Cewek Bertalenta

Cewek Bertalenta
Interogasi


__ADS_3

Devan tersenyum geli melihat pias wajah Zyva. Ia pun memegang tangan Zyva dan menenangkannya.


"Udah jangan takut, papa gak serem kok." bisik Devan.


"Kamu sih." gerutu Zyva yang benar-benar kalut dan malu.


Kini keduanya sudah masuk ke dalam ruangan Zen Ivander dan berdiri di hadapannya. Zyva masih saja menundukkan kepalanya malu.


"Katakan pada papa, apa yang kamu lakukan dengan Zyva?" tanya Zen Ivander pada putranya.


"Papa pernah muda bukan?" Devan balik bertanya. "Aku dan Zyva hanya menikmati masa muda kami." jawab Devan membuat Zyva membelalakkan matanya.


"Apa-apaan sih Devan," dengan spontan Zyva menyanggahnya. "Kami hanya sedang mengikuti teman kami, Om."


Zen kini mengalihkan pandangannya ke Zyva dan Devan bergantian. "Kalian duduklah dan siapa yang akan menceritakan semuanya pada papa?" tanya Zen Ivander kemudian.


Devan dan Zyva pun duduk berdampingan, kini Zyva yang menceritakan detail kejadian dari awal. Dari mulai ia melihat Neffy dan mengikuti Neffy sampai di ruang rahasia.


"Apa kau mengenal laki laki yaang bersama temanmu?" tanya Zen dan Zyva menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak mengenalnya, Om. Tapi saya mendengar Neffy memanggilnya Om Clovis." jawab Zyva membuat mata Zen berbinar.


"Hemm, ternyata suami Tina sedang bermain-main dengan gadis belia." batin Zen Ivander. "Ini akan memudahkanku untuk menghancurkan kelurga mantan istri Ray Pratama." batinnya kemudian.


Zen Ivander lalu memerintahkan anak buahnya untuk memberikan pelayanan terbaik atas nama Clovis sebagai tamu beruntung malam ini.


"Zyva, kembalilah bekerja." perintah Zen Ivander dan Zyva segera undur diri.


Sedangkan Devan masih berada di ruangan papanya.


"Kenapa papa justru memberikan pelayanan terbaik untuk Neffy? Bukan malah melindungi gadis belia itu." protes Devan. "Apa karena Neffy murid di Gelora Internasional?"


"Bukan Neffy, melainkan Clovis. Sebenarnya papa kasihan dengan gadis yang dibawa Clovis," jawab papa Zen.

__ADS_1


Devan mengerutkan keningnya tidak paham. "Aku benar-benar tidak mengerti urusan orang tua. Apa papa punya masalah dengan dia?" tanya Devan.


"Tentu saja. Clovis adalah suami kedua pemilik Gelora Internasional. Ayah dari Mr Adrian." jelas papa Zen.


"Dasar Gila! Kenapa dia justru yang merusak murid yang bersekolah disana?" gerutu Devan sambil mengepalkan tangannya.


Zen kemudian menceritakan pada putranya tentang permasalahan sahabatnya, Ray Pratama dan putri kandung Ray secara detail. Devan sangat terkejut, terlebih setelah mengetahui bahwa Zyva lah yang sebenarnya memiliki sekolah Gelora Internasional.


"Kau bukan anak kecil lagi, Devan. Papa harap kau dapat membantu permasalahan ini dengan menjaga Zyva." ucap Papa Zen.


"Aku benar-benar tidak menyangka, begitu berat masalah yang sedang dipikul oleh Zyva." gumam Devan prihatin.


"Aku akan menjaganya, Pah." ucap Devan mantap.


"Jangan rusak gadis itu, jika kau memang mencintainya, berjuanglah dengan baik dan dalam batas kewajaran." pesan Papa Zen membuat Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hemm, baiklah paaah. Aku tidak pernah ingin merusak Zyva. Hanya saja dia selalu menolak pesonaku." gerutu Devan.


"Kembalilah bekerja, Devan. Papa dengar berkali-kali namamu dipanggil. Tengah malam begini mereka pasti ingin menikmati permainan musik DJmu." ucap Zen menepuk bahu putranya.


Sambil memainkan musik, Devan terus mengamati Zyva dari kejauhan. Jauh di lubuk hatinya makin mengagumi pribadi gadis belia itu yang usianya masih terpaut satu tahun lebih muda dengannya.


