
Adrian tersenyum saat melihat Zyva turun menemuinya. Tetapi senyumnya memudar ketika ia melihat Devan berjalan di belakang Zyva.
"Hai Kak, maaf ya jadi nunggu lama." sapa Zyva yang langsung duduk di samping Dena.
"Gak papa Zy. Kamu apa kabar? Beberapa hari gak ngobrol sama kamu, bikin kakak kangen." ucap Adrian sambil menyesap teh yang dihidangkan untuknya.
"Baik Kak." jawab Zyva singkat.
"Ehemmmm." Devan berdehem keras membuat Adrian, Dena, dan Zyva memandang ke arahnya. "Mr Adrian sibuk banget sih akhir akhir ini. Di Sekolah juga gak kelihatan beberapa hari ini." celetuk Devan.
"Oh iya, ngurusin perusahaan papa. Ada beberapa hal yang mau kakak sampaikan ke kamu, Zy."
"Emmh, papa sepertinya tertarik denganmu sejak melihatmu bekerja di Club Malam. Kakak harap kamu lebih berhati-hati dan menjaga diri." ucap Adrian.
"Lalu kenapa Mr Adrian justru tidak mencegah papa anda sendiri agar tidak mengganggu ISTRIKU?" Tanya Devan dengan penekanan di akhir kalimatnya.
"Aku sudah mencegahnya bahkan mengancamnya, Devan. Tapi tidak menutup kemungkinan juga suatu saat papa akan berbuat di luar batasannya saat tidak bersamaku." jawab Adrian.
"Apa yang dikatakan kak Adrian memang benar adanya. Aku harus lebih berhati-hati dan waspada untuk menjaga diriku sendiri." timpal Zyva yang sebenarnya bergidik ngeri mengingat Clovis juga pernah berkencan dengan Neffy.
"Seharusnya, pria ped*f*l seperti Om Clovis itu harus diasingkan." celetuk Devan kesal.
"Devan!" pekik Zyva dan Dena beriringan. "Kamu gak sopan tauk!" ucap Dena dan kali ini membuat papa dan mamanya keluar dari kamarnya.
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Mama Auryn. "Eh, Mr Adrian. Apa kabar?" tanya Auryn menyapa Adrian.
"Baik Miss. Maaf mengganggu malam-malam." ucap Adrian merasa tidak enak bertamu malam hari.
"It's okay. Kami tahu kok kamu sibuk. Tapi sebenarnya ada masalah apa ini? Saya dengar kok sedikit gaduh." tanya papa Zen menelisik.
__ADS_1
Akhirnya Dena menceritakan kepada papanya tentang apa yang terjadi tadi.
"Oooh, jadi gituh ceritanya." sahut papa Zen dan mama Auryn bersamaan.
"Saya pribadi sangat berterima kasih pada Mr Adrian yang sudah menyempatkan diri untuk datang dan memberi informasi ini pada kami. Kami selaku orang tua akan lebih ketat mengawasi dan menjaga putri putri kami. Saya akan segera mencarikan sopir untuk anak-anak agar mereka aman." tukas papa Zen membuat semua yang ada di ruang tamu bernafas lega.
Setelah dirasa cukup, Adrian pun undur diri dari Mansion Ivander. Dena kini kembali ke kamarnya karena ia sudah sedikit mengantuk. Zyva juga langsung kembali ke kamarnya karena ia masih harus mempersiapkan keperluan sekolahnya besok.
Sedangkan Devan yang mau kembali ke kamarnya ditahan oleh papa dan mamanya.
"Devan, lain kali kalo bicara sama orang yang lebih tua itu harus yang sopan." ucap Mama Auryn menasehati putranya.
"Maaf ma, tadi Devan sempet kesel aja."
"Cerita sama papa, apa yang bikin kamu kesel." timpal papa Zen.
"Devan, kamu harus tau, Zyva mungkin belum memahami tentang perasaan cinta. Karena papa lihat, dia memang sedang menikmati kasih sayang mama dan papa sebagai orang tuanya."
