
Tinggal dua hari lagi sebelum perempuan bernama Na Yueyin ini akan tiba dan Fu Juese telah melatih fisiknya di halaman rumah dan lingkungan sekitar setiap hari, karena itu adalah saran pertama dari buku itu.
Fu Juese sekarang sedang melakukan peregangannya yang seperti biasa. Setelah itu, dia menggunakan gelang besi seberat 2kg di tangan dan kakinya.
Saat pagi dia akan berlari, setelah itu makan siang, dan kembali melanjutkan latihan kekuatan dengan memukul sebuah pohon misterius terus menerus di hutan sampai matahari tenggelam.
Pohon itu sangat besar dan kokoh, tingginya bahkan melampaui menara, pohon itu memiliki ketebalan sampai lima kali tangan orang dewasa. Pohon itu bahkan disebut sebagai pohon dunia.
Malamnya Fu Juese tidak berhenti, dia berlatih teknik pernapasan hingga akhirnya tertidur, tapi hal itu sama sekali tidak berguna karena tenaga dalamnya yang sama sekali tidak bertambah berkat inti iblisnya yang masih rusak.
Banyak orang yang mengejek usaha dari Fu Juese. Mereka kebanyakan berasal dari murid-murid di sekte.
"Apa-apaan bocah itu, kenapa dia tiba-tiba mendadak menjadi aneh?"
"Kenapa dia tidak berhenti saja melakukannya?"
"Tidak ada gunanya seorang sampah melatih fisiknya, sedangkan di dalamnya kosong!"
"Hahaha!"
"Hahahaha!"
Fu Juese tidak mendengarkan omongan mereka dan masih berlari.
Fu Juese memang memiliki fisik yang lemah, karena itu dia sesekali ditemukan jatuh pingsan di tengah jalan.
"Kalian lihat itu, puhahaha! Lucu sekali!!! Dia tertidur di tengah jalan?!"
__ADS_1
"Orang bodoh pasti enak bisa bebas melakukan apa saja yang dia inginkan!"
Mereka asik menertawakannya dan bukan menolong. Meski begitu Fu Juese masih tetap disiplin dan terus berlatih esoknya.
Dia tidak ingin mengalami nasib yang sama seperti di dalam cerita pak tua di buku catatannya, Fu Juese tidak ingin menapaki jalanan yang berduri selama hidupnya. Itulah yang memicu dirinya terus melangkah.
Di dalam matanya, Fu Juese yakin jika dirinya bisa merubah semua itu.
"Perjalananku masih sangat jauh dan sangat panjang. Ini semua masih belum seberapa!"
Fu Juese semakin serius dengan latihannya, dia juga tidak pernah terlihat bermain lagi bersama teman-temannya.
Saat memiliki waktu istirahat, Fu Juese menggunakannya untuk belajar bahasa isyarat. Dia melakukannya karena ingin menyuarakan suara Na Yueyin.
Hanya itulah satu-satunya cara untuknya membalas budi atas apa yang sudah dilakukannya kepada pak tua di masa depan.
Pagi itu sebuah kereta kuda sampai di depan kediaman rumah bangsawan Klan Fu.
Seorang pria dan satu orang wanita keluar dari dalamnya.
Pria itu menunduk, memberikan namanya dan menjelaskan maksud kedatangannya. Dia adalah utusan dari keluarga Na. Mereka berdua kemudian dipersilakan masuk oleh kepala keluarga, Fu Hei.
Di dalam buku catatan, Na Yueyin hanya digambarkan sebagai sosok yang cantik jelita, seorang dewi, atau pun malaikat putih polos. Tidak ada satu pun dari semua kata-kata itu yang dapat menjelaskan mengenai ciri fisik Na Yueyin.
'Kurasa Pak tua itu terlalu berlebihan.'
Fu Juese tidak tahu apakah semua kata-kata itu adalah hal yang tepat untuk dikatakan kecuali bagi seorang penguntit, tetapi perempuan yang keluar dari kereta kuda itu cukup cantik juga, pikirnya.
__ADS_1
Pandangan keduanya tiba-tiba bertemu, hampir saja Fu Juese mengalihkan matanya karena tersipu malu. Tapi Fu Juese tidak melakukannya dan tersenyum menyapanya.
Perempuan itu masih mengunci mulutnya, sedangkan utusan dari keluarga Na terlihat asik mengobrol dengan Fu Hei.
Fu Juese yang melihat itu pun tersenyum pahit.
'Malang sekali, nasibnya."
Fu Juese kemudian memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara, dia menggunakan bahasa isyarat.
(Siapa namamu?)
Sontak mata perempuan cantik itu melebar dan mulutnya sedikit menganga.
'Eh? Apakah ada yang salah? Aku tidak mengatakan hal yang aneh kan?'
Fu Juese yakin jika gerakan tangannya sudah tepat, tapi perempuan itu malah mematung dan tidak menjawabnya.
"Na... Na..."
Tiba-tiba dia berbicara, Fu Juese segera melihat gerakan tangannya.
(Salam kenal, namaku adalah Na Yueyin)
Jadi Na Yueyin ternyata benar datang, sekarang baru satu isi buku catatannya yang terbukti benar.
Setelah itu Na Yueyin terdiam menyegel mulutnya, sedangkan Fu Juese masih tersenyum tipis di sana.
__ADS_1