
Fu Juese bertanya-tanya.
'Apa yang tadi itu?'
'Apa yang baru saja diperbuat Tian Jian.'
'Apa itu adalah inti iblis dari Tian Jian?'
Dalam kaca mata Fu Juese, hanya dalam satu kedipan mata saja Tian Jian berhasil membalik segalanya. Dia berhasil mengalahkan Wan Feng bahkan membuatnya kehilangan salah satu anggota tubuhnya.
Di arena Wan Feng terlihat meringis dan terus menjerit kesakitan.
Darah mengucur dan bersimbah di lantai. Wan Feng terlihat berlutut sembari memegangi lukanya.
Tian Jian berhasil memenangkan pertempuran.
Dia kemudian memasukkan pedangnya kembali ke sarungnya.
Para pengawal dari Wan Feng satu persatu melompat turun ke bawah.
Mereka mencoba mengobati luka sang pangeran.
Para hadirin yang melihatnya kemudian bertanya-tanya.
'Apakah pertempuran benar-benar berakhir seperti ini?'
'Dengan kekalahan satu-satunya pangeran mereka yang tersisa?'
'Apakah keputusan Wan Kai setelah melihat semua ini?'
Para hadirin dan penonton mendadak cemas.
Tapi sayangnya Wan Kai tetap terdiam dan tampak acuh di singgsananya walaupun melihat putranya sendiri terluka.
__ADS_1
Di sana juga sudah tidak ada lagi keluarga kerajaan yang tersisa.
Semua orang menjadi miris dan kasihan ketika melihatnya.
Karena tidak terima dipermalukan tiba-tiba Wan Feng menunjuk ke arah Tian Jian.
"Aku tidak terima. Habisi orang itu sekarang!"
Dia memberi perintah kepada pengawalnya.
"Segera dilaksanakan Tuan."
Salah satu dari pengawal itu menunduk mengerti. Dia bergerak dengan mengeluarkan tangan dari balik jubahnya yang besar. Sepertinya oang itu adalah pendekar dengan keterampilan tangan kosong.
Para penduduk dan bangsawan yang melihatnya mulai tercengang. Hal ini sudah bukan lagi festival turnamen yang biasa mereka kenal.
Mereka semua bingung harus bersikap bagaimana sekarang sedangkan sang raja malah tampak tidak peduli dan terus menerus bersikap cuek.
"Aku menantangmu."
Para hadirin pun hanya mengangguk saja dan kembali menjadi tenang. Mereka pikir itu adalah perintah dari sang raja.
Melihat suasana yang sudah tidak lagi kondusif dan menjadi menegangkan. Fu Juese segera bergerak dan memberi perintah kepada Peijing.
Peijing yang mendengarnya lalu mengerutkan dahinya karena tidak paham.
"Cepatlah, sudah tidak ada waktu lagi."
Bentak Fu Juese.
Sampai beberapa saat kemudian Peijing hanya mengangguk dan segera melaksanakan perintah dari Fu Juese.
"Ibu, tolong terus berada di sekitar tuan putri."
__ADS_1
Perlahan Fu Juese berjalan ke arah panggung arena.
"Tunggu. Apa yang mau kau lakukan?"
"Ada sesuatu di sini yang terus membuatku penasaran."
"Kau... tidak bermaksud bertarung kan?"
"Kita lihat saja nanti."
"Tidak... tunggu dulu, jangan pergi!"
Fu Juese kemudian menghilang.
Pertarungan antara pengawal dan Tian Jian pun dimulai.
Tian Jian dengan tubuh penuh luka mencoba menyerang musuhnya itu namun terlihat kesulitan.
Mereka berdua memiliki kekuatan yang seimbang. Tapi karena pertarungan melawan Wan Feng sebelumnya, Tin Jian tampak lemas dan tidak bertenaga.
Pengawal itu juga terlihat terus bermain-main saja di sana. Menggunakan tangan kosongnya Tian Jian terus dibuat tidak berdaya.
Sesekali Tian Jian mendapati kesempatan untuk menyerang tetapi hal itu hanya permainan dari pengawal itu saja.
Pedang Tian Jian bahkan tidak bisa meninggalkan bekas sedikitpun di tubuh musuhnya.
Pengawal itu memiliki tubuh yang keras seolah seperti batu saja, beberapa kali pedang Tian Jian terlihat terpental saat ingin mengakhiri nyawa musuhnya.
Tian Jian terus menerus berdecak kesal. Dia ingin secepat mungkin mengakhiri pertarungan tetapi tidak bisa.
Dia melirik ke arah Gu Lang dan meminta bantuan tetapi Gu Lang terlihat sibuk mencari seseorang. Dia juga terlihat sedang melindungi tuan putri.
"Sialan! Dimana si bodoh itu pergi sekarang!?"
__ADS_1
Umpat Tian Jian menggigit mulut.