
Tepat tengah malam, Devan kembali dari rumah sakit dan mendapati kamarnya kosong.
'Zyva kemana ya?' tanya Devan dalam hati. Tampak ponselnya masih tergeletak di atas nakas samping tempat tidur.
Devan pun mencari Zyva di toilet, ternyata kosong. Akhirnya ia pun menuju kamar Dena dan benar saja, tampak Zyva meringkuk di dalam selimut bersama dengan Dena.
Perlahan Devan membuka selimut yang menutupi tubuh Zyva dan mengangkat tubuhnya untuk dipindahkan menuju kamar Devan.
"Kamu benar-benar semakin cantik, Zyva. Bahkan tidurnya aja bikin makin jatuh cinta." gumam Devan.
Sesampainya di kamar, Devan langsung membaringkan tubuh Zyva ke atas tempat tidur dan kemudian menyelimuti tubuhnya. Sedangkan Devan pun langsung mengganti pakaiannya dan menyusul Zyva untuk tidur.
Grab! Tangan Zyva tergerak memeluk perut Devan dan seketika menghilangkan rasa kantuk Devan. Kini tangan Devan pun membalas pelukan Zyva dan melingkar ke punggung Zyva.
Devan pun mengusap punggung Zyva dan tangannya terhenti pada sesuatu yang membuatnya kemudian membuka pengaitnya dan terlepas.
"Maaf Zyva, aku benar-benar sudah sangat merindukannya." bisik Devan yang kemudian menyusupkan tangannya ke dalam kaos yang digunakan oleh Zyva.
Pertama Devan menyentuh benda ken yal milik Zyva dengan sangat lembut dan membuat Zyva sedikit mengeluarkan suara yang sangat indah di telinga Devan. Suara Zyva kali ini membuat Devan semakin mengeksplor tangannya ke ujung sen sitif kepemilikan Zyva.
"Ini membuat aku sangat addict terhadapmu sayang." bisik Devan.
Di alam bawah sadar Zyva, ia pun sangat me nik ma ti setiap sen tuhan Devan bahkan membuat ujung kepemilikannya pun berdiri tegak dan Devan pun semakin membara untuk melakukan hal yang lebih kepada istri kecilnya.
Perlahan Devan menyingkap kaos yang masih melekat di tubuh Zyva dan kini me nyen tuh sesuatu yang sangat indah milik Zyva dengan li dah nya. Bahasa tu buh Zyva kali ini menandakan bahwa Zyva sangat me nik ma ti setiap apa yang dilakukan oleh Devan pada setiap inchi tu buh nya.
Kali ini Devan pun semakin berani mengatupkan bi bir nya dan me masuk kan milik Zyva ke dalam mulutnya. Devan terus melakukannya sampai ia benar-benar sudah tidak kuat untuk menahan semburan lava dalam dirinya hingga Devan pun harus menyelesaikan permainannya sendi di dalam kamar mandi.
Sedangkan Zyva kini membuka matanya di tengah nafasnya yang mulai ter engah-engah karena permainan Devan tadi. "Huuuh, ternyata aku hanya sedang bermimpi." gumam Zyva sambil mengusap keringat yang menetes dari dahinya.
Terdengar suara gemericik air di kamar mandi membuat Zyva mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. "Ini bukan kamar Dena. Sejak kapan aku pindah?" tanya Zyva pada dirinya sendiri.
Zyva makin terkejut saat pakaiannya sudah berantakan dan cepat-cepat ia kembalikan seperti semula. Tak lama kemudian, tampak Devan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak sangat segar.
"Hai, sayang. Apa aku mengganggu tidurmu?" tangga Devan yang hanya melingkar kan handuk di pinggangnya. Tetesan air mandi Devan membuat Zyva menelan lu dahnya pelan.
__ADS_1
"Tidak!" jawab Zyva yang kemudian menyembunyikan dirinya ke dalam selimut.
Devan semakin gemas melihat istrinya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana Zyva menyembunyikan dirinya.
"Ada apa denganmu, sayang?" tanya Devan mengusap kepala Zyva.
