
Sesampainya di rumah, Zyva, Dena dan Liza masuk ke kamar mereka masing-masing. Sedangkan Devan dikode oleh papa dan mamanya untuk ke ruang kerja mereka.
"Ada apa sih Pa? Devan lengket banget nih udah pingin mandi." tanya Devan yang sebenarnya bukan hanya ingin mandi, melainkan menagih janji dari Zyva.
"Papa sama mama cuma mau nanya sama kamu. Apa maksud kamu sekarang pacaran sama Zyva? Kalian kan udah nikah." tanya Papa Zen.
"Yah abis Devan bingung pah, udah nikah aja sama Zyva masih kayak musuh bebuyutan. Yaudah deh, Devan tembak aja jadi pacar Devan." jawab Devan jujur membuat papa Zen dan Mama Auryn saling melemparkan pandang.
"Makanya waktu Devan ajak Zyva bolos itu, first dating kita di awal jadian." terang Devan kemudian. "Udah deh, Devan mau mandi dulu. Kan mau dinner sama pacar kesayangan Devan."
Devan langsung keluar dari ruang kerja papanya dan naik ke kamarnya. Belum sampai di pintu kamarnya, Liza menghadang Devan untuk membantunya.
"Aduh Dev, tolongin aku dong. Anting aku nyangkut nih di handuk." pinta Liza yang baru saja mandi dan tubuhnya hanya berbalut handuk.
"Minta tolong sama Dena aja." jawab Devan, tapi Liza langsung menarik tangan Devan dan memaksa untuk membantunya.
Devan yang benar-benar tidak ingin menolong Liza, langsung menarik tangannya kencang hingga membuat Liza terpelanting dan jatuh hingga handuk yang menutupi tubuh Liza pun terlepas.
"Ya Ampuuuun, Lizaaa!" teriak Mama Auryn melihat Liza telanjang bulat di lantai atas. Liza buru-buru menutup tubuhnya lagi dengan handuk. Untungnya Devan tidak melihat Liza sama sekali dan langsung maauk ke dalam kamarnya.
Mama Auryn dan Papa Zen bergegas ke lantai atas untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya Liza langsung berlari dan masuk ke dalam kamarnya.
"Anak itu harus papa kasih pelajaran." ucap papa Zen kesal.
"Hemmm, dia pasti mencoba mengganggu Devan seperti biasanya. Tapi kali ini kelewatan pah, sampai telanjang. Untung aja Devan gak lihat." timpal Mama Auryn yang kesal dengan sikap Liza kali ini.
"Kita akan bicarakan masalah ini nanti dengan semua keluarga besar." ucap Papa Zen dan mengajak istrinya masuk ke dalam kamar.
...***...
Devan yang baru masuk ke dalam kamarnya langsung mencari baju yang akan ia kenakan untuk dinner malam ini dengan Zyva. Sayangnya Zyva yang baru keluar dari kamar mandi justru telah menggunakan kaos oblong dan celana pendek.
__ADS_1
"Zy, kok pake baju kayak gitu." protes Devan. "Kita jadi dinner kan malam ini?"
"Ini kan masih sore, Dev." balas Zyva.
Tanpa menunggu lama Devan segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Saat keluar dari kamar mandi, ia mendapati Zyva yang sudah sangat cantik dengan dressnya dan rambut yang digerai.
Perlahan Devan mendekati Zyva yang masih menata rambutnya di depan meja rias. "Kamu cantik banget, Zy." puji Devan sambil berdiri di belakang Zyva.
"Kamu buruan ganti baju, aku mau ke kamar Dena dulu." Zyva langsung berdiri dan hendak melangkahkan kakinya menjauh dari Devan.
Sayangnya Devan tidak mau melewatkan kesempatan ini untuk menagih janjinya. Ditariknya pinggang Zyva dan membuat Zyva hampir terjatuh ke belakang. Untung saja Devan langsung menangkapnya.
"Aku menagih ciuman panasmu, Zyva." bisik Devan dan Zyva hanya memutar bola matanya malas.
