Cewek Bertalenta

Cewek Bertalenta
Bekerja di Club


__ADS_3

Hari ini Zyva kembali ke Mansion Dena untuk belajar bersama setelah hari Kamis kemarin belajar bersama Devan. Tentu saja belajar bersama Dena lebih menyenangkan dari pada bersama Devan. Karena bagi Zyva, Dena adalah teman curhat yang tepat untuknya saat ini.


Setelah selesai belajar bersama Dena, terlihat orang tua Dena pulang lebih awal dari hari biasanya. Zen Ivander, papa Dena memang sudah lama ingin bertemu dengan putri sahabatnya. Dan kali ini adalah waktu yang tepat untuk bertemu dengan Zyva.


"Itu yang jalan sama Miss Auryn pasti papa kamu ya Dena?" tanya Zyva dan Dena langsung mengangguk mengiyakan pertanyaan Zyva.


"Hai sayang, gimana belajarnya?" tanya papa Zen mengusap kepala putrinya.


"Asyiik pah, ternyata matematika itu mudah daaaaan Sains juga tidak buruk bagiku." jawab Dena.


"Waaah, papa senang sekali mendengarnya. Kamu pasti Zyva ya?" tanya Papa Zen menunjuk ke arah Zyva.


"Benar Om." jawab Zyva sambil mengulurkan tangannya dan menyalami papa Dena.


"Ini sahabat baru Dena loh paaa." jelas Dena.


"I'm so glad to hear that, Dena. Oh iya, dimana Devan?" tanya Papa Zen yang tidak melihat keberadaan putranya.


"Main basket pah." jawab Dena.


"Kalau begitu papah mau mandi dulu. Oh iya Zyva, malam ini kamu ikut makan malam bersama disini ya." tawar Papa Zen dan Zyva mengangguk setuju.


Sambil menunggu waktu makan malam tiba, Zyva dan Dena menghabiskan waktu bersama di taman. Tak lama kemudian, terlihat Devan yang baru saja pulang dari berlatih basket. Devan langsung pergi ke kamarnya tanpa melihat ke arah Zyva sedikit pun.


Tiba waktunya makan malam, semua anggota keluarga Miss Auryn sudah berkumpul bersama Zyva. Baru mulai makan, terdengar suara klakson mobil dari luar gerbang Mansion.


"Pah, Mah, Devan pamit dulu ya." ucap Devan menyalami papa mamanya. "Daah semua." Devan meninggalkan meja makan sambil melambaikan tangannya.


Setiap malam akhir pekan, Devan memang selalu menghabiskan malamnya di Club Malam sebagai DJ. Sedangkan Yuda, Angga, dan Nino hanya terkadang menemani Devan sambil cuci mata.


"Zyva, ayahmu adalah sahabat dekat saya dan istri saya." Papa Zen mulai membuka percakapan saat makan malam hampir saja usai.


"Kami bertiga bersahabat dekat sejak SMP. Hanya karena suatu hal, ayahmu menghilang tidak ada kabar hingga sampai saat ini. Kami turut berduka cita karena meninggalnya ayahmu, Zyva." ucap Papa Zen dengan mata berkaca-kaca mengingat persahabatan mereka dulu.


"Zyva, ayahmu sudah meninggal?" tanya Dena sangat terkejut mendengar cerita papanya.


Zyva hanya mengangguk. "Terima kasih Om." ucap Zyva santai sambil mengelap mulutnya.


"Saya memberikan tawaran padamu untuk tinggal bersama kami disini menemani Dena. Om tahu kamu kini pasti kesepian." papa Zen memberikan tawaran pada Zyva.

__ADS_1


"Aku setuju dengan papa. Mama juga pasti setuju kan?" Dena menatap ke arah Mamanya.


"Tentu saja mama setuju, bagaimana Zyva?" Mama Auryn kembali bertanya kepada Zyva.


Lagi lagi Zyva menolak tawaran yang diberikan padanya. "Maaf Om dan Miss Auryn, saya tidak bisa menerima tawaran itu. Saya masih menikmati kehidupan baru saya saat ini. Saya juga tidak ingin merepotkan kalian semua." jawab Zyva santun tanpa mengurangi rasa hormatnya pada sahabat mendiang ayahnya.


"Ayolaaah Zyva, papa dan mama juga pasti menginginkan yang terbaik untuk putri sahabatnya." rayu Dena.


Tetap saja Zyva menolak dengan cara yang sangat halus dan sopan.


"Baiklah, kalau begitu katakan apa yang kau butuhkan saat ini Zyva, agar Om dapat membantumu." Papa Zen akhirnya menyerah untuk meminta Zyva tinggal di Mansionnya.


"Om punya perusahaan?" tanya Zyva dan Zen Ivander langsung mengangguk.


