
"Saya akan membicarakan pada Zyva tentang masalah ini semua. Dan sepertinya Zyva tidak aman jika masih tinggal di kost sendirian." ucap Miss Auryn sepeninggalan Zyva dari ruangan Mr Adrian.
"Baiklah, saya akan menunggu kabar selanjutnya dari anda Miss Auryn, lebih baik cepat dilaksanakan agar tidak membahayakan Zyva." jelas pengacara tersebut sebelum undur diri.
Kini tinggal Miss Auryn dan Mr Adrian yang sama sama terdiam mencari jalan keluar.
"Sebenarnya Zyva bisa saja menikah dengan anda, Mr Adrian. Bukankah kalian saudara tiri?" Miss Auryn mulai membuka suara setelah terdiam lama.
"Saya sangat menginginkan hal itu, Miss Auryn. Tetapi apakah tidak terlalu berbahaya untuk Zyva dan ke depannya, mengingat orang tua saya selalu berbuat semena-mena juga terhadap saya." jawab Adrian yang saat ini memang sedang terang terangan pergi dari kediaman orang tuanya.
Miss Auryn semakin buntu, belum ada ide sama sekali yang muncul di benaknya.
"Hemmm, baiklah. Datanglah ke rumahku nanti sore. Kita akan segera menyelesaikan masalah ini. Aku akan menghubungi suamiku untuk mengatur semuanya." ucap Miss Auryn yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Adrian.
...***...
Sore harinya, Zyva pulang bersama Dena, Devan, dan Miss Auryn sesuai dengan permintaan Miss Auryn. Sedangkan Mr Adrian sudah berjanji akan menyusul sebentar lagi. Papa Zen Ivander juga sudah tiba di mansion lebih awal untuk ikut serta memecahkan permasalahan yang dialami oleh Zyva.
Sesampainya di Mansion, mereka langsung menuju ke ruang kerja dan duduk melingkar. Dena dan Devan juga mengikuti saja tanpa banyak bertanya. Tak lama kemudian, Pengacara Rudy juga sudah tiba dan langsung bergabung duduk melingkar.
Miss Auryn langsung menyampaikan duduk permasalahan secara singkat, padat, dan jelas membuat Dena dan Devan kini makin mengerti apa yang kini sedang menimpa Zyva. Tak lama kemudian pintu ruangan diketuk dan Adrian masuk ke dalam ruangan.
"Maaf saya agak terlambat." ucap Adrian yang langsung duduk di samping pengacara.
Miss Auryn pun melanjutkan kata-katanya dan kali ini mengarah kepada Zyva.
"Zyva, apa kau sudah memiliki tambatan hati?" tanya Miss Auryn dan Zyva langsung menggelengkan kepalanya. Jangankan memikirkan tentang tambatan hati, memikirkan untuk kehidupannya saja membuat Zyva sangat lelah.
"Aku mau menikahi Zyva," ucap Devan lantang membuat semua yang ada di dalam ruangan menatap ke arahnya. "Mr Adrian memang kandidat pertama untuk Zyva, tapi setidaknya Zyva dapat memilih antara aku atau Mr Adrian yang akan menjadi suaminya besok pagi." ucap Devan mantap membuat papa Zen dan Dena langsung bertepuk tangan.
__ADS_1
"Waaaah, gentle juga saudara kembar aku ini." celetuk Dena yang langsung dicubit oleh mamanya.
"Ini bukan ajang permainan Dena." ucap mama Auryn mengingatkan putrinya. "Papa juga ini kenapa sih, malah ikut ikutan Dena." protes mama Auryn kesal.
"Maaf, Ma." ucap Dena yang kemudian kembali terdiam.
Kini gantian pengacara Rudi yang buka suara. "Pernikahan ini memang tidak dilakukan untuk bermain-main sekedar untuk mengambil alih perusahaan, tapi dilakukan dengan kesungguhan yang tidak kemudian langsung saja bercerai begitu saja." jelasnya melihat Devan yang masih sangat muda untuk melakukan pernikahan.
"Aku juga tidak main-main dengan ucapanku, Pak Pengacara. Tepat besok pagi, usiaku sudah menginjak tujuh belas tahun. Aku juga sudah bekerja dan memiliki gaji meskipun aku masih bersekolah." ucap Devan tanpa gentar sedikit pun.
"Untuk masalah pernikahan, aku serahkan pada Zyva untuk memilih. Biarkan Zyva yang menentukan pilihannya, siapa yang nantinya menjadi suaminya." ucap Adrian membuat semuanya kini memandang ke arah Zyva.
Brukkk!!!
