
Setelah merasa lebih baik, Zyva meminta Dokter Ryan untuk melepaskan infusnya. Zyva juga sudah lebih baik hari ini setelah dari kemarin ia full istirahat untuk memulihkan kondisinya. Zyva sudah tampak segar setelah membersihkan tubuhnya dan kini ia bergabung untuk sarapan bersama dengan yang lain.
"Kamu libur dulu aja Zy, nanti Dena yang temenin kamu di rumah. Dia juga kecapekan tuh." ucap Miss Auryn.
"Baik ibu." jawab Zyva tersenyum.
"Aku juga izin hari ini, ya Ma." pinta Devan dan Mamanyya langsung setuju.
Mama Auryn dan Papa Zen langsung berangkat ke kantor karena mereka berdua sudah sarapan lebih dahulu. Mereka juga akan mengurus berkas kepemilikan sekolah untuk Zyva.
"Malam ini aku juga akan tidur di kamarku." ucap Devan.
"Baiklah, aku juga akan kembali ke kamarku." balas Zyva yang memang sudah dari awal diberi kamar di samping Dena. "Maaf sudah memakai kamarmu semalam dan thanks juga piyamanya."
Devan justru makin kesal dengan jawaban Zyva, bukan itu yang ia inginkan. Ia ingin kembali tidur di kamarnya bersama dengan Zyva, bukan sendirian.
"Memangnya dimana kamarmu?" tanya Devan ketus membuat Zyva terdiam. Kini Zyva merasa bahwa ia memang tiada memiliki apa-apa di Mansion ini.
"Kamar Zyva kan ada di samping Dena." jawab Dena tidak kalah ketus dengan Devan. "Kamu nih gimana sih Dev." sarkas Dena tidak terima mendengar Devan seperti menyisihkan Zyva.
Kini mereka bertiga terdiam sambil menyelesaikan sarapan mereka.
"Zyva, nanti beresin dulu kamarku. Harus beres seperti sedia kala." ucap Devan dan langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar.
"Devaaaaan, kamu gila yaa. Zyva kan baru sembuh." teriak Dena.
"Udah gak papa. Gak begitu berantakan kok." jawab Zyva menenangkan Dena.
"Aku bantuin ntar." jawab Devan dari tangga.
"Kebangetan tuh bocah. Suka seenaknya sendiri. Aku hari ini mau santai di kamar, habis dari kamar Devan ke kamarku yaaa. Kita mager bareng." ajak Dena dan Zyva langsung mengangguk.
Zyva langsung masuk ke kamar Devan. Rapi dan tidak terlihat berantakan sedikit pun karena sebelumnya Zyva juga sudah membereskannya. Zyva pun berbalik hendak keluar dari kamar Devan. Tapi Devan justru sudah berdiri tepat di belakang Zyva hingga dada Zyva menabrak dada bidang Devan.
"Devan," Zyva mulai tergagap mendapati Devan dan dirinya kini sudah tidak berjarak.
"Mau kemana?" tanya Devan.
"Gak berantakan kok kamarnya. Kamu gak lihat?" Zyva balik bertanya. "Aku mau balik ke kamar."
"Kamu udah jadi istri aku, jadi kamar kamu juga disini." ucap Devan membuat tubuh Zyva meremang mendengarnya.
"Aku gak mungkin kan tidur sama kamu, kita masih sekolah Devan." jawab Zyva.
"Hei, siapa juga yag mau tidur sama kamu. Aku ngajakin kamu belajar bareng. Besok aku ada Evaluasi susulan karena hari ini gak masuk." jelas Devan membuat rona wajah Zyva memerah.
Devan langsung mengajak Zyva duduk di sampingnya. Kini keduanya justru belajar bersana. Devan terus saja memandangi Zyva yang sedang memberi rumus rumus singkat terbaru.
Saat Devan mengerjakan soal evaluasi di buku, kini gantian Zyva yang terus memandangi Devan.
"Devan ternyata baik." gumam Zyva dalam hati. "Cakep, cool, dan gagah." batinnya lagi mengingat saat ia menabrak tubuh Devan tadi.
Merasa diperhatikan Zyva, Devan mengangkat kepalanya dan kini keduanya beradu pandang dan membuat Zyva sedikit salah tingkah.
__ADS_1
"Aku cakep kan?" tanya Devan sambil menaik turunkan alisnya.
"Diiiiih, narsis." jawab Zyva membuang mukanya.
Devan tersenyum melihat Zyva yang salah tingkah. I pun merogoh sakunya dan mengeluarkan kartu dari dompetnya.