"Apa kau bermimpi buruk?"
"Tidak, Dev. Cepatlah pakai bajumu. Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu." ucap Zyva yang masih ada di dalam selimut.
"Emm, oke. Kebetulan aku juga sangat lapar meskipun tadi sudah sempat me nik ma ti su su." ucap Devan.
Zyva langsung menyibakkan selimutnya dan duduk menatap Devan tajam. "Maksudnya apa?!" tanya Zyva membuat Devan terkekeh pelan.
"Tidak ada apa-apa sayang." jawab Devan sambil membuka lemari pakaiannya.
"Baiklah, aku turun dulu. Mau mie instan tidak?" tawar Zyva.
"Boleeh saja jika kau tidak repot untuk membuatnya, sayang." jawab Devan.
Karena penasaran, Zyva pun mengecek siapa yang datang di tengah malam begini.
"Liza." panggil Zyva saat mengetahui iza lah yang baru saja pulang. "Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang?" tanya Zyva.
"Dari kost Zy. Gak tau kenapa malam ini aku susah banget tidur. Makanya aku pulang kesini." jawab Liza sambil menguap.
"Aku ke kamar dulu ya." ucap Liza sambil melambaikan tangannya ke arah Zyva.
Zyva pun kembali ke pantry dan membawa makanan untuk Emir. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar Liza menelfon seseorang. Zyva pun mendekatkan telinganya ke pintu kamar Liza, karena kebetulan tipe kamar yang ditempati Liza bukanlah kamar kedap suara.
"Aku sudah sampai di Mansion, sayang."
"..."
"Baiklah, aku akan mengajak Zyva besok untuk menemani aku."
__ADS_1
"..."
"Tenang saja, aku tidak akan membuat Zyva curiga dan keinginanmu untuk menghancurkan Zyva pasti akan berhasil."
"..."
"Tapi ingat, jangan sampai kau terlena dengan kecantikan Zyva saat kau menidurinya!" ucap Liza yang terdengar semakin jelas di telinga Zyva.
Zyva langsung tersentak kaget saat mendengar percakapan Liza yang terakhir. Kali ini ini membenarkan ucapan Zyva dimana Yuda sedang membuat rencana jahat untuk membalaskan dendamnya.
Kini Zyva pun cepat-cepat menuju ke kamarnya dan memberikan makanan yang baru ia buat kepada Devan.
"Sayang," panggil Devan.
"Kenapa mukanya kayak orang ketakutan gituh?" tanya Devan sambil mulai menyendokkan mie ke dalam mulutnya.
Zyva tidak langsung menjawab pertanyaan Devan karena ia kini sedang mencoba mengatur nafasnya.
"Kamu gak habis liat setan kan?" tanya Devan lagi dan Zyva langsung menggelengkan kepalanya.
Akhirnya Zyva pun menceritakan tentang apa yang barusan ia dengar dan juga kecurigaan Dena akan hubungan Liza dan Devan selama ini.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" ucap Devan yang mulai tersulut amarah dari cerita yang ia dengar dari Zyva.
"Kita harus menyusun strategi, Devan." timpal Zyva yang sedari tadi memikirkan cara untuk menggagalkan rencana Yuda dan juga Liza.
"Tapi jangan sampai kita terjebak dengan strategi yang sudah kita buat." ucap Devan yang sudah menghabiskan mie instan dan juga coklat hangat yang dibuatkan oleh Zyva.
"Kita harus libatkan Dena, Nino, Angga dan juga Adel untuk menyusun strategi ini besok." ucap Zyva dan Devan pun langsung setuju.
"Sekarang lebih baik kita istirahat sayang." ajak Devan yang langsung menarik Zyva untuk masuk ke dalam selimut bersamanya.
"Tapi aku sangat tidak tenang, Dev." ucap Zyva.
"Jangan khawatir, aku akan terus ada disampingku dan tidak akan aku biarkan orang lin menyentuh sedikit pun sayang." ucap Devan membawa Zyva dalam depannya.
__ADS_1
Akhirnya Zyva dan Devan pun sama-sama memejamkan matanya dengan saling berpelukan.