
Pagi ini kondisi Zyva sudah lebih baik dari sebelumnya. Setelah membersihkan dirinya, Zyva membantu Miss Auryn untuk membuat sarapan. Meskipun keluarga Dena memiliki asisten rumah tangga, tetap saja Auryn memasak jika libur tiba.
"Zyva, bagaimana keadaanmu, sayang?" tanya Miss Auryn.
"Sudah lebih baik Miss. Terima kasih sudah merawat Zyva dengan baik." ucap Zyva yang sedikit canggung dengan kepala sekolahnya ini.
"Hei, ini bukan di sekolah Zyva. Panggil mama, atau ibu seperti kemarin kau memanggilku. Bukankah kini kau putriku juga?" Miss Auryn memberi penekanan di akhir kalimatnya.
"Hemmm, baik ibu. Aku hanya belum terbiasa saja." jawab Zyva yang kemudian membantu mengupas wortel.
"Nanti juga akan terbiasa sayang." ucap Miss Auryn sambil terus meracik makanan.
Setelah kurang lebih setengah jam berkutat di dapur, kini masakan Auryn dan Zyva sudah siap untuk di sajikan. Keduanya langsung melepas celemek yang mereka kenakan dan memanggil seluruh anggota keluarga untuk sarapan.
"Waaaah, masakan istri papa ini memang gak ada duanya." ucap Papa Zen memuji istrinya.
"Udang saos padang itu tadi Zyva yang memasaknya." jelas Miss Auryn membuat Papa Zen, Dena, dan Devan serentak memandang ke arah Zyva.
"Waaaaah, kau pandai sekali memasak Zyva." puji Dena. "Sepertinya kau sudah lebih baik pagi ini. Bagaimana keputusanmu? Pilih Mr Adrian atau Devan?" tanya Dena kemudian.
Kini semua yang ada di meja makan menunggu keputusan Zyva. Papa Zen sangat berharap Zyva memilih putranya, karena ia sangat paham perasaan Devan terhadap Zyva. Mama Auryn juga berharap Zyva memilih putranya, setidaknya agar Dena dan ia sendiri memiliki teman baru di Mansionnya.
Jangan ditanya bagaimana Devan dan Dena yang juga sangat ingin Zyva menjadi bagian dari anggota keluarga mereka.
"Emmmmhhh, aku tidak ingin melewatkan kasih sayang seorang ibu yang baru saja aku rasakan. Dan aku juga masih ingin merasakan kasih sayang seorang ayah. Dena, bolehkah aku berada di antara kau dan Devan untuk sama sama merasakan kasih sayang ayah Zen dan Ibu Auryn?" tanya Zyva membuat semuanya makin penasaran apa maksud dari perkataan Zyva.
"Adakah kau hanya ingin menjadi anggota keluarga kami dan menikah dengan Mr Adrian, atau kau..." pertanyaan Dena langsung di jawab oleh Zyva dengan mantap.
"Aku ingin Devan yang menikahiku." ucap Zyva membuat mata Devan langsung berbinar.
__ADS_1
Devan sedikit salah tingkah di hadapan keluarganya, tapi ia langsung dapat menguasai suadana hatinya yang bergemuruh riang gembira.
Mr Adrian yang baru saja datang dan berdiri tepat di tengah pintu Mansion yang terbuka bersama dengan Pengacara Rudi juga mendengar ucapan Zyva yang terdengar sangat mantap. Adrian menarik nafasnya pelan dan menghembuskannya perlahan kemudian ia memberi salam.
"Waaah, Adrian dan pengacara Rudi. Silahkan masuk. Bergabunglah sarapan bersama dengan kami." ajak Papa Zen sambil melambaikan tangannya.
Meski agak sedikit sungkan, Adrian dan Pengacara Rudi pun ikut bergabung untuk sarapan bersama keluarga Miss Auryn.
Setelah selesai sarapan, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk membahas kelanjutan dari permasalahan Zyva.
"Saya tadi sempat mendengar bahea Zyva telah memilih Devan unyuk menikahinya. Boleh saya tahu alasannya Zyva?" tanya Pengacara Rudi.
"Aku tidak hanya memilih Devan, tapi aku juga memilih seluruh anggota keluarga Devan untuk menerima diriku menjadi anggota baru keluarganya." ucap Zyva membuat pengacara Rudi kagum dengan jawaban yang diberikan Zyva.
