
Setelah break dan melihat tiga pertandingan basket dari SMA lain. Kini team Devan dan Sean kembali bertanding untuk menentukan siapa yang masuk final dan menang.
Devan dan Sean kini sudah berdiri dan saling berhadapan di tengah lapangan basket. Kali ini mereka bukan hanya bertanding untuk membawa nama sekolah, tetapi juga untuk memperlihatkan pada Zyva siapa diantara keduanya yang akan menang.
"Lihat aja Devan, aku akan mengalahkanmu karena ZyRa akan menyemangatiku kali ini." ucap Sean penuh percaya diri.
Devan hanya terkekeh mendengar kata-kata Sean. "Menyemangatimu seperti memanggil burung merpati?" ledek Devan setelah diberi tahu Zyva jika Sean sangat suka jika Zyva bersiul untuknya.
Priiiiit!
Peluit terdengar melengking bermakna pertandingan sudah dimulai. Kali ini Sean memimpin dengan mendrible bola basket terlebih dahulu. Beberapa kali di hadang oleh team Devan, dengan sangat gesit Sean menghindar dan mengoperkan ke teamnya.
Melihat Sean memimpin pertandingan membuat Zyva berdecak kagum dan langsung memasukkan dua jari telunjuknya dan bersiul menyemangati Sean. Mendengar siulan Zyva membuat Sean makin bersemangat hingga ia berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
Keberhasilan Sean kali ini membuat Devan kesal karena ternyata cara Zyva menyemangati Sean terdengar sangat romantis meskipun sedikit aneh dan lucu. Kali ini Devan berhasil merebut bola dari tangan salah satu team Sean. Tapi saat Devan hendak mengoper ke Angga, ternyata Sean sudah lebih dulu menghadangnya dan mendrible bola ke ring lawan.
Melihat kepiawaian Sean membuat Zyva kembali bersiul menyemangati Sean. Senyum Sean mengembang dan ia kembali memasukkan bola ke dalam ring lawan.
Gemuruh tepuk tangan dari suporter sekolah Sean terdengar tangan membahana memenuhi Gedung Olahraga. Kali ini break sejenak untuk quarter selanjutnya.
Devan langsung berlari ke arah Zyva dan dengan cepat Zyva memberikan minuman untuk Devan. "Zyva, kalo kamu terus semangatin Sean gimana aku bisa menang?" keluh Devan kesal.
Lelah, amarah, dan cemburu bercampur jadi satu hanya karena Zyva ternyata benar-benar membangkitkan semangat Sean.
"Kan aku juga semangatin kamu tadi." ucap Zyva sambil mengelap peluh Devan.
"Tapi tetep aja, kamu lebih banyak kasih semangat ke Sean dari pada aku." gerutu Devan yang masih terbawa kesal.
Akhirnya Zyva mendekatkan mulutnya ke telinga Devan dan membisikkan sesuatu. "Kalau kamu menang kalahin teamnya Sean, aku akan kasih kamu ciuman panasku nanti di rumah."
__ADS_1
Bisikan Zyva kali ini benar-benar sangat ampuh untuk menyemangati Devan. Rasa lelah, kesal, dan amarah Devan langsung hilang seketika dan berganti menjadi semangat yang membara luar biasa.
"I do love you Zyva. Aku akan membuktikan padamu kali ini aku akan menang." ucap Devan sambil kembali ke lapangan.
Zyva menelan ludahnya kasar mengingat apa yang ia janjikan tadi pada Devan. Sebenarnya Zyva tidak sungguh-sungguh menjanjikan itu. "Oh My God, sepertinya aku sedang menggali kuburku sendiri." rutuk Zyva dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.
Kali ini Zyva tidak fokus ke pertandingan basket, melainkan sibuk memikirkan tentang apa yang sudah ia janjikan kepada Devan.
Hingga peluit akhir pertandingan berbunyi, Zyva masih sibuk memikirkan bagaimana cara ia mengelak dari hal yang sudah ia janjikan ke Devan. Sampai Miss Auryn yang duduk di sampingnya juga Zyva masih diam terpaku.
"Zyva kok melamun." Miss Auryn menepuk bahu Zyva. "Nanti kami kesambet hantu GOR loh." ucap Miss Auryn dan Zyva hanya nyengir kuda.
"He he he he. Iya Miss." jawab Zyva.
