
Kemenangan Zyva kemarin, dibuatkan syukuran kecil kecilan oleh Mama Auryn. Sejak pagi Zyva sudah ada di rumah Devan. Acara kali ini Zyva dan Devan hanya mengundang teman dekat mereka saja. Siapa lagi kalau bukan Yuda, Angga, Nino, Neffy, dan juga Adel.
"Aku mau panggil Sean juga deh biar dia dateng kesini." ucap Zyva mengetik nomor ponsel Sean dan langsung memintanya untuk datang ke rumah Devan.
Tepat di waktu yang ditentukan, teman yang diundang pun datang. Mereka saling memberikan selamat untuk Zyva. Sean datang paling akhir dan Zyva langsung mengenalkan Sean pada teman-temannya.
"Guys, kenalin ini sahabat aku sejak SMP. Namanya Sean. Masih jomblo looh." ucap Zyva sambil melirik ke arah Dena, Adel, dan juga Liza bergantian.
"Nah, Sean. Itu yang paling ujung pake bandana namanya Dena. Saudara kembar Devan." Dena melambaikan tangannya menyapa Sean begitu pun sebaliknya.
"Di samping Dena itu saudara sepupunya Dena sama Devan, namanya Liza."
"Disampingnya lagi ada Adel. Nah ketiga cewek cantik ini masih jomblo looh. Kalo yang sampingnya lagi namanya Neffy. Kalo yang ini udah ada yang punya."
"Kalo yang cowok itu, ada Angga, Nino, dan Yuda." ucap Zyva memperkenalkan satu per satu temannya. "Yuda ini pacarnya Neffy."
"Hai Guys, senang berkenalan dengan kalian. Hanya saja kali ini aku masih akan menunggu jandanya Zyva aja." ucap Sean membuat semua yang ada di taman tercengang mendengar ucapan Sean.
"Janda? Zyva sama Devan kan masih pacaran." celetuk Yuda.
"Oh iya. Aku kali ini akan menjelaskan sama kalian semua. Selama ini aku dan Zyva memang sudah menikah karena beberapa hal." jelas Devan yang kini harus membuka statusnya dengan Zyva di depan sahabatnya.
Devan menjelaskan alasan pernikahannya tanpa menyebutkan bahwa Zyva kini pemilik Gelora Internasional karena Zyva memang masih sangat ingin merahasiakannya, dan kini teman-teman Zyva makin tercengang.
"Berarti Zyva udah di unboxing dong sama Devan?" tanya Nino membuat Nino langsung kena tatapan protes dari teman-temannya.
"Kalo itu, biar jadi rahasia kita berdua aja ya." ucap Devan. "Yaudah guys, yuk kita nikmati hidangan pembukanya bareng bareng. Setelah itu kita mulai bakar bakaran." ucap Devan.
Teman-teman Zyva langsung menikmati hidangan pembuka. Kali ini Sean terlihat sangat dekat dengan Devan dan Yuda. Sedangkan Angga dan Nino bergabung dengan para girls.
"Nino, kamu gabung sama yang boys dong. Masa iya harus disini." protes Dena yang sedari tadi Nino terus saja mendekati Dena.
__ADS_1
"Iya nih, Angga juga. Ganggu aja tau gak?" protes Adel.
"Biasanya makanan di meja cewek itu banyak sisanya. Jadi lumayan dong buat kita, daripada mubazir." ucap Nino.
"Bener banget tuh. Jangan pelit pelit napa sama cowok ganteng kayak kita." timpal Angga.
"Mau ngabisin makanan, apa pe-de-ka-te nih kalian?" sindir Zyva membuat Nino dan Angga sama-sama nyengir kuda.
"Pinteran banget Zyva nih. Abis di kode dari jaman MOS gak peka peka sih Dena." ucap Nino to the point membuat Dena terhenyak.
"Emang iya?" tanya Dena balik. "Jujur banget sih ngomongnya." timpal Dena sambil memukul lengan Nino.
