
Di lain sisi, Yuda masih saja mengutak utik data yang ada di ponsel menggunakan cara yang disebutkan Zyva. Sedikit lagi data memory yang ada dalam ponsel Yuda akan berpindah dalam laptop miliknya.
"Berhasil.!!!" pekik Yuda melihat data ponsel miliknya masih utuh dan kini sudah tersimpan di laptopnya. Yuda segera mencari video rekaman Zyva yang sedang mandi di kamar mandi sekolah. Tapi sayangnya video rekaman yang ia cari tidak ada dan itu membuat Yuda mulai gusar. Akhirnya Yuda menghubungi Devan untuk menanyakan hal ini.
..."Halo, Devan. Video yang aku tunjukkan padamu kenapa tidak ada di dalam data memori ponselku?" tanya Yuda. "Apa kau sempat menghapusnya?"...
..."Coba kau cek sekali lagi." jawab Devan diujung panggilan....
..."Aku sudah mengeceknya berkali-kali." jelas Yuda....
..."Aku tidak menghapusnya, tetapi sebelum terjatuh aku memang sedang memegang satu tombol dan berakhir ponsel itu jatuh ke kolam." terang Devan membuat Yuda mendengus kesal di ujung panggilan....
..."Apa tombol yang kau pegang saat itu adalah tombole delete? Kenapa videonya bisa tidak ada sama sekali?" tanya Yuda dengan nada kesalnya. ...
..."Aku tidak tahu pasti, Yud. Memang video rekaman itu akan kau gunakan untuk apa?" tanya Devan kemudian....
..."Oh, tidak ada. Ya sudah aku akan coba mengeceknya lagi. Udah dulu yaa." ucap Yuda dan kemudian panggilan terputus....
"Aku gagal mengancam Zyva untuk mundur dari pertandingan menggunakan video rekaman itu. Hemmm, tapi aku akan mencobanya besok lagi." gumam Yuda.
Sedangkan Devan makin curiga dengan tindakan Yuda kali ini. Ia harus membicarakan pada mamanya untuk menutup rapat ruang kamar mandi renang yang atasnya masih terbuka dan memudahkan untuk orang lain mengintip dari kamar mandi sampingnya.
Ia pun segera menemui mamanya yang masih ada di ruang kerja bersama papanya untuk membicarakan perihal kamar mandi wanita di kolam renang.
"Devan, bukankah memang model kamar mandinya seperti itu?" tanya Mama Auryn. "Memang kenapa sih harus ditutup rapat segala? Berarti kan perlu pengeluaran besar."
__ADS_1
Auryn sedikit curiga dengan permintaan putranya yang tidak biasanya. Selama ini Devan tidak pernah mempermasalahkan tatanan sekolah sama sekali. Akhirnya Devan menceritakan tentang Yuda yang sempat merekam Zyva yang sedang mandi. Meskipun Zyva menggunakan bra dan cdnya, tetap saja hal yang dilakukan Yuda membuat Devan geram, begitu pula Auryn.
"Baiklah, mama akan segera merenovasinya besok. Sekarang panggil Dena dan Zyva, waktunya makan malam." ucap Auryn.
Tak berapa lama, semua anggota keluarga Ivander sudah duduk melingkari meja makan. Devan duduk di samping Zyva, tetapi Devan dan Zyva benar-benar tidak terlihat seperti sepasang suami istri. Zyva terlihat cuek saat Devan mengambil nasinya sendiri. Sedangkan Devan juga tidak ambil pusing untuk itu.
"Zyva," panggil Dena. "Suaminya diambilin makanan dong." seloroh Dena membuat Zyva sedikit kelabakan dan meletakkan piringnya ke meja.
Zyva melihat ke arah Devan dan Devan langsung menyodorkan piringnya. "Mau lauk seafood atau ayam, Dev?" tanya Zyva yang memang belum tau menu kesukaan Devan.
"Seafood aja Zy." jawab Devan singkat dan Zyva segera menaruh lauk di piring makan Devan. Setelah mengambilkan lauk untuk Devan, kini Zyva baru mengambil makan untuknya sendiri.
