Cewek Bertalenta

Cewek Bertalenta
Hang Out


__ADS_3

Sepulang dari taman kota, Zyva langsung mandi dan bersiap untuk pergi ke toko buku. Ia harus segera mendapatkan buku untuk menunjang disertasinya. Meskipun baru semester 4, Zyva sudah mulai membuat disertasinya yang ia perhitungan akan selesai di semester 6 ini.


Kali ini Zyva sengaja meneliti tentang kebijakan hukum penggunaan jaminan kesehatan yang beberapa waktu terakhir ini menjadi polemik.


"Zyva, mau kemana udah rapi begini?" tanya ibunya yang baru selesai masak untuk Zyva.


"Pergi sama Dena ke toko buku, bu. Mau cari buku untuk disertasi Zyva." jawab Zyva yang kemudian menarik kursi makan dan siap untuk menikmati masakan ibunya.


"Oooh, ya sudah nanti hati-hati yaa. Hari ini ibu juga mau arisan bareng sama Auryn." ucap Tina sambil menyendokkan sayur untuk Putrinya.


Meski hidup di Mansion besar, untuk urusan masak tetap dihandle oleh Tina sendiri. Sedangkan asisten rumah tangga tugasnya hanya membersihkan rumah.


Rumah peninggalan Ayah Ray kini sudah di renovasi total menjadi Mansion yang sangat megah oleh Zyva. Sebenarnya ia bisa saja menjual rumah kenangan itu dan pindah membeli rumah baru yang dekat dengan sekolahnya. Tetapi bagi Zyva, kenangan ayahnya lebih berarti untuknya.


Tin! Tin! Bunyi klakson mobil Nino sudah terdengar di depan Mansion tepat di suapan terakhir Zyva. Ia pun segera mengelap mulutnya dan berpamitan kepada ibunya.


Zyva langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Dena. "Kamu gak duduk di samping Nino?" tanya Zyva.


Dena langsung menggelengkan kepalanya. "Nino masih mau ngajak satu orang lagi katanya." jawab Dena.


"Siapa?"


"Sean. Temen SMP kamu, Zy." jawab Nino. "Masih inget kan?"


"Ooh Sean." jawab Zyva datar.


"Iya, aku sempet ketemu dia kemarin. Sebenernya hari ini dia ngajakin aku hang out, eh ternyata Dena juga ngajakin ke toko buku nganterin kamu. Ya udah deh aku ajak Sean sekalian." jelas Nino sambil mengendarai mobilnya.


"Gak papa kan?" tanya Nino.


"Ck, santai aja kali." jawab Zyva yang mulai memainkan ponselnya.


"Zy, ada yang pingin aku omongin nih ke kamu. Masalah Liza." tukas Dena.


"Kenapa emang?"

__ADS_1


Dena kini membuka ponselnya dan memperlihatkan kepada Zyva. "Kamu lihat deh cowok yang bareng sama Liza."


Zyva pun mengamati foto yang disodorkan oleh Dena dan kemudian mengerutkan dahinya. "Emang siapa sih cowoknya, aku gak kenal kok."


"Masaa? Coba deh kamu lihat baik-baik." pinta Dena terus mendesak Zyva.


"Itu kan Yuda. Masa gak inget sih Zyva." timpal Nino.


Zyva langsung merebut ponsel Dena dan mengamatinya dengan seksama. "Yuda? Beda banget ya sekarang." gumam Zyva memperbesar gambar di ponsel Dena.


"Trus masalahnya apa dong?" tanya Zyva sambil mengembalikan ponsel milik Dena.


"Menurut kamu aneh gak sih, Yuda pacaran sama Liza trus selama dua bulan ini Liza masih aja merahasiakan pacarnya?" tanya Dena serius.


"Gak aneh laah. Udah gak usah terlalu difikirin. Toh itu kan privasinya Lita." timpal Zyva.


Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Sean dan Sean yang sudah menunggu di depan rumahnya langsung masuk ke dalam mobil.


"Zyva." sapa Sean dengan mata berbinar. "Kamu makin cantik aja sih. Udah cerai belum sama Devan?" tanya Sean yang langsung dapat cubitan dari Dena.


"Nino, besok lagi gak usah ajakin orang kayak gini. Bikin panas." gerutu Dena kesal.


"Kamu nih kenapa sih, orang aku nanya Zyva kenapa malah kamu yang sewot." gerutu Sean.


