Cewek Bertalenta

Cewek Bertalenta
Bekerja Malam


__ADS_3

Pagi ini Zyva sudah siap berangkat ke Sekolah lebih awal. Setelah sarapan, Zyva bergegas melangkahkan kakinya menuju ke halte bus. Lima menit kemudian busway ke arah sekolah Zyva pun tiba. Zyva langsung masuk ke dalam busway dan kembali bertemu dengan Devan dan Dena.


Zyva melambaikan tangannya ke Dena dan duduk di sampingnya. Dena yang melihat Zyva pun menyunggingkan senyumnya.


"Semalem Yuda main ke rumah." bisik Dena.


"Waaah, pucuk dicinta ulam pun tiba." jawab Zyva membuat Dena terkekeh.


Keduanya pun saling mengobrol sampai busway berhenti tepat di halte sekolah mereka. Dena dan Zyva berjalan beriringan, sedangkan Devan ada di belakang mereka.


"Zyva, nanti sore gak usah ke rumah. Belajarnya sekarang aja di ruangan mama. Aku ada evaluasi." ucap Devan.


"Oke." jawab Zyva berbalik. "Aku kesana dulu ya Den." Zyva meninggalkan Dena dan mengikuti langkah Devan.


Dena langsung mengerutkan keningnya dan mengetik pesan ke Devan.


...Dena...


...DEVAN MODUS 😏😏😏...


Devan langsung memeriksa ponselnya yang berdenting dan membuka pesan dari Dena. Setelah membaca pesan Dena, Devan kembali memasukkan ponselnya ke saku tanpa membalasnya.


Sesampainya di ruang Kepala Sekolah, Devan meminta izin kepada mamanya menggunakan ruangan untuk belajar. Miss Auryn yang memang selalu datang lebih pagi pun mengizinkannya dan meninggalkan mereka berdua karena ia harus memimpin apel pagi para guru di meeting room.


Hanya sebentar saja Devan belajar dengan Zyva karena sebenarnya dia sudah siap untuk mengikuti evaluasi.


"Nanti sore berangkat kerjanya aku jemput." ucap Devan setelah belajar usai, mengingat Zyva bekerja di Cafe ayahnya setiap weekend.


"Gak usah." jawab Zyva singkat dan beranjak pergi.


Devan langsung menarik tangan Zyva dan menahannya untuk tetap duduk.


"Nanti aku jemput, gak ada penolakan!" tegas Devan membuat Zyva memutar bola matanya malas.


"Terserah!" jawab Zyva menghempaskan tangan Devan dan pergi. Devan hanya tersenyum melihat Zyva yang keluar dari ruang Kepala Sekolah.


...***...


Sore harinya Devan sudah menunggu Zyva di depan kost dan Zyva juga sudah siap untuk bekerja. Zyva segera memakai helmnya dan naik ke atas motor Devan. Selama perjalanan menuju Cafe tidak ada percakapan antara mereka berdua sama sekali. Bahkan Zyva membatasi dirinya dengan Devan menggunakan tas punggungnya yang ia gunakan di depan tubuhnya.

__ADS_1


Sesampainya di cafe, Zyva segera bergabung dengan bartender yang lain dan Devan masuk ke ruang ayahnya. Karena hari masih Sore, Devan belum memulai kegiatannya sebagai DJ. Kali ini ia membantu pekerjaan ayahnya sambil mengecek CCTV untuk melihat Zyva bekerja.


Malam harinya, Devan mulai beraksi sebagai DJ. Hingar bingar permainan musik Devan membuat suasana makin riuh ramai. Devan mampu menyihir para wanita club dengan pesona dan kepiawaiannya.


"Buatkan aku Medeira and Light Beer." pinta seorang lelaki dewasa pada Zyva.


"Okey, Sir." jawab Zyva menyiapkan pesanan untuk tamunya.


Setelah pesanan siap, Zyva segera memberikannya pada pemesan minuman tadi. Tapi betapa terkejutnya Zyva saat melihat saat laki-laki tadi ternyata datang bersama teman sekolahnya, Neffy.


Neffy menggunakan pakaian yang sangat minim dan terbuka dengan riasan wajah yang tidak terlalu mencolok. Tidak hanya itu, Neffy juga terlihat sangat agresif saat mencium lelaki tadi.


Zyva makin penasaran apa yang sebenarnya Neffy lakukan disini. Ia pun mengendap endap ke ujung bar dan bersembunyi di balik pintu yang dekat dengan tempat Neffy. Zyva yang sedang mendapat giliran waktu istirahat pun dengan leluasa menguping pembicaraan Neffy dan pria tadi.


"Dicariin dari tadi malah ngumpet disini sih." ucap Devan yang tiba-tiba datang dari belakang dan menepuk bahu Zyva membuat Zyva sangat terkejut.


