Cewek Bertalenta

Cewek Bertalenta
Monster Day


__ADS_3

Neffy memandang Zyva dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Apa Zyva sama seperti dia, yang sangat membutuhkan uang dan rela untuk bekerja malam? Tapi Neffy tidak melihat Zyva melayani seorang lelaki, sama seperti dia. Kalau memang Zyva sangat membutuhkan uang, bukannya hal mudah bagi Neffy untuk meminta Zyva menemani Clovis malam ini.


Neffy pun memakai outernya dan berjalan ke arah Zyva yang kini sedang meracik pesanan pengunjung.


"Hai Zy," sapa Neffy. "Kamu disini juga yaa?"


"Hai Neffy. Iyaaa. Lagi kerja." jawab Zyva sambil menyerahkan minuman pada pengunjung ANCY. "Mau pesan apa?"


"Gak deh Zy. Aku cuma pingin ngobrol aja sama kamu. Kamu kerja tiap hari?" tanya Neffy dan Zyva langsung menggelengkan kepalanya.


"Cuma weekend aja, oh iya, kamu udah jadi ke dokter?" Zyva melepas celemeknya dan duduk di samping Neffy.


"Udah, kata dokter cuma masuk angin biasa aja." jawab Neffy berbohong. Kali ini ia tidak mau ada yang tahu tentang kehamilannya. Bisa rusak reputasinya jika Zyva tahu dia hamil.


"Oh iya, Zyva. Kamu kerja pasti butuh uang kan? Aku ada cara untuk bantu kamu." ucap Neffy. Zyva langsung mengerutkan dahinya dan bertanya tanya dalam benaknya.


Jangan-jangan Neffy ngajakin aku kerja kayak dia lagi nemenin om-om. Aduuuuuh, gak banget deh. Amit-amit.


"Gak susah kok Zy kerjanya. Gimana? Kamu mau gak?" desak Neffy berharap Zyva langsung menyetujuinya.


"Zyva!!!" panggil Manager ANCY dengan suara kencang. "Kembali bekerja!!" perintahnya membuat Zyva langsung mengangguk.


"Aku tinggal dulu ya Neff." Zyva kembali bekerja dan memakai celemeknya.


Dari kejauhan, Devan tersenyum lega sambil terus memainkan musiknya. Devan dikenal sebagai DJ Wolf karena setiap memainkan musiknya ia selalu menggunakan topeng dengan aksen serigala. Pantas saja Neffy tidak mengenali DJ Wolf yang sering dielu elukan.


Neffy dan Clovis sudah tampak meninggalkan ANCY, padahal waktu belum menunjukkan tengah malam. Devan yang sedang beristirahat pun langsung menemui Zyva dan memesan minuman.


"Zyva, aku lihat Om yang bersama Neffy selalu melihat ke arahmu dari tadi." ucap Devan yang kemudian menyesap minuman racikan Zyva.


"Iya, aku juga tahu. Tapi tenang saja. Aku akan bertukar posisi dengan yang lain besok dan mengubah penampilanku." jawab Zyva membuat Devan berdecak kagum.

__ADS_1


Setelah waktu istirahat usai, Devan dan Zyva kembali bekerja. Malam ini lebih ramai dari malam sebelumnya, hingga Devan mengantar Zyva tepat saat waktu subuh tiba. Setelah itu Devan kembali ke rumahnya dan beristirahat.


...***...


Hari Senin tiba. Bagi para pekerja dan siswa terkadang Monday is Monster Day. Tapi mungkin tidak bagi Zyva yang sudah berangkat ke sekolah lebih pagi.


Sesampainya di sekolah, Zyva langsung duduk di taman sekolah dan membaca bukunya untuk persiapan evaluasi sains hari ini.


"Zy, kamu disini ternyata." tepuk Dena dan dari tadi berkeliling mencari Zyva.


Zyva menoleh ke arah Dena dan tersenyum. "Belajar bareng yuk." ajak Zyva dan Dena langsung menggelengkan kepalanya.


"No, Zyva! Kamu di panggil Miss Auryn di ruang Mr Adrian. Buruan kesana." ucap Dena dan Zyva langsung berjalan ke ruang Mr Adrian.


Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, Zyva terkejut melihat Miss Auryn duduk diapit dengan Miss Tina dan Mr Adrian.


"Duduklah Zyva." perintah Miss Auryn. "Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan."


Zyva pun duduk di samping Mr Adrian.


Ternyata selama ini ayahnya tidak melepaskan Gelora Internasional begitu saja.


"Bukankah anda sudah memaksa ayahku untuk mengalihkan kuasa Gelora Internasional menjadi nama anda, Miss Tina?" tukas Zyva.


"Ayahmu hanya memberikan aku berkas palsu. Sekarang aku ingin kau menandatangani berkas pengalihan kuasa menjadi atas nama mama, Zyva." pinta Pristina tegas.