"Jelas aja sewot, kamu terang-terangan banget berharap kakak ipar aku cerai." timpal Dena.


"Sean gurau aja kali. Udah lah gak usah dimasukin ke hati." ucap Zyva mengusap lengan Dena.


"Aku mending diem aja deh. Ngobrolnya nanti aja kalo udah gak ada Dena." ucap Sean.


Selama perjalanan, mereka sama sekali tidak mengobrol sedikit pun. Bahkan sampai di toko buku yang di tuju, tidak ada sepatah kata pun yang keluar.


Kali ini Dena terus saja berjalan di dekat Zyva dan mengikuti kemana pun Zyva pergi. Sedangkan Nino ia biarkan bersama Sean. Dena memang sangat protektif menjaga Zyva dari rayuan banyak lelaki yang mendekati Zyva selama ini.


Segala yang dilakukan oleh Dena tentunya adalah permintaan dari Devan yang tidak bisa menjaga Zyva dari jauh. Meski Zyva sama sekali tidak ingin mendengar kabar dari Devan, berbeda dengan Devan yang selalu mengecek kabar Zyva melewati Dena.

__ADS_1


"Nino, pacar kamu tuh posesif banget ama Zyva." gerutu Sean yang sangat ingin mengobrol degan Zyva.


"Dia emang selalu gituh kalo ada cowok yang mau deketin Zyva." jawab Nino yang sangat memahami kekasihnya.


"Devan selama ini gak pernah komunikasi langsung kan sama Zyva?" tanya Sean lagi.


Nino pun mengangguk, "Zyva sendiri yang gak mau dengar kabar tentang Devan. Mungkin dia takut tersiksa oleh rindu." balas Nino.


"Itu artinya Zyva udah gak care sama Devan. Suami macem apa yang ninggalin istri cantiknya gituh aja. Mending Zyva dicerai aja deh, aku juga sampe sekarang belum bisa move on dari Zyva." ucap Sean panjang lebar membuat Nino langsung menepuk punggungnya dengan kencang.


"Jangan ngaco, yang ada ntar digorok lagi ama Dena kalo dia denger kamu ngomong gituh lagi." ucap Nino mengingatkan Sean.


"Lagi pula kamu juga pasti udah pernah pacaran kan semenjak kuliah di Australia?" tanya Nino dan Sean hanya diam tidak menjawab. "Beda sama Devan yang bener-bener fokus tanpa lirik kanan kiri."


"Diiih, kita kan gak pernah tau yang sebenernya. Siapa tahu di sana juga Devan punya hubungan sama cewek lain. Jaman sekarang mah gak bisa dipercaya kalo ngomong doang." celetuk Sean.


"Kalo aku sih jujur aja memang punya pacar selama kuliah. Tapi gak pake celap celup ya." tambah Sean lagi.


"Eh iya, kalo kamu gimana? udah berhasil celup celup belum sama Dena?" Pertanyaan Sean kali ini langsung mendapat tatapan tajam dari Nino.


"Pertanyaannya gak disaring ih. Emangnya teh celup? Dia masih virgin bro. Dan aku juga masih perjaka. Biar malem pertamanya enak." ucap Nino.


Ia tidak sadar saat mengatakan barusan, Dena sudah berdiri tepat di belakangnya. "Apaan yang enak?" tanya Dena sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Eh Dena, Belanja nya udah kelar?" tanya Nino salah tingkah.


"Mulai berkilah ya? Di tanya apa jawabnya apa." balas Dena.


"Gak berkilah, tadi aku tanya sama dia. Udah pernah cobain teh celup sama Dena apa belum? eh Nino jawabnya belum pernah." ucap Sean.


"Haah? Belum? Kamu ini gimana sih? Bukannya setiap dateng ke rumah, aku selalu bikinin teh celup buat kamu." gerutu Dena membuat Nino kali ini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sedangkan Sean langsung menutup mulutnya terkejut dengan apa yang Dena katakan barusan. "Ternyata Dena lebih jujur ya dari pada kamu." ledek Sean sambil menepuk bahu Nino.


"Ke Food court yuk." ajak Sean yang sudah berjalan di depan. "Aku traktir semuanya."

__ADS_1


Dena, Zyva dan Nino pun akhirnya mengikuti langkah Sean yang hendak mentraktir mereka.


__ADS_2