
Na Yueyin ingin memberikan sebuah benda perpisahan kepada Fu Juese.
Tetapi saat dirinya naik ke atas, baru selangkah saja dari pintu masuk langkahnya tiba-tiba langsung berhenti.
Dia ingin menjerit saat itu juga namun tidak ada suara sama sekali yang keluar dari mulutnya.
"H-Hiiik?!!"
Mukanya merah padam dan telinganya berasa panas.
Na Yueyin melihat Fu Juese sedang bersalin di kamarnya. Dia menunjukkan tubuh atas seorang pria sehat dengan bentuk kotak-kotak di perutnya.
Na Yueyin segera berbalik dan berlari kembali menuruni tangga. Dia mengurungkan niatnya untuk memberikan sebuah hadiah perpisahan.
Fu Juese yang kepalanya tertutupi pakaian sama sekali tidak sadar jika ada seseorang yang baru saja masuk ke kamarnya.
Dirinya hanya sekilas merasakan kehadiran seseorang tadinya, tapi saat dirinya berbalik Fu Juese sama sekali tidak melihat apapun di depan pintu.
Na Yueyin akhirnya memberikan hadiahnya setelah semua orang berkumpul di pintu gerbang.
Dia memberikan sebuah jimat keberuntungan yang berbentuk kalung kepada Fu Juese dengan wajah malu-malu. Berulang kali dirinya terlihat menggelengkan kepala karena ingin mengusir bayangan yang dilihatnya sebelumnya.
"Terima kasih."
Fu Juese langsung memakainya di sana. Jimat itu sudah terkenal dan biasa diberikan oleh sepasang kekasih.
Lalu seperti biasa jika di sana ada seseorang yang bahagia, pasti ada juga sosok di seberang yang menderita.
Orang ini terlihat begitu cemburu dan marah saat melihat semua itu. Dia adalah Tian Jian.
Dirinya sekarang sedang mengepalkan tangannya dari balik bayang-bayang kegelapan.
__ADS_1
Sayangnya Tian Jian tidak tahu jika semua orang juga mendapatkan jimat keberuntungan dari Na Yueyin sama seperti Fu Juese. Hanya Tian Jian seorang yang Na Yueyin lupa.
Kesampingkan Tian Jian dengan emosi negatifnya, tuan putri Yin Zixia berjalan mendekati Fu Juese disaat Na Yueyin sedang berkeliling membagikan hadiahnya.
"Kau sangat beruntung karena memilikinya, jika aku seorang pria mungkin saja aku sudah mencekikmu karena cemburu."
Fu Juese pun mengangguk menjawabnya.
"Hmm..."
Pandangan mata Fu Juese kemudian berganti menuju ke arah Gu Lang.
Di sana Gu Lang tampak sibuk. Dia sedang menyiapkan berbagai keperluan untuk perbekalan diperjalanan nanti.
Dirinya terlihat sedang memasukan semua itu ke dalam bagasi kereta kuda.
Lalu kemudian pandangan Fu Juese pun beralih kepada Fu Ning.
Sampai kemudian yang terakhir pandangan matanya kembali menuju Na Yueyin. Dia telah selesai memberikan hadiah kepada semua orang.
Na Yueyin tampak kikuk dan latah karena tiba-tiba ditatap oleh Fu Juese.
Dia mengalihkan mukanya dan terlihat malu-malu sampai beberapa detik kemudian Na Yueyin tiba-tiba mengangkat salah satu tangannya dengan bergetaran dan melambaikannya.
"Kau benar, aku adalah pria paling beruntung."
Fu Juese pun mengatakannya dengan bangga dan tersenyum cerah.
Yin Zixia yang baru pertama kali melihat Fu Juese bisa membuat wajah seperti itu sampai terperangah.
Dunia terlihat sedang bercahaya di sisi Fu Juese. Mana mungkin perempuan siapapun itu tidak akan tertarik jika melihatnya.
__ADS_1
'Tidak tuan putri. Jangan sampai terpengaruh dengan pria buaya sepertinya...'
Tian Jian kemudian berjalan mendekat.
'Bisa gawat jika tuan putri ikut terjatuh di mulut buaya sepertinya.'
Sebagai pengawal sekaligus sosok yang sudah mengenal tuan putri sangat lama Tian Jian sudah tahu jika ada sesuatu yang salah padanya.
Tian Jian tidak merasakan sedikitpun kebencian maupun emosi negatif yang biasa tuan putrinya Yin Zixia tunjukkan kepada setiap orang.
Malah diluar dugaan, saat mereka pertama kali bertemu Fu Juese yang terlihat menunjukkan kebencian dan bersikap dingin kepada tuan putrinya.
Jarang sekali tuan putri Yin Zixia mengajak mengobrol seseorang pertama kali.
Yin Zixia hanya melakukan hal itu kepada orang-orang terdekatnya saja.
Untuk dapat dekat dengan tuan putri Tian Jian saja membutuhkan waktu bertahun-tahun agar Yin Zixia mau menerimanya.
Tetapi anehnya, bagaimana bisa tuan putrinya yang terkenal sulit itu dapat dengan mudah menjadi dekat dengan Fu Juese.
"Hei, bodoh."
"Kau barusan memanggilku apa, sialan?"
"Jangan sampai kau merepotkanku nanti dalam perjalanan, sialan."
"Itu harusnya menjadi kalimatku, bodoh"
Fu Juese bersama dengan Tian Jian kemudian saling melotot satu sama lain.
Melihat pengawalnya yang tiba-tiba menjadi aneh Yin Zixia pun menghela napas dengan mengusap jidatnya.
__ADS_1