
Setelah diceritakan oleh Devan dan juga Zyva masalah yang baru saja menimpa mereka, kini Dena paham apa yang kini sedang menjadi masalah besar untuk Liza. Sayangnya kali ini mereka tidak bisa membantu masalah yaang sedang melanda Liza, karena mereka masih harus menyiapkan acara pernikahan mereka yang akan dihelat sebentar lagi.
Hari hari Zyva dan Dena benar-benar disibukkan dengan berbagai kesibukan untuk acara Hari H. Sedangkan Devan masih harus melayani beberapa pasien di rumah sakit.
...🍀🍀🍀...
Kini tiba hari dimana Dena akan melangsungkan pernikahan dengan Nino dan pengumuman atas pernikahan Devan dan Zyva yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.
Devan dan Nino tampak sangat tampan menggunakan jas berwarna biru elektrik yang senada dengan gaun Zyva dan juga Dena karena yang hanya warna itu yang keduanya sama-sama cocok.
Devan tampak gelisah karena sedari pagi belum juga bertemu dengan Zyva. Terlebih saat acara akad nikah, mempelai wanita tidak dulu dibawa keluar dan akan keluar nanti setelah akad nikah selesai.
"Ma, yang akad nikah kan cuma Nino. Ini kenapa Zyva gak boleh keluar juga sih." bisik Devan.
"Sabar dong Dev, gak sabaran amat sih kamu." ucap Mama Auryn.
"Abis udah seminggu ini Zyva tidur bareng Dena. Udah gitu dari pagi aku belum ngeliat Zyva sama sekali Ma." gerutu Devan.
"Iyaa mama ngerti kok. Tunggu bentar lagi deh. Zyva bakal keluar sama Dena." bisik Mama Auryn.
Setelah akad nikah selesai, kini waktunya mempelai wanita keluar dari ruang rias. Namun sudah sampai lima menit, mempelai wanita tidak kunjung keluar dari ruang rias mereka menuju ke ballroom hotel.
"Ma, Zyva kok belum keluar?" tanya Devan semakin resah.
"Tadi mama udah minta Liza, Neffy, sama Adel untuk bawa mereka keluar." jawab Mama Auryn yang tampak mulai resah.
"Liza?!" pekik Devan dan Nino bersamaan.
Selama ini mereka berdua tahu persis dengan apa yang menjadi masalah Liza dan mereka sudah sepakat untuk tidak membicarakan hal ini kepada orang tua mereka. Namun, mendengar Liza ada di ruang rias bersama Dena dan Zyva membuat Devan dan Nino makin resah.
"Kita harus segera ke ruangan mereka, Dev." ajak Nino menarik tangan Devan.
Keduanya langsung meninggalkan ballroom dan menuju ke ruang rias Zyva dan Dena. Sedangkan papa Zen pun meminta MC untuk mengganti acara dengan mencicipi hidangan terlebih dahulu diiringi oleh musik yang dinyanyikan oleh penyanyi yang sudah mereka booking sebelumnya.
Setelah sampai di ruang ruang rias, Devan makin terkejut melihat peralatan make up yang berantakan dan tercecer dimana-mana. Tidak hanya itu, ada pecahan kaca di sudut ruangan dan di ruangan tersebut tidak ada satu orang pun di sana. Bahkan penata rias pun tidak ada.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Devan makin gusar. Ia pun memutuskan untuk berpencar dengan Nino untuk mencari Zyva dan juga Dena.
Langkah Devan dan Nino kini sama-sama terhenti di depan pintu darurat saat melihat Zyva dan juga Dena berdiri di sana dan berjalan ke arahnya. Devan dan Nino kini justru berdiri terpaku saat melihat istrinya tidak terjadi apa-apa.
Tidak hanya itu, mereka berdua sangat terpana dengan kecantikan Zyva dan Dena yang tampak sangat menawan. Terlebih kulit putih mereka tampak sangat terang dipadukan dengan gaun berwarna biru elektrik tersebut.
"Devan." panggil Zyva membuyarkan lamunan Devan. "Ayo kita masuk ke Ballroom. Para tamu pasti sudah menunggu." ajak Zyva yang mulai melingkar kan tangannya di lengan Devan.
Devan pun langsung tergagap dan memegang tangan Zyva dengan erat.
__ADS_1
"Kamu dari mana sayang?" tanya Devan. "Aku sangat mengkhawatirkanmu."
"Aku baru saja mengurus Liza. Kita masuk dulu yuk. Nanti aku ceritakan apa yang sudah terjadi." bisik Zyva.
Kini kedua pasang mempelai pun memasuki ballroom hotel. Pandangan seluruh tamu undangan langsung tertuju kepada kedua mempelai yang sangat tampak mempesona hari ini.
Setelah sampai di pelaminan, MC pun langsung memandu beberapa serentetan acara adat satu per satu dan semuanya berjalan dengan sangat lancar. Hingga tiba acara memberikan selamat dan foto bersama dengan kedua pasang pengantin, semuanya berjalan sesuai dengan rencana.