Zyva langsung menarik tangan Devan dan menutup mulutnya. "Ssstttt, jangan berisik. Aku lihat Neffy disini." bisik Zyva membuat Devan penasaran dan keduanya sepakat untuk kepo bersama.


"Kamu sangat cantik malam ini Neffy. Parfum apa yang kau pakai hingga bau tubuhmu sangat menggoda." ucap laki laki tadi sambil mencumbu leher dan bahu Neffy yang terekspos.


Zyva mendengarkan cumbuan itu membuat dirinya bergidik ngeri. Berbeda dengan Devan yang justru geli melihat Zyva.


Zyva yang mengintip dari balik pintu langsung menutup mulutnya, ia tidak menyangka Neffy seberani itu. Sedangkan Devan langsung menarik tangan Zyva untuk menjauh dari situ.


Kini Devan dan Zyva sama-sama berdiri di lorong Cafe. "Devan, ngapain sih malah ngajakin kesini?" tanya Zyva kesal.


"Takut kamunya ntar jadi pingin." jawab Devan.


Zyva mengerutkan keningnya tidak paham arah pembicaraan Devan. "Pingin apa?" tanya Zyva.


"Pingin si otong." jawab Devan singkat.


Blush... Pipi Zyva langsung memerah. "Ngaco aja kamu." balas Zyva yang kemudian berbalik meninggalkan Devan.


Saat hendak berbelok, Zyva melihat Clovis dan Neffy berjalan mendekat ke arahnya membuat Zyva kembali mundur dan mendekat ke arah Devan.


"Mereka berjalan ke arah sini." ucap Zyva dan Devan langsung menarik Zyva ke sebuah tempat rahasia.


Tempat rahasia di Cafe milik papa Devan berhadapan langsung dengan kamar motel yang biasa dipesan oleh pengunjung. Dulunya tempat rahasia itu digunakan tamu untuk memilih wanita cantik yang akan menemaninya satu malam. Tapi saat papa Devan membeli Cafe tersebut, tempat tersebut tidak lagi digunakan.

__ADS_1


"Haciiiiim," Zyva tiba-tiba bersin dan Devan langsung menutup mulut Zyva.


"Om, dengar orang bersin gak?" tanya Neffy saat Clovis mencoba membuka sandi pintu kamar yang ia pesan.


"Aku tidak mendengarnya. Kemarilah sayang." Clovis yang terlihat sudah tidak tahan langsung menarik tangan Neffy dan masuk ke dalam kamar.


Sedangkan Zyva kini bernafas lega saat keberadaannya tidak diketahui oleh kedua orang tadi. Tangan Devan sudah tidak menutupi mulut Zyva, tapi posisi mereka sekarang sangat dekat. Tangan Devan pun masih ada di leher Zyva seperti memeluknya.


Kini gantian kedua mata Devan dan Zyva yang beradu pandang.


"Duh, Devan. Ternyata kamu cool banget." batin Zyva mulai meronta ronta.


"Kenapa? Aku tampan bukan?" tanya Devan membuyarkan lamunan Zyva.


Zyva langsung membuang mukanya. "Gak. Sama sekali TIDAK!" jawab Zyva dengan penuh penekanan.


"Lepasin nih tangan kamu!" perintah Zyva yang sama sekali tidak diindahkan oleh Devan.


"Akui dulu ketampanan aku, setelah itu berikan aku bukti kalo kamu memang mengakui ketampanan aku." ucap Devan. "Dengan cara menciumku sebentar saja." bisiknya lagi membuat Zyva meremang.


"Not that easy. Kamu GILA ya!" sarkas Zyva. "Lepasin aku, Devan!" pinta Zyva mendorong tubuh Devan yang semakin mendekat padanya.


"Not that easy, Zyva." balas Devan mengulang kata-kata Zyva. Devan semakin mendekat dan kini tubuh Zyva benar-benar terpojok.


"Jangan teriak atau nanti para pengunjung akan mendapati kita berdua." pesan Devan membuat Zyva kali ini tidak dapat berkutik.


Devan mendekatkan wajahnya membuat Zyva menutup matanya. Itu justru membuat Devan semakin berani mencium bibir Zyva untuk yang kesekian kalinya.


Hampir saja bibir mereka bersentuhan saat telinga Devan ditarik oleh papanya.


"Ngapain pada di sini, Hemmmm?" tanya Zen Ivander yang sudah menjewer putranya.


Zyva langsung membuka matanya dan mendorong tubuh Devan. "Aduh, sakit paaaaah." rintih Devan.


Zyva menundukkan wajahnya malu saat mereka tertangkap basah oleh papa Devan sendiri yang merupakan bosnya.


"Ikut ke ruangan papa. Katakan apa yang kalian lakukan disini!" ucap Zen Ivander melangkah lebih dulu ke ruangannya.


Devan dan Zyva kini mengikuti langkah kaki Zen Ivander dengan perasaan campur aduk tak menentu.

__ADS_1


__ADS_2