"Nah gini nih Dena. Kalo ketemu sama aku suka banget mukul-mukul. Sekali kali meluk napa Den." ucap Nino membuat Dena langsung mengepalkan tangannya.
"Mau kena bogem mentah aku?" tawar Dena dan Nino langsung menggelengkan kepalanya.
"Yuk cabut, Ngga. Cewek disini serem serem." ucap Nino menarik Angga. Angga ikut saja dengan Nino meskipun sebenarnya Angga juga lagi pingin deket sama Adel.
Setelah menghabiskan hidangan terbuka, kini mereka siap untuk bakar bakaran. Dena langsung membagi pasangan untuk bakar bakaran yang kemudian menuai protes dari Angga dan Nino.
" Yaudah gini deh, untuk kebersamaan. Kita acak aja pakai lintingan nomor. Gimana?" tanya Zyva yang kemudian menuliskan nomor satu sampai empat di atas kertas kemudian setiap orang mengambil kertas satu per satu.
Benar saja kini terbagi dengan adil.
Bakaran 1 : Adel, Angga, dan Liza.
Bakaran 2 : Devan dan Sean.
Bakaran 3 : Zyva dan Neffy.
Bakaran 4 : Nino, Dena, dan Yuda.
__ADS_1
Dena yang mendapati dirinya satu kelompok dengan Nino langsung memutar bola matanya malas. Berbanding terbalik dengan Nino yang langsung menyunggingkan senyumnya lebar.
"Kita emang ditakdirkan untuk berjodoh Dena." ucap Nino.
"Enak aja, jangan ngaco deh." ucap Dena membuat Nino makin gencar menggoda Dena.
"Kamu marah aja cantik banget loh Den. Apalagi senyum coba." goda Nino.
Dena sebenarnya kali ini kikuk saat Nino terus menggodanya di depan Yuda.
"Nino, berisik banget sih. Fokus dong. Aku gak mau ya jadi obat nyamuk kalian berdua." ucap Yuda.
"Tuh dengerin." Dena langsung menyikut pinggang Nino yang sedari tadi terus menggoda Dena.
"Iya deh iya." ucap Nino akhirnya mengalah. Setidaknya kali ini dia masih bisa dekat dengan Dena meskipun Dena masih saja yidak memperlihatkan signal untuk membalas perasaannya.
Di kelompok bakaran Adel, Angga yang notabenenya juga suka dengan Adel tidak begitu resek seperti Nino yang terus-menerus menggoda Dena. Cara Angga menarik perhatian Adel adalah memberi perhatian lebih.
"Adel. Capek ya?" tanya Angga. "Kalo capek biar aku gantiin sini." tawar Angga dan Adel langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku gak capek kok, aku seneng malah bakar bakaran gini." timpal Adel.
"Angga, yang capek itu aku. Kamu gantiin punya aku aja. Aku mau duduk bentar." keluh Liza.
Dengan semangat Angga menggantikan bakaran milik Liza. Setidaknya kalau Liza istirahat, kini Angga bisa berduaan dengan Adel tanpa ada yang mengganggu.
Benar saja, Angga dan Adel tampak sangat serasi dan bekerja sama dengan baik. Adel pun merasa cocok satu team dengan Angga karena Angga sangat sesuai dengan keinginannya.
Sedangkan Sean dan Devan kini terlihat sama-sama terdiam dan fokus bakar bakaran. Padahal sebenarnya mereka berdua saling mengobrol dengan nada yang pelan.
"Aku akan rebut Zyva ketika nantinya aku tahu kamu mengkhianati Zyva." ancam Sean membuat Devan berdecih pelan.
__ADS_1
"Itu gak akan mungkin. Karena aku akan tetap mempertahankan Zyva bagaimanapun juga." jawab Devan.
"Kita tidak tahu bukan bagaimana nanti ke depannya. Belum tentu juga kalau Zyva akan berjodoh denganmu karena kalian masih sangat muda." jelas Sean yang tidak begitu dihiraukan oleh Devan.