
Zyva kini menemani Liza menonton televisi. Keduanya mengobrol dan terlihat cepat akrab. Zyva dan Liza sama sama anak yang sangat mudah bergaul dan beradaptasi dengan orang baru.
"Kamu sekamar sama Devan?" tanya Liza di tengah obrolan mereka. "Emang gak takut hamil?"
Zyva sedikit terkejut arah pertanyaan Liza yang terdengar blak blakan. Tapi ia dengan santai menanggapi pertanyaan Liza.
"Iya, sekamar. Tapi nanti aku mau bilang sama ibu untuk balik ke kamar lama aku." jawab Zyva santai.
"Aku sejak ketemu Devan udah jatuh cinta, meski waktu itu usiaku masih tiga belas tahun." tukas Liza sambil menatap ke arah Zyva dan membuat Zyva bingung.
"Kamu kan sepupunya Devan, kok bisa jatuh cinta?" tanya Zyva penasaran.
"Aku kan sepupu ketemu gede, Zyva. Bapak ibu aku meninggal di tabrak tante Muna, jadi aku sekarang dirawat di keluarga Oma sama Opa." jawab Liza ceplas ceplos. "Jadi wajar dong kalo punya perasaan cinta sama Devan."
"Oooooh gituuuh." timpal Zyva sambil membuka kaleng biskuit di depannya.
"Kamu kan udah nikah sama Devan, kamu udah jatuh cinta belum sama Devan?"
Deg. Pertanyaan Liza kali ini membuat Zyva bungkam seribu bahasa. Untungnya Mama Auryn datang dan langsung mengajak mereka makan malam. Dena dan Devan juga sudah turun dan siap untuk makan malam.
Seperti biasanya, Zyva mengambilkan makanan untuk Devan dan kali ini Liza langsung nyeletuk hingga membuat semua yang ada di meja makan memandang ke arahnya.
"Tante Auryn, Zyva tadi bilang sama aku kalo dia mau pindah ke kamar yang lama dan gak mau tidur bareng Devan lagi. Nanti kalo Devan kesepian, Liza boleh kan temenin Devan tidur?"
Papa Zen langsung menjawab pertanyaan Liza. "Gak baik dong Liza. Devan kan udah punya istri. Memangnya kamu mau dibilang jadi pelakor? Hayoooo."
"Bukan pelakor dong Om, sekarang antara aku sama Zyva kan yang duluan jatuh cinta sama Devan itu aku. Udah gitu pernikahan mereka juga tidak didasari dengan rasa cinta. Jadi hambar dong." tukas Liza membuat semua yang ada di meja makan terdiam.
Selama ini Papa Zen, Mama Auryn, dan juga Dena hanya tahu Devan lah yang mencintai Zyva. Mereka belum tahu Zyva mencintai Devan atau tidak. Kata kata Liza kali ini makin memojokkan Zyva. Zyva paham betul kali ini dia lah yang jadi sorotan utama.
"Kamu ini ngasal aja kalo bicara. Tahu dari mana emang kalo pernikahan mereka tidak didasari dengan cinta?" tanya Mama Auryn.
__ADS_1
"Tahu dong tante, tadi aja aku tanya sama Zyva udah jatuh cinta sama Devan atau belum aja dia gak bisa jawab." timpal Liza dengan penuh kemenangan.
Kini semua mata tertuju pada Zyva. "Bukan gak bisa jawab Liza, aku belum sempet jawab kan tadi waktu ibu nyuruh kita makan." ucap Zyva santai.
"Mana mungkin aku gak cinta sama Devan. Kamu tahu sendiri kan, Devan itu tampan, cool, udah gitu macho lagi. Cewek mana yang gak jatuh cinta sama dia." tukas Zyva. "Iya kan sayang?" tanya Zyva sambil mencolek dagu Devan.
Bluusshh, kata kata Zyva kali ini membuat Devan benar-benar tersipu malu. Terlebih saat Zyva memanggilnya sayang. Kali ini Devan hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman karena lidahnya kelu untuk menjawab kata kata Zyva.
"Udah udah, ayo sekarang kita makan dulu keburu dingin." ucap Mama Auryn melerai ucapan anak-anaknya.
Kini semuanya menikmati makan malam bersama. Dentingan sendok, garpu, dan piring menjadi saksi bagaimana perasaan berkecamuk antara Devan, Zyva dan juga Liza.
