
Zyva sedikit merasa lega setelah mendapat kabar dari Adrian, tapi kini ia justru makin kepikiran terhadap keadaan ibu kandungnya yang sudah tidak lagi tinggal di Mansion Clovis.
Tiba-tiba Devan masuk ke dalam kamar dan memberitahukan pada Zyva bahwa kini ibu kandungnya sedang ada di ruang tamu.
"Zy, di bawah ada Miss Pristina. Dia cariin kamu." ucap Devan sambil mengulurkan tangannya menggandeng tangan Zyva.
"Dev, aku bingung harus gimana." timpal Zyva.
"Tenang aja. Aku bakal dampingi kamu. Yuk." ajak Devan yang kemudian menggenggam tangan Zyva erat-erat.
Zyva dan Devan turun beriringan menuju ke ruang tamu. Di sana sudah ada Mama Auryn dan juga Papa Zen yang sudah lebih dulu menyambut kedatangan Pristina.
"Untuk sementara waktu tinggal dulu aja disini, Tina. Lagi pula hari sudah malam." tawar Auryn.
"Aku sudah menyewa kamar kos sebelum kesini. Aku hanya ingin bertemu dengan Zyva." ucap Pristina memandang Zyva sendu.
"Mama mohon maafkan mama, Zyva sayang. Mama sangat menyesal dengan apa yang mama lakukan." pinta Pristina membuat Zyva ikut meneteskan air matanya.
Ia pun menghampiri ibu kandungnya dan memeluknya sangat erat. "Zyva udah maafin ibuk." ucap Zyva membuat siapa pun yang melihatnya pasti terharu.
Kali ini Zyva merasakan hal yang sudah lama tidak ia rasakan. Pelukan seorang ibu kandung terhadap putrinya sendiri.
Auryn pun mengajak Pristina makan malam bersama dengan keluarganya dan ini membuat kehangatan dalam keluarganya makin bertambah.
Setelah makan malam, Pristina pun undur diri dari rumah Auryn dan berjanji akan mengunjungi Zyva besok lagi.
Setelah kepulangan ibunya, Zyva mendekati Auryn yang sedang menonton televisi.
"Bu," panggil Auryn. "Maaf jika selama ini aku sangat merepotkanmu." Auryn terkejut saat mendengar Zyva tiba-tiba berkata seperti itu.
"Zyvaaa, ibu sama sekali tidak merasa direpotkan sayaaaang." jawab Auryn sambil menyelipkan helai rambut Zyva ke telinganya.
"Katakan saja apa yang kau inginkan?" tanya Auryn.
"Zyva, aku justru seneng banget setelah kamu tinggal disini. Apalagi Devan tuh." timpal Dena yang menunjuk ke arah Devan yang sedang bermain kartu di ruang tamu.
__ADS_1
"Zyva sepertinya ingin kembali ke rumah lama. Sebab sampai saat ini belum ada yang berminat untuk mengontraknya. Zyva ingin mencoba hidup denga ibu kandung Zyva, bu. Apa itu salah?" tanya Zyva membuat semua yang mendengarnya langsung terdiam.
"Bukan salah, tetapi jarak rumahmu sangat jauh dari sekolah sayang. Kau dan ibumu juga bisa tinggal disini bersama kami. Iya kan pah." jawab Auryn yang kemudian minta kepastian pada papa Zen.
"Ayah setuju dengan ibumu itu Zyva. Kami hanya mengkhawatirkanmu." timpal papa Zen.
"Tapi ibu kandung Zyva terlihat sudah berubah, tidak lagi seperti dulu. Aku hanya merindukan tinggal bersamanya." ungkap Zyva membuat semuanya terdiam.
"Aku akan menemani Zyva nanti. Kalian jangan khawatir. Zyva akan baik-baik saja bersamaku." Devan yang sedari tadi diam, kini mulai buka suara.
"Tapi Dev, aku hanya ingin hidup dengan ibuku." jelas Zyva yang tidak ingin Devan ikut dengannya.