"Ini buat kamu, pinnya hari ulang tahun aku." ucap Devan memberikan kartu ATM pada Zyva. "Ini gaji aku dari hasil DJ setiap weekend. Kamu gak perlu kerja di ANCY lagi. Bahaya!" jelas Devan yang langsung menarik tangan Zyva dan meletakkan kartu ATMnya di telapak tangan Zyva.
"Maksudnya apa dong ini?" tanya Zyva yang tidak paham saat Devan tiba-tiba memberikan kartu ATM miliknya pada Zyva.
"Kamu tanggung jawab aku, Zyva. Isinya gak banyak, jadi jangan boros - boros ya." ucap Devan sambil menoel hidung Zyva.
Blusshhh... Pipi Zyva langsung memerah.
"Happy Sweet Seventeen ya, Devan. Wish you all the best." ucap Zyva kemudian membuat Devan yang kini jadi salah tingkah. "Sorry telat."
"Hemmm." jawab Devan singkat.
"Gitu doang jawabnya? Gak ada kata-kata terima kasih gituh." balas Zyva.
Devan kembali memandang Zyva dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Zyva membuat Zyva bergeser mundur ke belakang. Kini Zyva sudah terpojok di sofa dengan detak jantung yang sudah tidak karuan.
"Thanks ya istriku." bisik Devan membuat deru nafas Zyva terdengar oleh Devan dan tubuhnya meremang.
Detak jantung Devan juga berdegub kencang saat dirinya kini sangat dekat dengan Zyva. Tiba-tiba pintu kamar Devan dibuka oleh Dena yang sedari tadi sudah menunggu Zyva.
Dena membelalakkan matanya melihat Devan dan Zyva sudah tak berjarak. Devan dan Zyva juga sama terkejutnya melihat Dena sudah berdiri di pintu.
"Upsss, Sorry. Sepertinya aku mengganggu kalian." ucap Dena sambil menutup mulutnya.
"Dena, tadi Itu gak seperti yang kamu lihat. Devan cumaa ngajakin aku belajar." jelas Zyva yang merasa tidak enak dengan Dena.
"It's okey. Aku paham kok. Udah sana lanjutin lagi deh belajarnya." jawab Dena sambil terkekeh meninggalkan Zyva.
"Udah selesai kok, Dena." ucap Zyva dan tangannya langsung ditarik oleh Devan.
"Belum selesai. Dikit lagi. Yuuuk balik." ucap Devan menarik tangan Zyva dan mengajaknya kembali ke kamar.
Mau tidak mau Zyva mengikuti Devan sambil menahan malu.
"Devan, bisa tidak kita buat aturan untuk pernikahan kita ini?" tanya Zyva dan Devan pun menyetujuinya.
Devan segera mengambil laptopnya dan memberikan kepada Zyva. "Ketik saja apa yang ingin kau atur."
Zyva membuka laptop Devan dan mengetik beberapa aturan yanv ajan disetujui oleh mereka berdua.
...Surat Perjanjian ...
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Devan Ivander (selaku suami)
__ADS_1
Zyvanna Ray (selaku istri)
Kedua belah pihak berdasarkan i'tikad baik, sepakat untuk mengadakan perjanjian, sebagai berikut:
Devan Ivander selaku suami dan Zyvanna Ray selaku istri akan tetap melakukan kewajiban suami istri dalam hal materiil bukan nafkah batin.
Devan Ivander selaku suami dan Zyvanna Ray selaku istri akan tetap mendapatkan hak suami istri dalam hal materiil bukan nafkah batin.
Tidak ada kontak fisik yang berlebihan dan tetap menjaga batasan masing-masing.
Tetap menjaga rahasia hubungan antar kedua belah pihak dimana pun berada.
Apabila Pihak Pertama (suami) melanggar, maka akan dituntut dengan hukuman yang diberikan Pihak Kedua (Istri) dan berlaku untuk sebaliknya.
Demikian surat perjanjian ini dibuat dengan persetujuan kedua belah pihak.
...Tertanda...
...-Devan dan Zyva-...
Setelah Zyva mengetik dan mengeprintnya ia langsung memberikan kepada Devan.
"Apa ini tidak keterlaluan, Zyva?" tanya Devan setelah membaca isi perjanjian yang dibuat Zyva.
"Tentu saja tidak. Cepatlah tanda tangan di bawah sini." pinta Zyva dan Devan hanya menurut saja.
"Aku pastikan kau sendiri yang akan menghapuskan perjanjian yang kau buat Zyva." gerutu Devan kesal.
__ADS_1
"It's so impossible, Devan." jawab Zyva yang gantian membubuhkan tanda tangannya di atas kertas.
"Baiklah, mulai hari ini aku akan mengurus segala keperluanmu." ucap Zyva yang kemudian keluar dari kamar Devan.