
Sesampainya di kamar, terdengar gemericik air di dalam kamar mandi menandakan Zyva sedang mandi. Devan pun menunggu Zyva sambil duduk di kursi belajarnya. Terlihat sepucuk surat di atas meja belajar dan buru-buru Devan membukanya.
Dear Devan,
Maaf telah membuatmu sedikit kecewa atas sikapku. Lewat kertas ini aku akan menjawab semua pertanyaanmu padaku.
Jika kau bertanya, Kenapa aku memperbolehkan Liza buat nembak kamu jadi pacarnya?
Jawabanku adalah karena aku tahu kau tidak mungkin menerimanya. Lagi pula Liza cuma izin untuk mengutarakan perasaannya. Pacar kamu kan aku.
Dan kalau kamu tanya Kenapa aku seolah-olah gak cemburu setiap Liza mengungkapkan semua perasaannya buat kamu?
Emmm, aku hanya jawab cukup aku yang tahu karena aku bukanlah tipe orang yang mengumbar perasaan ku.
Dan saat kamu tanya Kenapa aku gak cegah Liza buat dekatin kamu dan posesifin kamu?
Aku akan jawab, saat ini aku orangnya fleksibel. Karena bagi aku, kamu selamanya milik Ayah Zen, Ibu Auryn, dan Dena. Aku gak bisa milikin kamu sepenuhnya, Devan. Tapi kamu mungkin akan bisa miliki aku nanti😊
Dan pertanyaan terakhir, Apa aku memang gak cinta sama kamu?
Aku akan menjawabnya nanti, saat waktunya sudah tepat untuk aku utarakan.
-Zyva-
Setelah membaca surat dari Zyva, Devan langsung menyimpannya di dalam lemari dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini begitu melelahkan bagi Devan. Tanpa menunggu lama, Devan pun memejamkan matanya dan tertidur.
Zyva yang baru selesai mandi langsung mengecek surat yang ditulisnya untuk Devan di atas meja. Zyva langsung merekahkan senyumnya saat mengetahui surat itu sudah tidak ada di meja.
Melihat Devan yang sudah terlelap, membuat Zyva memberanikan dirinya naik ke atas tempat tidur dan memandangi Devan dari dekat. Kali ini Zyva memandangi wajah Devan sampai puas dan tak lama kemudian Zyva pun tertidur di samping Devan.
Devan membuka matanya saat tangan Zyva memeluk tubuhnya. Jantung Devan langsung berdegub kencang mendapati Zyva memeluknya. Ia memainkan jari telunjuknya di wajah Zyva dan berhenti di bibir Zyva.
"Bibir ini sekarang udah mulai berani cium bibir aku." gumam Devan dalam hati. "Kamu yang memulainya, Zyva." bisik Devan yang kali ini langsung menempel kan bibir miliknya ke bibir Zyva.
Tidak ada penolakan dari Zyva membuat Devan makin berani untuk memagut bibir pacar yang sudah sah menjadi istrinya. Devan terus menikmati bibir Zyva sampai Zyva membuka matanya karena hampir kehabisan nafas.
Devan langsung melepaskan pagutannya saat Zyva sedikit mendorong tubuhnya ke belakang. "Dev _ van." panggil Zyva dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
"Emmm ammm emmmm Zy, a aku min ta maaf." ucap Devan terbata-bata karena takut Zyva kembali marah karena tindakannya.
Zyva yang mulai menikmati ciuman Devan saat matanya terpejam pun kini bingung harus menjawab apa.
"Aku hampir kehabisan nafas, Dev." ungkap Zyva.
"Kamu gak marah?"
Blush!
Pertanyaan Devan kali ini membuat pipi Zyva langsung merona merah. Untung saja Dena mengetuk pintu dari luar dan mengajak mereka untuk segera turun makan malam.
...***...
Setelah makan malam, Zyva duduk di kursi belajar dan membuka bukunya. Devan yang baru masuk ke kamar dan mendapati Zyva sedang belajar langsung menutup buku Zyva.
"Besok libur, Zy. Ngapain sih masih belajar aja." protes Devan.
"Kamu gak ke Club? Biasanya malam weekend kamu kesana kan?" tanya Zyva berbasa-basi.