Zyva terjatuh tidak sadarkan diri tepat di pangkuan Dena. Tanpa pikir panjang, Devan langsung mengangkat tubuh Zyva dan membawanya ke sofa. Papa Zen segera memanggil dokter pribadi mereka untuk datang ke rumah, sedangkan Miss Auryn langsung mencari minyak angin untuk membantu menyadarkan Zyva.
Badan Zyva sangat panas, Devan segera menyiapkan alat kompres untuk meredakan demam di tubuh Zyva. Semua yang ada di dalam ruangan benar-benar kalut dan memandang iba ke arah Zyva.
Setelah dokter datang memeriksa Zyva, ia mengatakan bahwa Zyva mengalami kelelahan fisik. Tidak hanya itu, tubuhnya semakin drop karena masalah yang saat ini sedang difikirkannya.
Setelah memberikan beberapa resep obat, Zyva pun siuman membuat semua orang yang mengelilinginya bernafas lega.
"Maaf." satu kata yang keluar dari mulut Zyva membuat hati orang yang mendengarnya seperti teriris. Miss Auryn langsung memeluk Zyva dengan erat.
"Tidak perlu minta maaf sayang. Kau juga bagian dari keluarga kami." ucap Miss Auryn membuat Zyva menitikkan air matanya. Kali ini Zyva merasakan pelukan seorang ibu yang benar-benar sejak dulu ia rindukan.
Zyva langsung membalas pelukan Miss Auryn dengan sangat erat. Ia seperti menemukan sosok ibu untuknya dan tidak ingin ia lepaskan sama sekali.
"Kau adalah putriku, Zyva sayang. Jangan sungkan. Anggap saja aku adalah ibumu." ucap Miss Auryn. Zyva melepaskan pelukannya dan menatap wajah Auryn lekat-lekat. Tidak ada kepura-puraan yang tersorot dari mata kepala sekolahnya ini.
__ADS_1
Zyva kembali memeluk Miss Auryn dan berbisik pelan. "Aku sangat merindukanmu, ibu." bisik Zyva membuat hati Miss Auryn semakin teriris.
Setelah minum teh hangat, memakan dua suap roti, dan minum obat, Zyva kini akan dipindahkan ke kamar yang sudah disiapkan untuknya. Sayangnya tubuh Zyva terlalu lemah untuk berjalan.
"Biar aku yang mengangkat Zyva le kamarnya." ucap Devan yang langsung berjalan ke arah Zyva.
"Tidak." tolak Zyva dengan suara lemahnya. "Aku ingin Kak Adrian yang mengangkatku." ucap Zyva membuat mata Adrian berbinar.
Dengan sigap Adrian mengangkat tubuh Zyva dan mengantarkannya ke kamar sesuai arahan Dena. Sesampainya di kamar, Adrian langsung membaringkan Zyva dan menyelimutinya.
"Thanks ya kak." ucap Zyva dan Adrian mengangguk tersenyum.
"Istirahatlah, Zyva. Aku akan menjengukmu besok." Adrian mengusap kepala Zyva dengan sangat lembut.
Devan yang melihat dari pintu kamar Zyva langsung memalingkan wajahnya melihat kedekatan Zyva dengan Adrian.
"Cemburu ya." ledek Dena yang tiba-tiba sudah ada di belakang Devan.
Devan yang enggan menanggapi Dena pun berlalu begitu saja. Bukannya ke kamar, tapi ia justru melangkahkan kakinya ke ruang kerja papanya.
"Aku belum kalah kan Pah?" tanya Devan pada papanya yang sedang duduk bersama mamanya.
Papa dan mama Devan saling bertukar pandang untuk memberikan jawaban yang pas untuk Devan.
"Tentu saja belum." jawab papa Zen singkat.
"Kau masih sekolah, sayang. Pernikahan bukanlah hal main main." ucap Mama Auryn membuat Devan menahan kesal.
"Devan gak main-main, maaaah. Devan emmm. Devan cinta sama Zyva, Maaaah. Please, lamar Zyva untuk Devan Maaah." pinta Devan membuat Miss Auryn bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
Di sisi lain ia sangat khawatir jika Zyva menikah dengan Adrian dengan latar belakang Adrian. Tapi dari tadi justru putra kandungnya lah yang gigih memperjuangkan untuk mendapatkan Zyva meskipun hanya sebentar saja.
"Kita harus hargai dan hormati keputusan Zyva. Bukankah cinta itu tidak bisa dipaksakan bukan?" jawab Mama Auryn membuat Devan mengangguk lemas dan berjalan kembali ke kamarnya.