"Zyva, besok oma dan opa akan berkunjung ke sini, malam ini kamu tidur di kamar Devan ya." ucap Mama Auryn membuat Zyva langsung tersedak.
"Tidak bisa Zy, biasanya opa dan oma membawa Sepupu Liza dan ia pasti tidur bersamaku." jawab Dena.
"Udah, tidur sama Devan aja. Lagipula anak papa juga gak akan gigit kamu." tukas papa Zen membuat Zyva kini tidak ada pilihan lain selain tidur bersama Devan.
"Betul tuh kata papa, Zy. Nanti ibu akan minta tolong Bi Tum untuk memindahkan barang barangmu ke kamar Devan." ucap Mama Auryn sambil mengelap mulutnya.
"Mama duluan yaaa. Kalian habiskan dulu makanannya."
Mama Auryn dan Papa Zen lebih dulu meninggalkan meja makan dan kembali ke kamar. Malam ini papa Zen akan mengecek ANCY bersama mama Auryn. Devan menyusul meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya. Kini tinggal Zyva dan Dena yang masih ada di meja makan.
"Sebelum oma, opa, dan sepupumu datang, aku tidur sama kamu dulu ya Den." pinta Zyva membuat Dena langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Eiiitzz gak bisaa dong. Kamu boboknya ama babang Devan aja." ucap Dena yang langsung ngacir ke kamarnya dan menguncinya.
Kini Zyva sendirian yang masih ada di ruang makan. Bi Tum baru saja lewat dan memberi tahukan Zyva bahwa barang barang miliknya sudah dipindahkan ke kamar Devan. Zyva mengusap wajahnya kasar.
"Oke Zyva. Kau bisa tidur di sofa kamar Devan." gumam Zyva sambil melangkahkan kakinya menuju kamar Devan. Sesampainya di depan pintu kamar Devan, Zyva pun mengetuk pintunya.
Devan langsung membuka pintu kamarnya, "Ntar gak perlu ketuk pintu. Langsung masuk aja." ucap Devan dan Zyva langsung masuk ke dalam.
Betapa terkejutnya Zyva saat sofa yang ada di kamar Devan, kini sudah tidak ada. "Dev, sofa yang disini kamu kemanain?" tanya Zyva.
"Aku pindahin ke kamar yang akan dipakai Oma." jawab Devan.
"Trus aku tidur dimana dong?" tanya Zyva.
"Di kasur lah. Emang kamu mau tidur dimana? Gak usah mikir macem-macem deh." tukas Devan yang langsung duduk di meja belajar dan membuka bukunya.
"Oke, Jangan lupa dengan surat perjanjian kita. Aku akan kasih batas di tengah-tengah. Jangan melewati batas ini atau aku akan memberilan denda." ucap Zyva dan hanya dibalas dengan deheman oleh Devan yang kini sudah fokus membaca bukunya.
Zyva yang sudah sangat lelah setelah berenang dan belajar dengan Dena pun langsung naik ke atas ranjang Devan dan memberi batas guling di tengah-tengah tempat tidur. Tak lama kemudian Zyva sudah masuk ke dalam alam mimpinya.
"Cepet banget tidurnya." gumam Devan saat dilihatnya Zyva sudah terlelap. Devan beranjak mendekati Zyva dan menyelimuti tubuh gadis yang sekarang menjadi istrinya.
Devan terus saja memandangi wajah cantik Zyva dan mengecup kening istrinya pelan. "Aku memang masih sekolah, sama sepertimu, Zyva. Tapi aku berjanji, aku bisa menjadi suami yang bertanggung jawab untuk mu." ucap Devan pelan.
Devan pun naik ke atas tempat tidurnya dan tidur di samping Zyva. Ia menyingkirkan guling yang diletakkan Zyva di tengah-tengah sebagai batas mereka. Tanpa menunggu lama, mata Devan pun terpejam dan ia menyusul Zyva ke alam mimpi.
__ADS_1