Cewek Bertalenta

Cewek Bertalenta
Kakak Tiri


__ADS_3

Sudah empat hari ini Zyva berlatih renang bersama Yuda. Tapi tidak sekali pun Yuda menang melawan Zyva. Selalu saja Zyva yang unggul dan membuat Adrian makin kagum dengan Zyva.


Setiap selesai berenang, Yuda selalu menawarkan diri mengantar Zyva pulang. Tetapi Zyva selalu menolak karena ia tidak ingin Adel salah sangka padanya. Kesempatan ini Adrian gunakan untuk menawarkan dirinya mengantar Zyva pulang.


"Aku antar pulang?" tawar Adrian dan Zyva langsung menggelengkan kepalanya.


"No, thanks. Aku tidak pulang ke kost." jawab Zyva.


"Aku akan mengantarkanmu kemana pun kau pergi. Bagaimana?" tawar Adrian.


"Baiklah, antar ke Mansion Miss Auryn ya. Hari ini jadwal Dena belajar denganku." pinta Zyva yang langsung memakai tas punggungnya.


"Siap guru les." jawab Adrian yang langsung melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil.


Zyva hanya tersenyum mengikuti langkah Adrian. Zyva duduk di samping kemudi dan langsung memasang seat beltnya. Sedangkan Adrian terus memandangi Zyva dan tidak segera menjalankan mobilnya.


"Apa masih ada yang ditunggu?" tanya Zyva membuyarkan lamunan Adrian.


"Jam berapa kamu mulai belajar sama Dena?" tanya Adrian mulai menjalankan mobilnya.


"Masih satu setengah jam lagi sih." jawab Zyva. "Biasanya Dena meminta belajar jam lima sore."


"Bagaimana kalo kita makan di Cafe dekat rumah Dena? Kakak laper nieh." ajak Adrian dan Zyva terdiam sejenak.


"Kakak yang traktir deh." ucap Adrian lagi dan Zyva langsung menganggukkan kepalanya.


"Kalo ditraktir mah aku selalu oke pokoknya." jawab Zyva.


Dengan semangat Adrian menjalankan mobilnya menuju Cafe Cinta yang terkenal dekat komplek perumahan Dena. Kini keduanya sudah sampai di Cafe dan Zyva langsung memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Setelah mereka memesan menu, Adrian menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Zyva," panggil Adrian.


Zyva yang sedang menatap ke luar jendela langsung menatap Adrian. "Ada apa kak?" tanya Zyva.


"Emmmh, kalo misalnya kita pacaran gimana? Kamu mau gak?" tanya Adrian yang sebenarnya sudah dag dig dug tidak karuan.


"Pacaran?" Zyva mengerutkan keningnya dan balik bertanya. "Aku masih lima belas tahun loh kak. Masa' iya pacaran sama kakak. Emang kakak berapa umurnya?" Dengan santai Zyva menanggapi pertanyaan Adrian.

__ADS_1


Sedangkan Adrian tercekat setelah mendengar tanggapan dari Zyva. Dia tidak menyangka, gadis cantik di hadapannya bisa menanggapi ucapannya dengan sangat santai.


"Dua puluh lima tahun." jawab Adrian singkat.


"Kakak pernah pacaran sebelumnya?" tanya Zyva dan Adrian hanya menganggukkan kepalanya. "Aku sih belum, dan kayaknya belum kepingin pacaran juga. Ribet kayaknya." jawab Zyva membuat Adrian mengerutkan dahinya.


"Maksud kamu?" tanya Adrian.


"Bagi aku, pacaran itu bikin kita gak bebas. Dikit dikit ditanya udah makan apa belum? Lagi apa? Banyak deh. Aku juga males dikepoin." jawab Zyva membuat Adrian kini sadar bahwa gadis di depannya memang masih polos.


Menu pesanan mereka pun tiba dan Zyva langsung menyantapnya pelan.


"By the way, thanks ya kak traktirannya." ucap Zyva.


"Sama-sama. Oh iya Zyv. Terus menurut kamu hubungan kedekatan kita ini namanya apa?" tanya Adrian sambil menyantap makanannya.


"Emmm, apa yaaa. Bisa dibilang temen deket lah." jawab Zyva membuat Adrian sangat kecewa. Kebaikan dan perhatiannya selama ini hanya dianggap sebagai teman dekat.


Tiba-tiba dari arah pintu ada seorang wanita yang berjalan menuju tempat Adrian dan Zyva makan.


