Cewek Bertalenta

Cewek Bertalenta
Bercengkrama


__ADS_3

Devan terus menyunggingkan senyumannya saat bergandengan tangan dengan Zyva menuju ke kamar.


"Dih, senam senyum terus." tukas Zyva yang sebenarnya juga sedang mengulum senyumnya.


"Tentu saja," jawab Devan santai. "Karena aku sangat bahagia." lanjutnya lagi sambil mengangkat tubuh Zyva ala bridal style menuju ke kamar.


"Devan iiih, turunin dong." gerutu Zyva sambil memukul dada Devan dengan pelan.


"Emang kenapa sih? Malu?" tanya Devan yang sama sekali tidak ingin menurunkan Zyva.


Zyva hanya menganggukkan kepalanya dan membuat Devan semakin gemas. Cepat-cepat Devan membawa Zyva masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya.


Devan pun membaringkan tubuh Zyva ke atas tempat tidur dan Devan pun langsung berbaring di samping Zyva.


"Akhirnya yaa, 8 tahun itu sudah berlalu. Dan kini aku akan memilikimu seutuhnya, Zyva." ucap Devan menata ke langit-langit kamarnya.


"Bagaimana perasaanmu selama 8 tahun, Devan?" tanya Zyva.


"Sangat tersiksa. Apalagi saat kau sama sekali tidak memberikan akses untukku untuk menanyakan kabarmu meski lewat pesan." Jawa Devan sambil memandang ke arah Zyva.


"Lalu kenapa kau tetap pergi jika merasa tersiksa?" tanya Zyva membuat Devan mengernyitkan dahinya.


"Bukankan kau sendiri, sayang yang tidak memperbolehkan aku untuk menarik kata-kataku?" tanya Devan sambil mengusap pipi istrinya.


"Ternyata kau masih sangat mengingatnya." timpal Zyva terkekeh.


"Kenapa kau menyiksaku dengan kerinduan yang sangat menyakitkan Zyva? Delapan tahun adalah waktu yang sangat lama bagiku untuk menahan diri tidak bertemu denganmu."


"Bukan aku yang memulainya Devan. Aku hanya sangat kecewa saat mendengarkan keputusanmu meninggalkanku." Zyva balik memandang Devan dengan intens.


Kini Sorot mata mereka bertemu dan menyiratkan rasa penyesalan yang mendalam dalam diri mereka.


"Aku sudah ingin menggagalkan kepergianku delapan tahun yang lalu, Zyva. Tapi kamu tetap saja tidak ingin menemui ku sampai akhirnya aku mantapkan untuk tetap pergi."


"Karena aku sudah terlanjur sakit, Devan. Keputusanmu sudah begitu menyayat hatiku saat itu."


Devan langsung menggenggam tangan Zyva dengan sangat erat. "Maafkan aku, Zyva. Aku benar - benar tidak bermaksud sama sekali untuk menyakiti hatimu." ucap Devan sambil mengecup punggung tangan Zyva berkali-kali.


"Aku juga sangat menyesal membiarkanmu pergi dan memutus komunikasi kita selama ini. Aku juga sangat merindukanmu, Devan." balas Zyva mulai menitikkan air matanya.


Mendengarkan kata-kata rindu dari Zyva membuat Devan langsung memeluk Zyva dengan sangat erat. Devan sama sekali tidak menyangka bahwa Zyva sangat merindukan dirinya selama ini.


"Aku fikir hanya aku yang merasakan rindu, Zyva." ucap Devan sambil mengusap punggung istrinya.


"Mana bisa seperti itu." gerutu Zyva yang membalas dekapan Devan.


"Karena kau selalu abai jika Dena menceritakan tentang diriku. Bahkan kau juga tampak tidak pernah peduli terhadapku." jawab Devan dengan jujur.


Selama ini, Zyva memang terlihat sangat tidak peduli dengan semua cerita Dena mengenai saudara kembarnya sendiri, Devan. Tapi diam-diam Zyva tetap mengecek akun pribadi Devan di beberapa media sosial.


"Bagiamana mungkin aku mengabaikan orang yang sangat aku cintai." timpal Zyva santai.


"Aku tahu bagaimana dirimu, Devan Ivander. Tentang kegigihanmu meraih kelulusan terbaik, perjuanganmu masuk dalam kedokteran Oxford, dan sampai saat kamu bertugas di rumah sakit besar pun aku tahu."

__ADS_1


Devan sangat terkejut mendengar cerita Zyva barusan. "Benarkah?" tanya Devan.


Zyva pun mengangguk sambil mengambil ponselnya dan memperlihatkan kepada Devan dimana setiap moment perjuangan Devan di London, semuanya ada di ponsel Zyva.


Devan makin terkejut dibuatnya dan langsung merebut ponsel Zyva dari tangannya. Ia pun menggeser slide satu persatu dan semua tentang dirinya ada dalam ponsel Zyva.


"Tapi kenapa Dena selalu mengatakan..."


"Dena dan yang lainnya tidak pernah tahu tentang ini, Devan. Dan kau lah yang pertama kalinya aku beritahu." jawab Zyva.