"Kataa kamu tadi dinner. Gimana sih kamu?" protes Zyva dengan nada suara yang terdengar ketus dan berharap Devan melupakan janji konyol yang sudah ia ucapkan tadi.
"Hemmm, jangan mulai PHPin aku deh, Zy. Aku udah bener-bener berjuang loh buat ngedapetin apa yang kamu janjiin sama aku." balas Devan.
"Yaudah, kamu pilih deh salah satu. Kiss or Dinner? Karena aku mau ajak kamu ke restoran korea loh." tawar Zyva.
"Tentu saja dinner." jawab Devan melepaskan Zyva. "Yaudah, aku ganti baju dulu."
Zyva langsung menyunggingkan senyumnya dan keluar dari kamarnya menuju kamar Dena. Setelah Devan selesai mengganti bajunya, ia langsung memanggil Zyva yang masih di kamar Dena.
"Ayo, Zy kita pergi sekarang." ajak Devan.
"Mau ngedate kemana sih kalian? Mentang mentang baru jadian nih." tanya Dena.
"Zyva mau ntraktir aku ke Restoran Korea." jawab Devan.
"Aku ikut. Boleh ya Zy. Please." pinta Dena dan Zyva langsung mengangguk.
__ADS_1
"Gak boleh, kamu nih ganggu orang pacaran aja. Emang kamu mau jadi obat nyamuk?" tanya Devan yang langsung mengamit lengan Zyva dan menariknya keluar dari kamar Dena.
"Dasar pelit." umpat Dena dan Devana hanya terkikik geli.
...***...
Zyva dan Devan kini sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Setelah memesan beberapa menu, Devan langsung duduk di hadapan Zyva dengan penuh kemenangan.
"Aku bahagia banget malam ini. Kamu siap traktir kan?" Devan memastikan pada Zyva.
"Tentu saja. Makan saja sepuasmu, Kapten Basket." jawab Zyva.
Karena Devan sudah sangat lapar sejak pulang dari pertandingan basket, ia pun segera melahap pesanannya. Zyva kali ini bisa bernafas lega meski ia harus mengeluarkan uang untuk mentraktir Devan, setidaknya ia tidak perlu mencium Devan seperti yang ia janjikan tadi.
Saat Devan dan Zyva sedang menikmati menu yang mereka pesan, dari kejauhan ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Apa sih cantiknya Zyva?" tanya Neffy pada Om Clovis yang pandangannya tidak lepas dari Zyva. "Bukannya lebih mantap sama aku, Om yang udah pengalaman?"
"Kamu memang tidak ada duanya Neffy. Tapi Om juga pingin nyicipin gadis polos yang secantik Zyva." jawab Clovis jujur membuat Neffy sedikit kesal.
Sebenarnya Neffy tidak memiliki perasaan apapun terhadap Clovis karena ia hanya membutuhkan uangnya. Tapi melihat Clovis terus saja menginginkan Zyva akhir akhir ini membuat Neffy sedikit tidak suka.
"Siapa laki-laki yang bersama Zyva?" tanya Om Clovis yang terus saja mengorek tentang Zyva.
"Pacarnya Zyva." Neffy menjawab singkat dan dengan nada suara yang ketus.
"Hei, apa kau sedang cemburu sayang?" tanya Clovis. "Aku hanya ingin bermain-main saja."
"Apa Om tidak puas bermain-main dengan ku selama ini?" sarkas Neffy dan air matanya mulai menetes membasahi pipinya. "Aku sedang hamil anak Om. Apa Om juga tidak peduli dengan anak yang sedang aku kandung ini?" tanya Neffy membuat Clovis kini kembali memperhatikan Neffy.
"Maafkan aku, sayang. Selama ini aku benar-benar tidak pernah menghadapi wanita dengan bawaan hamil sepertimu yang sedang sangat sensitif sekarang." ucap Om Clovis meminta maaf dengan tulus.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang apa yang kau inginkan Neffy sayang?" tanya Om Clovis kemudian.
Ini adalah waktu yang sangat Neffy tunggu, yaitu mengutarakan segala keinginannya pada Clovis.