
Zyva sudah tiba di Hall dan duduk di samping Adel. Zyva melihat perolehan suara Yuda dan Angga paling unggul diantara kandidat yang lain.
"Cieee, gebetannya jadi Ketua OSIS nih yee." ledek Zyva pada Adel yang tidak luput memandang Yuda dari kejauhan.
"Iya Zy, liat deh. Ketampanan Yuda jadi naik dua ratus persen kalo jadi ketua OSIS." bisik Adel membuat Zyva terkekeh geli.
"Emang ya, kalo udah bucin mah susah." balas Zyva.
Kini Yuda resmi memenangkan pemilihan ketua OSIS dan sekarang Yuda mulai memberikan sambutan awal menjadi Ketua OSIS baru. Jangan ditanya bagaimana Adel kini yang semakin kagum dengan Yuda.
Setelah Yuda mengakhiri pembicaraannya, kini para senior dan kandidat yang lainnya memberikan selamat pada Yuda dan Angga.
Seluruh rangkaian acara pun selesai, kini para siswa beristirahat dan memenuhi kantin sekolah.
"Aku mau lihat keadaan Neffy dulu di UKS. Kamu mau ikutan gak?" tanya Zyva. Adel langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku nyusul aja deh, Zy. Gak papa kan? Aku mau kasih selamat ke Yuda sama Angga dulu soalnya." jawab Adel.
"Oke deh, kalo gitu aku duluan ya." ucap Zyva yang langsung melangkahkan kakinya ke UKS.
Sesampainya di pintu UKS, Neffy masih terbaring lemas di atas tempat tidur.
"Neffy, masih lemes ya?" tanya Zyva. "Apa mau pulang aja? Ada yang antar jemput gak?"
"Gak ada Zy, papa mama aku sibuk." jawab Neffy yang tiba-tiba menutup mulutnya dan berlari ke toilet.
Dari luar toilet, Zyva mendengar Neffy muntah muntah lagi. Zyva langsung mengambilkan air hangat dari dispenser UKS. Saat Neffy keluar dari kamar mandi, Zyva langsung menyodorkan air minumnya pada Neffy.
"Minum dulu Neff, mumpung masih hangat." ucap Zyva.
Neffy langsung meneguk habis air yang diberikan oleh Zyva. "Thanks ya Zy." ucap Neffy dan Zyva hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku mau pesen ojek online aja nanti Zy, aku titip kumpulin tugas aja ya nanti." pinta Neffy mengetikkan pesanan ojek online.
"Oke, nanti aku kumpulin tugasnya." jawab Zyva. Tidak lama kemudian Dena dan Adel datang membawakan tas Neffy. Lima menit selanjutnya, ojek online yang Neffy pesanpun tiba.
Setelah Neffy pulang, Zyva dan yang lainnya langsung menuju ke kelas karena sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai.
...***...
Bel pulang sekolah pun berbunyi, para siswa SMA Gelora Internasional langsung berhamburan keluar kelas.
"Zy, pulang bareng yuk." ajak Dena.
"Aku mau latihan berenang dulu Den. Adel dijemput atau mau bareng Dena?" tanya Zyva.
__ADS_1
"Emmm, pulang bareng Dena aja deh. Yuk Den." ajak Adel mengamit tangan Dena. "Kita duluan ya Zy." Adel melambaikan tangannya ke arah Zyva.
"Oke, hati hati ya. See you tomorrow." balas Zyva yang langsung berjalan ke arah kolam renang.
Yuda memanggil Zyva saat melihat Zyva berjalan melewati depan kelasnya.
"Zyva," panggil Yuda membuat Zyva menghentikan langkahnya.
"Oh, hai Yuda. Congrats ya." Zyva mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Yuda.
"Thanks, Zyva. Kamu mau kemana? Gak pulang?" tanya Yuda kemudian.
"Latihan renang buat kompetisi bulan depan. Kamu ikut kompetisi juga kan? Latihan bareng yuk." ajak Zyva.
Tentu saja penawaran dari Zyva tidak ditolak oleh Yuda yang langsung mengambil tasnya dan mengikuti langkah Zyva ke arah kolam renang.
Sesampainya di kolam renang, Adrian sudah berdiri dengan seorang wanita yang akan mendampingi Zyva berlatih berenang. Sayangnya Adrian langsung mengerutkan dahinya saat melihat Zyva datang bersama dengan Yuda. Terlebih saat mereka terlihat sangat dekat hingga membuat Adrian sedikit merasa cemburu.
"Maaf Mr, saya ajak Yuda gak papa kan? Dia juga perwakilan dari sekolah kita bukan?" tanya Zyva yang membuat Adrian mau tidak mau menganggukkan kepalanya.
"Thanks a lot Mr Adrian atas izinnya." ucap Yuda.
"Sama-sama." jawab Adrian singkat.
Yuda selalu kalah waktu dengan Zyva meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga. Akhirnya latihan berenang siang ini pun usai setelah Miss Joey melihat Yuda kelelahan.
Zyva dan Yuda pun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.
"Mr Adrian, saya rasa Zyva tidak perlu pelatih berenang lagi karena ia sudah sangat mengusai setiap gaya berenang. Jadi cukup dengan terus berlatih sendiri, saya pastikan ia akan memenangkan kompetisi bulan depan." jelas Miss Joey.