"Hai Adrian, apa kabar?" tanya seorang wanita yang kini berdiri tepat di samping Zyva.


"Sudah satu minggu yang lalu." jawab Rachel yang lalu melihat ke arah Zyva yang kali ini mengenakan kaos oblongnya dan celana jeans.


"Siapa gadis kecil ini? Apa dia adikmu?" tanya Rachel sambil memperhatikan Zyva.


"Hai Kak, aku Zyva." ucap Zyva memperkenalkan dirinya.


"Dia adikku," lanjut Adrian membuat mata Zyva berbinar. Betapa bahagianya Zyva kali ini mendengar Adrian mengangapnya sebagai seorang adik.


"Waaah, senang bertemu denganmu, Zyva. Aku Rachel, emmmh mantan calon kakak ipar kamu." ucap Rachel sambil terkekeh.


"Kok Mantan sih Kak Rachel? Kalian berdua cocok banget loooh." balas Zyva membuat Adrian sangat kesal.


Melihat raut muka Adrian, membuat Rachel undur diri dari hadapan Zyva dan Adrian.


"Zyva, sepertinya aku harus segera pergi. See You, Zyva. Dah Adrian." ucap Rachel menepuk bahu Adrian dan pergi.

__ADS_1


Melihat Rachel pergi, Zyva langsung menendang kaki Adrian pelan. "Kak Rachel kok dicuekin gituh sih Kak. Kasihan tau." celetuk Zyva membuat Adrian makin kesal.


"Kamu hanya anak kecil yang gak tahu apa-apa. Dah diem aja." jawab Adrian sambil menyelesaikan makannya.


"Aku seneng banget deh, Kak Adrian ngakuin aku jadi adik kakak." Zyva terdiam sejenak dan mengelap mulutnya. "Meskipun pada kenyataannya aku hanya adik tiri." ucap Zyva membuat Adrian sangat terkejut.


"Adik tiri?" Adrian mengulangi kalimat Zyva dan Zyva langsung tersadar akan kalimatnya. "Apa kau tahu jika Miss Tina ibu kandungmu?" tanya Adrian kemudian dan Zyva hanya mengedikkan bahunya.


Adrian langsung memegang tangan Zyva. "Katakan padaku apa yang kau tahu, Zyva." pinta Adrian.


"Aku tidak tahu apa-apa. Hanya saja sebelum ayah meninggal, ia sedikit bercerita tentang wanita yang melahirkan aku." jawab Zyva santai.


Adrian terdiam dan Zyva langsung mengajaknya kembali ke mobil dan mengantarkannya ke Mansion Dena.


"Zyva, apa kau menolakku karena kau sudah tahu jika aku adalah kakak tirimu?" tanya Adrian setelah mereka berada di dalam mobil.


"Menolak? Aku tidak pernah menolak. Justru aku senang karena kakak menganggapku adik." jawab Zyva membuat Adrian mengusap wajahnya kasar.


Zyva masih saja belum paham arah pembicaraan yang Adrian maksud. Adrian hanya ingin mereka berdua pacaran, bukan sebatas kakak dan adik.


"Kak, kok malah ngelamun sih. Udah hampir jam lima loh." ucap Zyva melihat Adrian belum menyalakan mobilnya.


Bukan menyalakan mobil, Adrian justru mendekatkan tubuhnya ke arah Zyva.


"Aku mencintaimu, Zyva. Aku ingin kau menjadi milikku yang nantinya menjadi istri dan ibu dari anak-anakku." ucap Adrian menatap Zyva intens.


Kini dua tatapan mereka bertemu, Zyva kali ini benar-benar tidak menyangka Adrian mengatakan apa yang ia dengar barusan. Melihat Zyva terdiam, Adrian mendekatkan wajahnya ke wajah Zyva.


Zyva langsung membuang mukanya menghadap ke luar jendela. "Zyva." panggil Adrian pelan.


"Kau ini suka sekali bercanda, Kak. Ayolaaaah. Aku hampir terlambat." ucap Zyva mencubit lengan Adrian.


"Awh." pekik Adrian. "Aku tidak ber...." Zyva langsung menutup mulut Adrian dengan jari telunjuknya.


"Kita bahas ini nanti, setelah aku belajar dengan Dena. Bagaimana?" tanya Zyva.


"Oke, aku akan menunggumu. Kabari aku jika kau sudah selesai." ucap Adrian mulai menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Tepat jam lima sore, Zyva sampai di Mansion Dena dan Adrian kembali ke Cafe untuk menunggu Zyva.


__ADS_2