"Tidak, aku masih memiliki hak lebih besar daripada anda. Maka aku akan mempergunakan hak ku dengan sebaik-baiknya." jawab Zyva membuat Adrian makin kagum dengan gadis belia ini.


Tidak lama kemudian, pengacara kepercayaan Ray Pratama datang dengan membawa berkas kepemilikan Gelora Internasional.


"Maaf, sudah lama menunggu. Kita langsung mulai saja untuk mulai mengurai permasalahan ini, agar sekolah ini jatuh di tangan yang tepat." ucap pengacara. "Baiklah, silahkan Nyonya Tina mengajukan pendapatnya terlebih dahulu."

__ADS_1


Pristina terus saja menginginkan Zyva menyerahkan sekolah itu kepadanya. Tapi Zyva bersikeras untuk tetap pada pendiriannya, merebut hak milik ayahnya menjadi miliknya.


"Sebenarnya Nona Zyva berhak memiliki sebesar tujuh puluh persen aset sekolah ini setelah berusia tujuh belas tahun, atau setelah menikah. Begitu yang tertuliskan dalam berkas ini." jelas pengacara membuat Zyva terdiam. Ia harus berfikir keras untuk memperjuangkan kepemilikan ayahnya.


"Bukankah dalam surat tersebut juga tertulis bahwa ayahku memberikan hak kepemilikan aset sebesar tiga puluh persen kepada ISTRINYA. Tapi sudah belasan tahun ayahku tidak memiliki istri. Bagaimana bisa Miss Tina berhak atas kepemilikan ayahku?" tanya Zyva balik membuat semua yang ada di sana tercengang.


Bagaimana mungkin seorang gadis lima belas tahun dapat berfikir se detail itu?


"Sedangkan Aku masih memiliki hak paten untuk memiliki sekolah ini saat aku SUDAH MENIKAH. Bukankah menikah tidak harus menunggu saat usiaku tujuh belas bukan?"


Lagi lagi ucapan Zyva membuat semua orang yang ada dalam ruangan Adrian terdiam. Mereka sama sekali tidak pernah menyangka jika Zyva secerdas ini.


"Tapi dalam surat itu tertuliskan namaku, Zyva." sarkas Pristina dengan nada suara tinggi.


"Tanyakan saja pada pengacaranya, siapa yang benar? Aku atau anda." jawab Zyva tegas.


Semua pandangan beralih menuju kepada Pengacara. Kini mereka semua yang ada dalam ruangan menunggu keputusan pengacara tersebut.


"Zyva benar. Tuan Ray Pratama memang menuliskan istri disini. Dan dalam hukum negara yang sah, Nyonya Tina bukanlah istri dari Tuan Pratama." jelas pengacara tersebut membuat Pristina makin geram.


Ia langsung melempar vas bunga yang ada di depannya ke arah Zyva dan malah mengenai pengacaranya yang kebetulan duduk di samping Zyva. Untungnya tidak ada cidera yang berarti meskipun vas bunga tersebut pecah.


"Kau memang anak yang tidak tau diuntung Zyva!" pekik Tina. "Kau juga keterlaluan Pak Rudy. Bagaimana bisa kau memihak pada Zyva setelah selama ini menjadi orang kepercayaanku?" tanya Tina yang tidak habis pikir dengan Rudy, pengacara yang sejak awal memegang berkas Gelora Internasional.


"Maafkan saya Nyonya, dari awal Tuan Ray memang menitipkan kepada saya dan memberikan kepercayaan penuh terhadap saya sampai nanti Nona Zyva berusia tujuh belas tahun, atau menikah." jelas Rudy, si pengacara.


Kali ini Pristina benar-benar terkulai lemas, ia benar-benar tidak menyangka akan kehilangan bisnis besarnya begitu saja. Ia langsung berjalan keluar dari ruangan Adrian dengan geram dan menutup pintu ruangan dengan kencang.


Miss Auryn, Zyva, Adrian dan Rudy pun segera melanjutkan obrolan mereka setelah Pristina keluar dari ruangan.


"Zyva, sekarang keputusan ada ditanganmu. Bu Tina pasti akan menghalalkan segala cara untuk merebut kepemilikan sekolah ini sebelum kau menikah. Karena hanya itu cara yang dapat membuatmu segera memiliki hak sepenuhnya atas sekolah ini." jelas pak pengacara membuat semua mata tertuju pada Zyva.

__ADS_1


Bel masuk sekolah pun berbunyi membuyarkan semua konsentrasi yang ada di ruangan Adrian.


"Aku akan memikirkan hal ini nanti. Aku harus kembali ke kelas. Permisi." Zyva membungkukkan badannya lalu berbalik membuka pintu ruangan Adrian dan kembali ke kelasnya.


__ADS_2