Dari jauh terlihat juga Adrian yang baru masuk, datang seorang diri dan langsung mendekati ke bar. Devan tersenyum simpul mengingat Adrian tidak akan memiliki Zyva karena keduanya adalah saudara tiri.


Tapi lama kelamaan Devan mulai terbakar api cemburu melihat tatapan Adrian ke Zyva bukanlah tatapan kakak ke adiknya, melainkan tatapan cinta dan pengharapan yang penuh. Tidak hanya itu, Zyva lebih terlihat terbuka dan dekat dengan Adrian dibandung dengan dirinya sendiri.


Adrian tidak begitu menikmati malam di Cafe, karena ia datang hanya untuk memastikan Zyva baik-baik saja. Tapi perhatiannya ke Zyva teralihkan ketika melihat sosok papanya melintas di depannya.


"Papa," panggil Adrian terkejut menemukan papanya berada di Cafe. "Bukannya papa lembur?" tanya Adrian melihat jam di tangannya menunjukkan setengah dua dini hari.


"Hei Adrian, apa yang kau lakukan disini?" bukan menjawab pertanyaan putranya, Clovis justru balik bertanya.


"Jawab saja pertanyaanku, pah." ucap Adrian membuat Clovis melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Sudahlah, mungkin kebiasaan buruk papa menurun padamu, Adrian. Lakukan saja sesukamu, papa tidak akan melarang. Papa pulang dulu ya." jawab Clovis meninggalkan Adrian.


Adrian mengepalkan tangannya, ia merasa sangat diremehkan oleh papanya. Dari dulu sebenarnya antara Clovis, Tina, dan Adrian tidak pernah akur. Hanya sesekali saja mereka bersama. Adrian bukanlah anak kandung Clovis, melainkan anak adopsi dari sebuah panti asuhan. Jadi mau tidak mau, Adrian terus saja dijadikan boneka oleh kedua orang tuanya.


...***...


Sedangkan Neffy merasakan tubuhnya remuk redam setelah melayani nafsu gila Clovis. Ia membuka matanya perlahan dan menepuk tempat tidur di sampingnya.


Kosong.


Seperti biasanya, Clovis selalu meninggalkan Neffy begitu saja setelah menyelesaikan pertempuran panas mereka. Ia kemudian melirik ke sampingnya dan kemudian bibirnya merekah tersenyum lebar melihat setumpuk uang dan note kecil dari Clovis.


Aku harus segera pulang, jalangku sayang. Ingat! Besok malam dan lusa aku akan kembali menggempurmu. Kita bertemu lagi di Cafe ini karena kita mendapatkan free card untuk besok malam. - Cloffy (Clovis dan Neffy) -


Neffy langsung meremas note kecil dari Clovis dan mengenakan kembali pakaiannya. Awal bertemu Clovis, Neffy sangat takut untuk memulai pekerjaan terlaknatnya. Tapi demi uang dan kemewahan, Neffy menjalaninya dengan senang hati.


Semenjak papanya mendekam di penjara karena kasus korupsi, sudah enam bulan ini Neffy menjadi gadis simpanan Clovis. Mama Neffy tidak mengetahui jika putrinya bekerja sebagai simpanan orang karena ia sendiri sibuk mencari uang dari usaha cateringnya yang pasang surut.


Neffy memakai jaketnya dan keluar dari Cafe. Zyva juga tidak mengetahui kapan Neffy keluar dari Cafe saat Zyva mulai membereskan kamar yang baru saja dipesan oleh Neffy dan Clovis.


Saat musik cafe sudah mulai berhenti, Devan segera menemui Adrian dan menyapanya.


"Hai, Mr Adrian." sapa Devan.


"Hai Devan. Aku sedang menunggu Zyva." ucap Adrian memberi tahu.


"Oh yaaa. Sebenarnya aku bisa mengantarkannya pulang, Mr. Jadi kau tidak perlu repot-repot menjemputnya." jawab Devan berharap Adrian tidak kembali menjemput Zyva.


"Aku sangat tidak repot, Devan. Aku justru senang dapat menjaga Zyva." tukas Adrian.


"Sepertinya Mr Adrian punya perasaan khusus ya buat Zyva." tanya Devan.


"Sepertinya kau sangat mengerti perasaan seseorang ya." jawab Adrian.

__ADS_1


"Hemmm, baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu ya." Devan melangkahkan kakinya ke pintu Cafe.


Sepeninggalan Devan, Adrian kembali mengamati Zyva yang sedang mengelap meja cafe. Tidak lama kemudian, Zyva sudah memakai tasnya dan bersiap untuk pulang.


__ADS_2