. Dia mati tanpa meninggalkan sedikitpun jejak di sana.
Fu Juese kecil mendapatkan sebuah buku darinya.
__ADS_1