"Zy, kita naik ke tempat tidur yuk sambil ngobrol. Terusin yang tadi siang." ajak Devan yang sudah meraih tangan Zyva.
"Aku kan udah jawab semua pertanyaan kamu tadi, Dev." timpal Zyva yang sudah mulai sedikit meremang saat bersentuhan dengan Devan.
"Masa sih?" goda Devan saat keduanya sudah sama-sama di atas tempat tidur. "Kamu belum jawab satu pertanyaan aku, Zy."
"Yang mana? Kayaknya udah semua deh."
"Yang ini, gimana perasaan kamu waktu ciuman sama aku?" tanya Devan membuat Zyva langsung menyembunyikan wajahnya dan masuk ke dalam selimut.
Melihat tingkah lucu Zyva membuat Devan semakin gencar menggoda Zyva. "Jawab dong sayang."
Mendengar panggilan Devan membuat Zyva semakin malu. "Kamu apaan sih Dev. Udah tidur gih."
Devan menyibakkan selimut yang menutupi wajah Zyva, tapi justru membuat tangan Devan menyentuh dada milik Zyva yang paling sensitif.
"Devan!" pekik Zyva saat mendapati Devan yang tidak kunjung memindahkan tangannya dari atas dada Zyva.
__ADS_1
"Ups Sorry!" Devan mengangkat tangannya, tapi sebelumnya justru ia mer*m#s milik Zyva dan membuat Zyva meremang. "Empuk banget, Zy."
Mendengar ucapan Devan, Zyva langsung memukul mukul dada Devan hingga kini Zyva berada di atas tubuh Devan. "Sakit tau, Zy. Kamu kenceng banget mukulinnya. Gak kasihan ih sama aku."
"Biarin aja. Abis kamu nakal banget sih. Aku laporin ke ibu nih." ancam Zyva yang kemudian turun dari atas tubuh Devan.
"Emang kamu mau ngelaporinnya gimana sih, Zy? Orang disini aku yang teraniaya sama kamu. Kamu tanggung jawab, Zy." jawab Devan membuat Zyva diam dan berfikir.
"Kalau gak mau tanggung jawab, nanti aku bales loh." Devan kini justru memojokkan Zyva.
"Okey aku harus tanggung jawab apa?" tanya Zyva yang sudah mulai terdesak.
Devan langsung membuka kaosnya dan memperlihatkan tubuh atletisnya di hadapan Zyva hingga membuat Zyva menelan ludahnya kasar.
"Usapin dada aku pelan pelan yang habis kamu pukulin nih." pinta Devan dan Zyva langsung menggelengkan kepalanya.
Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika ia bersentuhan langsung mengusap dada bidang milik Devan. Melihatnya saja membuat Zyva menelan ludahnya kasar apalagi menyentuhnya.
"Yaudah deh, kamu mending bales pukulin aku aja gak papa." ucap Zyva sambil membalikkan punggungnya. "Tuh, pukulin aja. Aku juga udah siap kok."
"Helloooo, Zyva. Bales nya bukan gitu dong." sanggah Devan.
"Kamu nih ribet banget deh. Yaudah trus gimana?" Zyva kini mulai sedikit kesal karena Devan terus menggodanya.
"Kamu kan tadi pukulin dada aku kenceng banget tuh, nah sekarang aku bales pukulin dada kamu tapi gak kenceng. Karena aku orangnya baik hati, aku pukulinnya pelan-pelan. Gimana?" tawar Devan sambil mengedipkan matanya.
Zyva langsung menutupi dada miliknya.
"Dasar mesum!" pekik Zyva dan berbalik membelakangi Devan.
Devan kembali terkekeh melihat tingkah Zyva. "Yaudah, kalo gitu kamu istirahat aja sayang." Devan mengusap kepala Zyva pelan.
"Naaaah, gitu napa dari tadi." timpal Zyva kembali berbalik menghadap Devan.
"Nanti kalo kamu udah tidur, baru aku bales yang tadi. Abisnya kamu gak mau usapin dada aku sih yang habis kamu pukulin." jelas Devan.
Zyva kini tidak ada pilihan lain selain mengusap dada Devan meski ia harus menelan ludahnya kasar berkali-kali.
__ADS_1