Devan kembali menatap Zyva dengan intens, "Lalu kenapa kau sam sekali tidak mengenaliku saat di lapangan basket tadi pagi?" tanya Devan.


"Kamera dan yang aslinya sangat berbeda Devan. Aku hanya tidak percaya jika itu adalah kau." jawab Zyva.


"Lalu menurutmu, bagaimana penampilan yang sekarang, sayang?"


"Not too bad." Jawa Zyva.


"Kamu ternyata tidak hanya semakin cantik, tetapi juga semakin mengagumkan, Zyva. Kamu berhasil membuat prank terlama selama delapan tahun inu untukku."


"Kamu juga sudah berhasil menutup dengan sangat rapat perasaan rindumu terhadapku. Dan kamu berhasil untuk tetap aku pertahankan istriku, sayang." bisik Devan tepat di telinga Zyva.


Zyva mulai me remang mendapat bisikan dari Devan. Terlebih sekarang bibir Devan mendarat mulus di leher Zyva dan melukis indah di sana.


"Kamu sangat cantik dan menggairahkan, Zyva." bisik Devan.


"Deeev, geliii." ucap Zyva yang sudah mulai tidak karuan.


"Tapi aku sangat menyukainya, Zyva. Bahkan aku sangat merindukan ini." ucap Devan yang tangannya mulai menyentuh da da milik Zyva dari luar.


"Apa sayaaaaang?" panggil Devan yang makin berani menekan titik sensitif Zyva dari luar baju yang ia kenakan.


"Jangan nakal dong!" pinta Zyva.


"Aku gak nakal, cuma kangen." jawab Devan sambil menelusupkan tangan ke dalam kaos Zyva.


Kali ini Zyva tidak lagi menolak usapan tangan Devan karena dia juga mulai menikmatinya.


"Berapa lama palang merahnya sayang?" tanya Devan sambil terus mengusap milik Zyva yang ada di sebaik kaos yang ia pakai.


"Bisa satu minggu atau bahkan sampai dua minggu." jawab Zyva.


"Dan itu sangat menyiksaku, Zyva sayang." keluh Devan. "Kenapa tidak satu hari saja?"


"Hemm, Memangnya apaan satu hari. Bukankah pernikahan kita juga baru akan dipublikasikan? Jadi bersabarlah." timpal Zyva.


"Tapi kan kita sudah sah sebagai suami istri sejak lama. Lagi pula aku yakin istriku ini juga sudah sangat menginginkannya bukan?" bisik Devan yang merasa perubahan perbedaan di balik kaos Zyva yang ujungnya semakin meruncing.


"Ehmm, Dev. Aku mau ke toilet dulu yaa." ucap Zyva sambil menepis pelan tangan Devan dan turun dari tempat tidur.


Devan pun tersenyum melihat tingkah Zyva barusan. Tiba-tiba ponselnya berdering dan tampak panggilan dari rumah sakit di layar ponsel Devan.


"Hallo."

__ADS_1


"..."


"Apa tidak ada dokter jaga yang lain?"


"..."


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


"..."


Devan pun langsung mengganti pakaiannya dan bersiap untuk menuju ke rumah sakit.


"Dev," panggil Zyva.


"Maafkan aku sayang. Malam ini aku harus ke rumah sakit. Ada korban laka lantas yang harus segera diberi tindakan." ucap Devan yang kemudian mengecup bibir Zyva sedikit lama.


"Segeralah pergi Dev! Hati-hati di jalan. Aku akan menantikan kamu pulang, sayang." ucap Zyva merapikan jas yang dikenakan Devan.


"Terima kasih sayang." balas Devan sambil mengusap kepala Zyva.


Zyva tersenyum dan membuang nafasnya kasar.


"Kenapa dia tampak sangat tampan jika memakai jas dokter seperti itu." gumam Zyva.


Zyva pun kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Dena.


"Den, aku boleh masuk?" tanya Zyva sambil mengetuk pintu kamar Dena.


Dena pun langsung membukakan pintu kamarnya. "Ada apa Zyva? Kenapa tidak bersama Devan?" tanya Dena.


"Ada panggilan dinas dari rumah sakit, aku gak ganggu kamu kan?" tanya Zyva.


Dena pun langsung menarik Zyva masuk ke dalam kamarnya. "Jelas nggak dong. Kebetulan banget nih aku lagi kepoin sosial medianya Liza."


"Buat apa?" tanya Zyva


"Penasaran aja sama pacar Liza yang sekarang." jawab Dena sambil memperlihatkan beberapa foto Liza dengan kekasihnya yang sengaja dibuat blur.


"Lihat deh Zy, kenapa semua foto pacar Liza selalu disamarkan seperti ini?"


"Biar kamu penasaran lah pastinya." jawab Zyva yang tidak begitu mengurusi urusan orang lain.


"Ck, kamu ini ya. Tapi aku kayak gak asing sama orang ini." timpal Dena.


"Emang siapa dia?"


☘️☘️☘️


Guys, mampir yuk ke Novel temen Author.


Judul : Ambil Saja Dia Untukmu


Nama pena : Aveeii

__ADS_1



__ADS_2