"Bisa tidak Zyva bekerja di perusahaan Om saat akhir pekan?" tanya Zyva kemudian membuat Miss Auryn langsung menolak permintaan Zyva.


"Tidak bisa, Zyva. Perusahaan Papa Dena tidak bisa memperkerjakan anak dibawah umur. Lagipula perusahaan itu tidak cocok untukmu." cegah Miss Auryn tegas.


"Benar kata istriku, Zyva. Perusahan milik om sangat tidak cocok denganmu. Apa perlu gaji kau menemani putra dan putri kami belajar ditambahkan?" tanya Papa Zen dan Zyva langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, om. Itu sudah lebih dari cukup." jawab Zyva mantap. "Saya hanya butuh pengalaman kerja."


"Baiklah jika memang begitu, saya permisi dulu Om dan Miss Auryn." Zyva undur diri karena memang sudah malam.


"Papa" pekik Miss Auryn dan Dena bersamaan.


"Datanglah pukul empat sore di tempat kerja saya." ucap papa Zen kemudian sambil memberikan kartu nama kepada Zyva.


"Terima kasih banyak Om, saya akan datang besok sore. Kalau begitu saya permisi dulu." Zyva menyimpan kartu nama milik Papa Dena dan melangkahkan kakinya ke arah pintu.


"Aku akan mengantar Zyva bersama Pak Dindin." ucap Dena mengejar langkah sahabatnya.


Sepeninggalan Dena dan Zyva, Miss Auryn menanyakan keputusan suaminya menerima Zyva bekerja di Perusahaan Club Malam miliknya.


"Papa serius dengan keputusan gila papa?" tanya Auryn.


"Jangan khawatir, sayang. Aku akan menjaga Zyva seperti menjaga putriku sendiri. Dia memang sangat keras kepala seperti ayahnya. Lagipula Devan juga ada di Club saat Zyva bekerja nanti." jawab Zen membuat istrinya sedikit lega.


...***...

__ADS_1


Keesokan harinya, Zyva memutuskan mengajak Devan belajar lebih awal. Zyva mengirimkan beberapa pesan ke Devan, tapi karena Devan baru sampai di rumah saat azan subuh, pesan Zyva tidak terbaca karena Devan masih tidur. Akhirnya Zyva memutuskan bahwa hari ini ia tidak bisa menemani Devan belajar.


...Zyva...


...Hari ini aku gak dateng ke Mansion kamu ya. Ada urusan lain sore ini....


Setelah pesannya terkirim, Zyva memutuskan untuk mencari makan di sekitar kostnya. Baru saja keluar dari gerbang kostnya, Adrian sudah ada di hadapan Zyva menaiki motor sportnya.


"Mau cari makan?" tanya Adrian dan Zyva hanya mengangguk. "Bareng yuk." ajak Adrian dan Zyva langsung naik ke atas motor Adrian.


"Mr. Adrian mau traktir aku kan?" tanya Zyva.


"Yupz, kita makan ke Cafetaria ya." Adrian langsung menjalankan motornya ke arah Cafetaria.


Sesampainya di Cafetaria, Zyva langsung memesan makanan. "Thanks Mr, udah traktir aku. Lumayan kan uang makannya bisa buat besok." ucap Zyva.


"Diiih, panggil Kak aja boleh gak? Jarak usia kita juga cuma sepuluh tahun." pinta Adrian.


"Okeeeee." jawab Zyva.


Melihat Zyva hari ini membuat Adrian sangat ingin melindungi Zyva. Bukan karena apa apa. Ia sangat tahu, Zyva kini hanya sebatang kara.


"Kalo dilihat lihat, Zyva sangat cantik dan imut." batin Adrian dalam hati.


"Weekend begini gak hangout bareng pacarnya kak?" tanya Zyva sambil menikmati makanannya.


"Aku gak punya pacar." jawab Adrian singkat dan tetap memandangi wajah imut Zyva.


"Oooooh." Zyva ber-oh ria tanpa bertanya lagi. Menurut Zyva tidak perlu mengetahui hal pribadi orang lain.


Selesai sarapan, Adrian langsung mengantar Zyva ke kost karena Zyva menolak untuk pergi dengan Adrian karena sore ini ia harus ke perusahaan Papa Dena.


"Nanti sore aku anter ya." Adrian menawarkan diri.


"Gak ngrepotin kak?" tanya Zyva merasa tidak enak.


"Gak dong. Jam 3 aku jemput ya." ucap Adrian sebelum pergi meninggalkan Zyva.


Zyva masuk ke kamar kostnya sambil browsing perusahan yang tertulis di kartu nama milik Zen Ivander.

__ADS_1


Perusahaan "Ander Night Club Young" (ANCY)


"Hemm, Not Bad laah. Aku yakin aku bisa." gumam Zyva dalam hati.


__ADS_2