Tamu undangan satu per satu mulai berpamitan. Kedua pasang mempelai pun kini waktunya menikmati hidangan VIP yang sudah disiapkan khusus untuk mereka. Saat inilah Devan, Nino dan yang lainnya menunggu Zyva dan Dena bercerita apa yang telah terjadi dengan mereka.
Flashback ON
"Zyva, aku bawain minuman nih buat kamu." ucap Liza membawakan orang juice untuk Zyva.
Mata Zyva berbinar melihat orang juice di tangan Liza yang tampak sangat menyegarkan.
"Loh, buat aku mana Liza. Kamu kok buatin Zyva doang sih." ucap Dena yang juga merasa kehausan.
"Yang ini khusus buat Zyva, nanti aku buatin lagi buat kamu Den." jawab Liza.
Mendengar jawaban Liza, Dena dan Zyva pun saling melemparkan pandang satu sama lain.
"Aku minum air putih aja deh, Liza. Orange juice nya buat Dena aja." tukas Zyva yang kemudian minta diambilkan air putih oleh salah satu asisten rumah tangganya.
"Ya udah gak usah marah juga Liza, sini kasihi ke aku aja Orange juicenya." pinta Dena.
Sayangnya Liza sama sekali tidak mau memberikan kepada Dena dan bersikukuh Zyva yang harus minum Orange juice buatannya.
"Aku cuma mau kasih ke Zyva dulu. Kamu sabar dong Dena, nanti aku bakal buatin buat kamu setelah Zyva minum ini." ucap Liza dengan nada bicara yang ketus.
"Ini kenapa sih jadi pada ngributin jus jeruk begini?" tanya Adel yang mulai jengah dengan Liza.
"Jangan-jangan kamu udah taruh racun ya buat Zyva, makanya sekarang jus nya gak kamu kasihan ke Dena?" tanya Adel to the point.
"Heh! Punya mulut tuh dijaga dong, Adel. Mana mungkin aku meracuni ipar aku sendiri." kilah Liza tidak terima dengan apa yang diucapkan Adel.
"Yaudah kalo gitu, kamu aja yang minum kalo emang jus jeruk itu gak beracun." timpal Dena mulai geram.
"Maksud kalian semua tuh apa?" teriak Liza kesal. "Kenapa kalian malah fitnah aku yang enggak-enggak kayak gini?"
"Zyva!" panggil Liza dengan mata yang udah mulai berkaca-kaca.
"Aku tulus buatin kamu minuman, tapi gara-gara kamu nolak pemberian aku, Dena sama Adel jadi ribut gini kan sama aku." tukas Liza sambil meneteskan air matanya.
"Yaudah, siniin Orange juicenya. Biar aku minum." ucap Zyva menengahi keributan yang ada di ruang rias sambil mengambil gelas yang dibawa oleh Liza.
__ADS_1
Namun saat hendak minum Orange juice buatan Liza, ponsel Zyva berdering. Akhirnya Zyva meletakkan Orange juice tersebut di atas meja dan kemudian mengangkat panggilan dari Neffy.
Pyarr!! Gelas Orange juice tadi jatuh dan pecah karena Zyva memasang sengaja meletakkan di pinggir meja dengan asal-asalan.
"Zyvaaaa!" teriak Liza semakin kesal dan tangannya hampir saja menarik gaun Zyva.
Untungnya dengan sigap para asisten rumah tangga dan penata rias sama-sama memegangi Liza agar tidak menyerang Zyva.
Liza yang sudah sangat marah mulai memberontak dan membabi buta di ruang rias hingga semuanya berantakan.
Flashback OFF
"Lalu kenapa kalian semua datang dari pintu darurat?" tanya Devan saat Zyva dan Dena selesai bercerita.
...☘️☘️☘️...
Nah, sambil nunggu lanjutannya, mampir dulu yuk ke Novel temen aku.
Judul: Salah Rahim
Nama pena: alya aziz
FB: Alya Aziz
#Noveltoon
#Promosi_Novel
BLURB:
Arman Alfarizi enggan untuk menikah lagi setelah kematian sang istri, namun sangat ingin mempunyai anak sebagai penerus keluarga.
Teknologi medis yang semakin canggih membuat Arman bisa saja mempunyai seorang anak tanpa harus melalui hubungan badan. Prosedur itu biasa disebut dengan inseminasi buatan. Naas, sel sp*rma Arman yang seharusnya disuntikan ke rahim seorang wanita yang telah disiapkan, malah di suntikan ke rahim Asyifa Khairunnisa.
"Aku tidak pernah melakukan zina seperti yang kalian katakan, aku tidak mungkin hamil!"
Syifa dinyatakan hamil tepat di hari pertunangannya. Sang calon suami yang sudah terlanjur kecewa memutuskan pertunangan begitu saja.
Tepat hari itu pula Arman mengetahui bahwa dokter rumah sakit tersebut telah melakukan kesalahan prosedur inseminasi buatan. Arman pun tidak tinggal diam, ia datang menghampiri Syifa di kediaman orang tuanya.
"Lahirkan anak itu untukku." Arman Alfarizi.
Langkah apa yang akan Syifa ambil selanjutnya?
__ADS_1