"Ikut ke kantor yuk. Ada yang perlu kamu ketahui tentang sekolah ini." ajak Miss Auryn dan Zyva mengikuti langkah ibu sekaligus kepala sekolahnya itu.
Selama Zyva diajak Miss Auryn ke kantor dan diberi tahu tentang hal yang berkaitan dengan Sekolah yang sekarang milik Zyva, ia sama sekali tidak mengetahui apakah Devan memenangkan pertandingan atau bahkan kalah.
Tetapi Sean justru bingung dan kali ini ia mengakui kehebatan Devan. Meski Zyva sudah tidak lagi di Lapangan, ternyata Devan mampu memnjadi pemenang.
Sean pun mendekat ke arah Devan dan teamnya untuk memberikan selamat. "Congrats ya bro. Ternyata meski tidak di semangati ZyRa, kamu tetap bisa jadi pemenang." usap Sean menyalami Devan.
"Aku justru bersemangat karena Zyva menjanjikan sesuatu padaku jika aku menang." pamer Devan dan tentu saja membuat Sean penasaran.
"Aku penasaran apa yang ZyRa janjikan padamu." ucap Sean dan Devan langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Sean.
"Ciuman panas Zyva." bisik Devan dan kali ini membuat mata Sean membulat sempurna. Ia tidak menyangka jika hubungan Zyva dan Devan sudah sejauh ini.
Sean hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan Devan. Kalo memang benar, kali ini berarti ia harus mundur untuk mendapatkan cinta pertamanya.
__ADS_1
Setelah menerima trophy kemenangan dan berfoto, Devan langsung menuju ruang kerja mamanya karena ia sangat yakin Zyva ada di sana. Sesampainya disana, terlihat Zyva sedang memejamkan matanya dan duduk bersandar di sofa ruang kepala sekolah.
Miss Auryn pun memberi selamat atas kemenangan Devan, begitu juga Papa Zen. Kemudian keduanya kembali sibuk menyusun beberapa administrasi sekolah.
"Zyva kayaknya kecapekan banget pah. Habis ngapain emangnya?" tanya Devan.
"Baru belajar sama Mama buat bekal Zyva nanti memimpin sekolah ini. Untung Zyva anak yang cerdas, jadi tidak perlu waktu lama untuk mengajarinya." jawab Miss Auryn.
Devan langsung meletakkan trophynya di meja dan duduk di dekat Zyva. Merasa ada pergerakan di sampingnya, Zyva pun membuka matanya.
"See Zyva, aku mengalahkan Sean dan memenangkan pertandingan ini." ucap Devan bangga membuat Zyva mencoba untuk santai menanggapi ucapan Devan.
"Oh, selamat ya Dev. Akhirnya kamu berhasil membawa nama baik sekolah." Zyva mengulurkan tangannya memberi selamat.
"Thanks Zyva, kamu tidak lupa kan hadiahnya?" tanya Devan sambil menaik turunkan alisnya.
Mendengar Devan membicarakan hadiah yang dijanjikan Zyva, Moss Auryn dan Papa Zen pun penasaran apa yang sudah Zyva janjikan. Tapi dengan mudahnya Zyva menjawab pertanyaan Devan.
"Tentu saja tidak, aku akan membawamu makan malam di suatu tempat yang spesial untuk merayakan kemenangan ini." ucap Zyva membuat Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Waaah, papa rasa kalian sekarang makin dekat yaaa." tukas papa Zen yang sangat senang melihat kedekatan hubungan Devan dan Zyva.
"Oh iya pa ma. Ada yang ingin Devan sampaikan sama kalian."
Mama Auryn, Papa Zen, dan Zyva oun kini menunggu hal apa yang akan disampaikan oleh Devan.
"Emmmm, aku sama Zyva sekarang udah pacaran. Jadi aku harap papa dan mama izinin aku dinner di luar sama Zyva malam ini, Okeeey." ucap Devan membuat mama dan papanya terkejut secara bersamaan.
"Whatttt??!!! Pacaran??!!!" pekik Miss Auryn dan papa Zen bersamaan. Kini orang tua Devan saling melempar pandang.
__ADS_1
"Mama, sepertinya kita harus segera pulang ke rumah." ucap Papa Zen. "Ayo anak-anak kita pulang." ajak Papa Zen sambil menenteng kunci mobilnya.