"Adrian, bagaimana denganmu?" tanya Pengacara Rudi.
"Baiklah kalau begitu, aku akan segera mempersiapkan berkas pernikahan Zyva dan Devan, aku akan pergi bersama Adrian. Tolong siapkan tempat dan beberapa saksi disini. Aku akan segera kembali siang ini." ucap Pengacara Rudi yang kemudian langsung undur diri bersama Adrian.
Mama Auryn dan Papa Zen langsung menghubungi beberapa vendor dan orang kepercayaan mereka untuk hadir dalam pernikahan putra dan putri mereka. Dena diminta untuk mendampingi Zyva, sedangkan Devan turut membantu papa dan mamanya untuk mempersiapkan acaranya.
Papa Zen dan Miss Auryn akan merahasiakan pernikahan putranya karena mereka masih sama sama bersekolah, tetapi Miss Auryn tetap mengundang para guru yang dipercaya dapat menjaga rahasia keluarga mereka.
Saat yang lainnya sibuk, Zyva justru diminta Dena untuk menemaninya menonton drama romantis di kamar Dena.
"Aku seneng banget loh Zy, akhirnya punya saudara perempuan." ucap Dena. "Eh iya, Adel sama Neffy mau dikabarin gak?"
"Jangan Den, cukup kita aja. Aku malu." jawab Zyva.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk dan nampak dua orang MUA yang diantar oleh Devan. Kini semua anggota keluarga Zen Ivander benar-benar disibukkan dengan serangkaian acara pernikahan Devan dan Zyva.
__ADS_1
Suasana hectic memenuhi kediaman Zen Ivander. Para tamu undangan yang merupakan tamu undangan Zen dan Auryn sudah hadir. Penghulu dan saksi sudah datang lima belas menit yang lalu. Kini mereka tinggal menunggu Adrian dan pengacara Rudi yang tidak kunjung datang.
"Pah, udah ditelfon belum Pengacara Rudi?" tanya Auryn yang terus saja menghubungi Adrian.
"Udah Mah, tapi belum diangkat." jawab suaminya.
Para tamu tidak begitu bosan menunggu acara dimulai karena mereka di sajikan pertunjukan yang dikemas dengan baik oleh orang kepercayaan Zen sambil menikmati hidangan pembuka yang sudah dipesan oleh Auryn.
Devan dan Zyva sudah duduk di hadapan penghulu, Devan terlihat sedikit cemas dibandingkan Zyva yang tampak sangat santai menyikapi keadaan saat ini.
Kini waktu hampir menunjukkan jam dua siang, tapi Pengacara Rudi dan Adrian belum juga menampakkan dirinya. Mereka berdua juga belum dapat dihubungi.
Auryn langsung mendekati Zyva untuk sedikit menenangkannya.
"Apa yang terjadi ibu?" tanya Zyva dengan raut wajah yang sangat tenang.
"Adrian dan Pengacara Rudi belum juga datang." jawab Miss Auryn.
"Lalu apa yang dipermasalahkan? Bukankah syarat pernikahan sudah siap semua. Ada aku, Devan, penghulu, wali nikah, dan juga saksi. Kita tetap bisa melakukan pernikahan bukan meskipun tanpa mereka berdua?" tanya Zyva membuat Auryn terhenyak. Ia tidak menyangka Zyva sangat cerdas dan berfikir luas.
"Benar katamu, sayang. Baik pak, acara sudah bisa dimulai." ucap Miss Auryn. Kini semua tamu undangan mulai fokus pada acara inti.
Papa Zen dan Mama Auryn duduk mengapit Dena.
"Kita terlalu panik sampai tidak dapat berfikir jernih." ucap Auryn yang dibenarkan oleh suaminya.
"Kau benar sayang. Hari ini terlalu hectic dan ini pertama kalinya untuk kita. Sangat wajar bukan jika kita sampai tidak terfikirkan seperti apa yang difikirkan oleh Zyva." balas Zen Ivander sambil mengusap bahu istrinya.
Pernikahan Devan dan Zella pun terlaksana dengan sangat hikmat dan lancar. Kini keduanya sudah sah menjadi pengantin kecil di keluarga Zen Ivander. Auryn langsung memeluk Zyva bersama Dena dan Zen langsung memeluk putranya.
__ADS_1