"Kamu tahu sendiri kan, bagaimana masa lalu Zyva yang hidup tanpa kasih sayang ibunya? Ingat Devan, kalian juga masih sama-sama sekolah. Raih dulu tujuan utama kamu, masalah Zyva, papa yakin lambat laun dia akan memahami statusnya di sampingmu dan dia juga akan menentukan bagaimana perasaannya kepadamu. Bersabarlah, kamu akan petik buah kesabaran itj nanti." tukas papa Zen panjang lebar memberikan nasihat kepada putranya.
"Baiklah pah. Terima kasih banyak meskipun aku belum menerima sepenuhnya. Tapi aku akan mencoba untuk bersabar." jawab Devan.
Devan pun berpamitan kembali ke kamarnya dan meninggalkan papa Zen sendiri yang masih duduk di ruang tamu.
Saat masuk ke dalam kamarnya, Zyva tampak duduk bersandar di headboard dan memainkan ponselnya. Tapi Zyva langsung meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Apa kau menungguku?" tanya Devan yang langsung naik ke atas tempat tidur.
"Tentu saja, aku ingin menyelesaikan masalah kita yang tertunda tadi. Aku tidak mau tidur dengan masalah yang menumpuk di fikiranku." jawab Zyva.
__ADS_1
"Aku minta maaf, Zyva. Tidak seharusnya aku berkata seperti tadi dan mengecap dirimu egois atau mempermainkan pernikahan kita." tukas Devan membuat Zyva terhenyak.
Zyva pikir ia akan kembali berdebat dengan Devan tentang masalah yang tadi. Tapi ternyata ia salah, Devan justru mengakui kesalahannya lebih dahulu dan meminta maaf.
Zyva menatap bola mata Devan, tidak ada kebohongan di matanya. "Aku juga minta maaf jika membuatmu salah paham atau sakit hati. Maafkan aku juga ya, Dev." ucap Zyva sambil mengulurkan tangannya ke arah Devan.
Devan pun membalas uluran tangan Zyva dan tersenyum membuat Zyva justru kikuk mendapat senyuman Devan.
"Aku akan mengambil sofa yang ada di kamar Liza nanti jika kamu tidak ingin berbagi ranjang denganku." ucap Devan saat Zyva melepaskan jabatan tangannya.
"Tidak perlu, aku akan tetap berbagi ranjang denganmu." tukas Zyva. "Dan denda akan tetap berlaku. Aku akan membayar denda jika aku melewati batasanku seperti semalam, begitu juga sebaliknya."
"Hahahaha, baiklah. Sepertinya aku akan sering ditraktir makan olehmu." balas Devan.
"Tentu saja tidak, ATMmu sudah ada di tanganku kali ini." ucap Zyva yang sengaja menggambil kembali ATM Devan yang di kembalikannya kemarin di meja belajar Devan. "Aku akan menggunakan ini untuk membayar denda." Zyva mengayunkan ATM ditangannya di hadapan Devan.
"Curang!" gerutu Devan. Tapi tidak di dalam hatinya. Devan justru senang Zyva menggunakan pemberiannya.
"Enggak curang dong. Aku juga udah beresin keperluan sekolah kamu besok. Jadi adil kaan?"
"Hemmm, iya in aja deh." jawab Devan yang kini masuk ke dalam selimutnya.
"Zy, minggu depan nonton pertandingan basket aku ya. Nanti aku juga bakal semangatin kamu waktu lomba renang." pinta Devan.
"Okey, mudah diatur itu mah. Good Night, Devan."
"Good Night, Zy. Have a nice dream."
Kini keduanya sudah masuk ke dalam mimpi indah mereka. Zyva tetap menaruh guling sebagai batas tengah diantara mereka. Dan kali ini Devan tidak menyingkirkan guling itu. Dia akan mengikuti keinginan Zyva sampai Zyva sendiri yang menyerah untuk meniadakan batas antara mereka berdua.
__ADS_1