
Setelah selesai makan malam, Devan membantu Zyva mencuci piring dan mereka langsung kembali ke kamar. Devan langsung naik ke atas tempat tidur dan memainkan ponselnya, sedangkan Zyva lebih dulu ke kamar mandi sebelum naik ke atas temoat tidur.
Devan yang masih asyik memainkan ponselnya sedikit mengacuhkan Zyva yang sudah naik ke atas tempat tidur dan duduk di sampingnya.
"Aku tidak pernah memasakkan khusus untuk Kak Adrian. Dia hanya pernah makan apa yang aku masak." ucap Zyva. "Sedangkan yang tadi, aku khusus memasakkannya untukmu."
Devan langsung meletakkan ponselnya dan memandang ke arah Zyva. "Benarkah?" tanya Devan dan Zyva langsung membuang mukanya.
"Tentu saja." jawab Zyva.
"Katakan alasannya padaku." pinta Devan sambil memeluk Zyva.
"Apakah cinta butuh alasan?" tanya Zyva membuat Devan langsung mambalikkan tubuh Zyva untuk menghadap ke arahnya.
"Zyva, aku merasa kau sangat berubah hari ini. Katakan padaku, apa kau mencintaiku, Zyva." telisik Devan membuat lidah Zyva kelu untuk menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
Zyva justru mengecup lama bibir Devan, membuat Devan memegang tengkuk Zyva dan memperdalam ciumannya. Kali ini Zyva sedikit liar hingga membuat Devan sedikit kewalahan mengimbangi permainan bibir Zyva.
Tangan Devan pun mulai nakal, ia meraba da-da Zyva dan betapa terkejutnya Devan saat mendapati Zyva tidak memakai br* dan ujung ni**lenya sudah mulai me-ne-g*ng.
Devan melepaskan pagutan Zyva dan mulai membuat satu lukisan di leher Zyva dengan ci*o*annya. Zyva mulai membuka kancing piyama nya satu per satu dan mempertontonkan keindahan tubuhnya yang sangat disukai Devan akhir - akhir ini.
Devan menelan ludahnya kasar melihat pemandangan indah di hadapannya yang sangat ia rindukan akhir akhir ini. Melihat Devan hanya memandangi tu-buhnya saja membuag Zyva kembali menutup da-danya tanpa mengancingnya.
"Kenapa di tutup?" tanya Devan sambil membukanya kembali.
"Mana mungkin aku tidak menginginkannya. Aku hanya ingin melihat keindahannya dulu sebelum menikmatinya. Emmh, ini milikku kan Zy?" tanya Devan mengusap dada Zyva sampai nip**enya membuat Zyva seperti tersengat listrik dibuatnya. Ada rasa yang berbeda saat Devan melakukan hal tadi.
"Dev, please."
"Ada apa Sayang? Katakan padaku." goda Devan sambil mulai mer-re-m*s da-d* Zyva dan me-mi-lin ujungnya.
__ADS_1
Zyva menggigit bibir bawahnya menahan suara de*a+annya. "Aaah, Dev." Zyva mulai tidak dapat mena-han de*a+annya. Ia pun mem-bu-s*ngkan da-danya ingin agar Devan cepat mela-hap miliknya dan me-ny*-s* seperti ba-yi.
"Jangan siksa aku, Dev. Please." pinta Zyva dan Devan pun langsung melahap da-da Zyva bergantian.
Tangan Zyva pun tidak tinggal diam, ia mulai membuka box-er Devan dan memberanikan diri untuk memegang si otong. Devan pun menikmati permainan tangan Zyva sampai ia melepaskan pelepasan pertamanya di atas tempat tidur.
Zyva yang melihat itu pun hanya tersenyum sambil membersihkannya menggunakan tisue. "I love you, Devan." ucap Zyva membuat Devan membelalakkan matanya tidak percaya.
Baru kali ini Zyva menyatakan cintanya pada Devan. "Aku tidak salah dengar kan?" tanya Devan dan Zyva langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku benar-benar sudah mencintaimu, Devan. Tetaplah bersamaku sampai kapanpun." ucap Zyva dan Devan pun langsung memeluk Zyva dengan sangat erat.
"Aku seperti sedang bermimpi, Zyva. I do love you." ucap Devan.
Kini keduanya tidur bersama dalam satu selimut dan saling berpelukan.
__ADS_1