Zyva sendiri tidak menyangka dirinya dapat mengatakan hal yang nantinya akan memalukan dirinya sendiri. Apa lagi saat ia memberanikan dirinya memanggil Devan -sayang- dan mencolek dagu Devan.
"Huuuuuh, aku sudah mempermalukan diriku sendiri di depan semuanya." gerutu Zyva dalam hati.
Setelah semuanya selesai makan malam, kali ini mama Auryn meminta Zyva untuk memberi privat pada Liza.
"Nanti Liza punya kamar sendiri di samping kamar Dena. Jadi Liza bisa fokus belajar. Gimana?" tanya Mama Auryn dan Liza hanya mengangguk pasrah.
"Tunggu, tunggu. Apa yang dimaksud ibu itu kamar lamaku menjadi kamarnya Liza?" tanya Zyva dalam hati. "Oh My God, berarti aku udah gak bisa pindah kamar lagi dong."
Zyva menutup matanya kesal, Devan yang melihat Zyva kini tersenyum penuh kemenangan. "Ayo ke kamar." ajak Devan menarik tangan Zyva.
"Kami duluan ya semua." ucap Zyva dengan senyum yang dibuat-buat dan ia pun mengikuti langkah kaki Devan.
Liza pun buru buru meninggalkan meja makan dengan alasan ingin menata pakaian dan barang barangnya di lemari.
"Maaah, aku jadi kepo deh sama Zyva. Dia pinteran banget bikin Devan blushing gitu. Mama lihat gak muka Devan tadi?" tanya Dena membuat papa dan mamanya tertawa.
"Udah, jangan diledekin. Kasihan Devan ntar malu. Kadang mama berfikir mereka masih sangat muda untuk menjalani pernikahan. Makanya mama gak mau terlalu memaksakan keduanya harus gimana." Ucap Mama Auryn.
__ADS_1
Sedangkan Zyva sampai di kamar Devan langsung mengunci pintunya rapat rapat.
"Dev, kata kata aku yang tadi jangan di anggap serius ya." ucap Zyva sambil menatap Devan.
Devan langsung mengusap wajahnya kasar. Baru saja dia merasa tersanjung tinggi, kini ia harus terjatuh ke lembah yang paling dalam.
"Maksud kamu apa Zy ngomong begitu? Apa bener kata Liza, kamu gak cinta sama aku?" tanya Devan dengan nada kesal.
"Aku hanya gak tau dengan perasaan aku, Devan. Kamu ngertiin aku dong. Aku cuma gak mau terlihat mempermainkan pernikahan kita ini di depan Liza." jelas Zyva yang kini memang tidak paham dengan dirinya sendiri.
Selama ini dia belum pernah mengenal apa itu jatuh cinta, terlebih di usianya yang masih lima belas tahun. Meskipun anak diusianya sedang menjalani masa puber, tapi Zyva sendiri masih menginginkan kasih sayang seorang ibu yang ia dapatkan dari Auryn.
"Kamu pikir tadi kamu gak sedang mempermainkan pernikahan kita? Kamu itu egois Zyva." Devan langsung beranjak hendak meninggalkan Zyva. Tapi Zyva langsung menahan lengan Devan dan memintanya untuk tetap tinggal.
"Jangan keluar dulu Devan." cegah Zyva. "Kita bicarakan dulu masalah kita sampai tuntas. Katakan padaku dimana sisi egois aku!" desak Zyva.
Devan kini terdiam memandangi Zyva. Dari awal memang ia yang menginginkan Zyva menjadi istrinya. Dia juga yang menawarkan kasih sayang seorang ayah dan ibu untuk Zyva agar Zyva memilih dirinya untuk menjadi suaminya.
Devan menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Devan, katakan padaku dimana sisi egois aku. Katakan juga dimana sisi aku mempermainkan pernikahan kita!" ucap Zyva terus mendesak Devan.
Baru hendak menjawab, pintu kamar Zyva diketuk oleh Dena.
"Zyva, ada Mr Adrian di luar nyariin kamu." teriak Dena.
Zyva langsung membuka pintu, "Oke Dena. Aku akan turun nanti. Ada yang harus aku bicarakan sama Devan sebentar." ucap Zyva dan Dena mengangguk dan turun menemani Mr Adrian.
Zyva membali menutup pintu dan memandang ke arah Devan. "Masalah kita belum selesai Devan, kita bicara lagi nanti. Aku temui Kak Adrian dulu." ucap Zyva pelan.
"Aku akan temenin kamu menemui Mr Adrian." tukas Devan sambil mengikuti langkah Zyva.
__ADS_1