"Oh baiklah kalau begitu, Miss Joey. Terima kasih banyak atas bantuannya hari ini." ucap Adrian.
"You're wellcome. Kalau begitu saya permisi dulu." miss Joey undur diri dari hadapan Adrian.
Zyva terlihat keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Mr Adrian pun melambaikan tangannya memanggil Zyva agar mendekat ke arahnya.
"Ini buat kamu, Zyva." Adrian memberikan minuman dan roti coklat kepada Zyva.
"Thanks a lot, kak." ucap Zyva pelan membuat Adrian sangat gembira.
Zyva langsung melahap pemberian Adrian dan tak lama kemudian Yuda keluar dari kamar mandi.
"Kamu mandi lama amat Yud, kayak cewek aja." ucap Zyva sambil memasukkan potongan roti yang terakhir ke dalam mulutnya.
"Tadi airnya sempet mati, Zy. Makanya lama deh jadinya." jawab Yuda.
__ADS_1
"Pulang bareng yuk, Zy. Aku dijemput nih." ajak Yuda.
"Emang gak ngrepotin kamu nantinya Yuda. Gak usah deh. Aku pulang sendiri aja." Jawab Zyva.
"Ayo ikut aja. Mau ke rumah Dena kan?" Yuda menarik tangan Zyva.
Akhirnya Zyva mengikuti ajakan Yuda mengingat dirinya juga harus lebih berhemat untuk membayar uang sekolah.
"Kami permisi dulu Mr Adrian. See you." Zyva melambaikan tangannya pada Mr Adrian.
Adrian terdiam menatap Zyva dan Yuda meninggalkan dirinya sendiri di kolam renang. Setelah Zyva tidak terlihat, Adrian menghentakkan kakinya kesal. "Si*l, harusnya aku bisa mengantarkan Zyva pulang. Kenapa harus Yuda sih yang anterin anak itu." gerutu Adrian kesal.
"Besok aku harus mengantarkan Zyva pulang lebih dulu. Adrian gak boleh kalah sama bocah ingusan kayak Yuda." gumam Adrian. Yang langsung pergi meninggalkan kolam renang.
Adrian langsung menjalankan mobilnya ke Mansion miliknya. Sesampainya di Mansion, ia melihat mobil papa dan mama tirinya sudah terparkir di garasi. Adrian pun langsung melangkahkan kakinya ke Mansion dan ingin segera menemui mamanya.
Tapi baru saja Adrian hendak membuka pintu, terdengar keributan di dalam Mansion.
"Kenapa kau terus membohongiku, Pah. Siapa gadis yang sudah menjadi teman malammu selama ini?" teriak Pristina saat mengetahui suaminya selingkuh dengan seorang gadis.
"Wajar tidak jika aku bermain dengan seorang gadis di luaran sana jika kau saja jarang di rumah. Kau hanya menghamburkan uangku dan memperalat putraku menjalankan tugasmu di sekolah?" suara Tuan Clovis menggelegar memenuhi ruangan membuat Adrian menghentikan langkahnya.
"Aku keluar juga untuk bekerja, aku sedang menjalankan bisnis dengan teman-temanku." jawab Pristina dengan suara bergetar.
"Lagipula aku sudah muak denganmu Pristina. Lebih baik kau kembali saja dengan suamimu yang dulu. Selama ini kau sungguh tidak menguntungkan bagiku." ucap Clovis meninggalkan Pristina sendiri di ruang tamu.
Pristina langsung mengejar suaminya yang masuk ke dalam ruang kerja. Adrian yang masih sangat penasaran pun masuk ke dalam Mansion dan menuju ke depan pintu ruang kerja papanya, berusaha menguping pembicaraan kedua orang tuanya.
"Pah, aku sudah mendapatkan anak perempuan itu. Kau akan menjadi pemilik Gelora Internasional seutuhnya asal kau tidak meninggalkan aku." ucap Pristina kencang.
"Kau menemukan putri sialanmu itu?" tanya Clovis dengan mata berbinar.
Gelora Internasional yang direbut oleh Pristina tidak dapat menjadi hak milik Clovis selama surat waris, surat tanah dan berkas lainnya di atas namakan putri semata wayang Ray Pratama dan Pristina, yaitu Zyvanna Ray. Selama ini mereka hanya menikmati hasilnya saja tanpa berhak memiliki Gelora Internasional sama sekali.
"Ya, aku bertemu dengan Zyva anak perempuanku." jawab Pristina membuat Adrian sangat terkejut.
"Ayah Zyva sudah meninggal dunia, dan akan dengan mudah menaklukkan Zyva untuk mengalihkan aset atas namanya menjadi atas namaku." jelas Pristina membuat Adrian membelalakkan matanya. Ia sangat tidak menyangka orang tuanya bertindak sangat keji diluar batas kewajaran.
"Tidak. Bukan atas namamu, melainkan atas namaku, Tina." ucap Clovis dan Pristina langsung menyetujuinya.
Mendengar hal tersebut, Adrian merasa sangat terpukul. Kini ia kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya menghadap ke langit-langit kamar.
"Zyva adalah putri mama Tina. Berarti, Zyva adalah adik tiriku." gumam Adrian.
"Sungguh, aku tidak paham apa maksud dari semua ini." Adrian mengusap wajahnya kasar. Kemudian ia mengambil handuk dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1