"Kalau begitu tidak bisa. Karena aku tidak memperbolehkannya. Kau istriku, Zyva. Dan kau tidak bisa pergi tanpa izin dariku." jelas Devan membuat Zyva memandang ke arah ibu Auryn untuk mendengar jawaban dari ibu Auryn.
"Zyva, kami hanya mengkhawatirkanmu." timpal Auryn yang sebenarnya tidak ingin jauh lagi dengan putri sahabatnya.
"Aku akan baik-baik saja bu, percayalah." Zyva terus mendesak Auryn untuk memberikan izin padanya. Sayangnya Devan tetap tidak menginginkan Zyva jauh darinya.
"Jangan izinkan Ma. Zyva tidak akan keluar dari rumah ini tanpa aku. Titik. Dan keputusanku sudah bulat, Zyva." ucap Devan yang kemudian pergi ke kamarnya.
Zyva melihat Devan yang marah hanya bisa mengusap wajahnya kasar.
"Maaa, pernikahan Devan dan Zyva kan masih rahasia. Mana mungkin Devan hidup di sana bersama Zyva. Nanti mereka digerebek lagi Maa." ucap Dena membuat Papa Zen dan Mama Auryn memikirkan ucapan Dena.
"Dena sih maunya Zyva disini aja. Biar Dena gak sepi." timpal Dena.
"Kan ada aku, Den. Gak mungkin sepi dong." kali ini Liza ikut nimbrung dan membuat Dena terdiam.
***
Zyva langsung menuju ke kamarnya mencari Devan untuk membicarakan masalah ini baik-baik. Devan terlihat duduk di balkon kamarnya sambil memainkan ponselnya. Zyva langsung membuatkan coklat hangat instan dan membawakannya untuk Devan.
"Kamu mau merayuku?" tanya Devan saat Zyva menyuguhkan coklat untuknya.
"Tentu saja, merayu pacarku yang tampan." jawab Zyva sambil duduk di samping Devan.
__ADS_1
"Huft, gombal." gerutu Devan sambil menyesap coklat panasnya. "Gak akan mempan, Zy. Aku tetep gak akan kasih izin sama kamu." jelas Devan.
Zyva mulai berfikir keras bagaimana cara meruntuhkan pertahanan Devan yang terlihat posesif. Ia pun memberanikan dirinya memeluk Devan dan meletakkan kepalanya tepat di dadanya. Jantung Devan langsung berdegub kencang hingga terdengar oleh Zyva.
Mendengar suara detak jantung Devan yang semacam pacuan kuda membuat Zyva mamin berani mengusap dada Devan dengan tangannya membuat Devan makin blingsatan.
"Zyva, please. Stop it!" Devan menahan tangan Zyva dan menurunkannya ke bawah. Si*lnya tangan Zyva justru menyentuh si otong yang sudah berdiri sejak tadi.
"Ups, sorry. Kalo yang itu aku gak sengaja." ucap Zyva melepaskan pelukannya dan buru-buru masuk ke dalam kamar.
Zyva mengatur nafasnya yang tidak beraturan dan naik ke atas tempat tidur. "Ini namanya senjata makan tuan." gerutu Zyva dalam hati. Awalnya dia ingin menggoda Devan setidaknya agar Devan menyetujui keinginannya. Tapi kini dia sendiri yang merasa kikuk setelah memegang otong Devan meskipun dari luar.
"Gak mau coba ngerayu aku lagi Zy?" tanya Devan yang kini berbalik menggoda Zyva.
"Gak!!" jawab Zyva sedikit ketus sambil menarik selimutnya untuk menutupi badannya. "Dari awal juga aku gak berniat untuk godain kamu."
Devan tersenyum tipis mendengar jawaban Zyva. Ia pun menyusul Zyva naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. "Trus apa tujuan kamu peluk-peluk aku tadi?" tanya Devan sambil memeluk Zyva dari belakang dan melingkarkan tangannya di perut Zyva.
"Nothing!" jawab Zyva singkat saat tubuhnya mulai meremang menerima pelukan Devan.
Devan makin bersemangat menggoda Zyva. "Kalo kamu usapin dada aku kayak gini tujuannya apa?" tanya Devan yang mulai menggerakkan tangannya mengusap dada Zyva.
Zyva makin menegang, menahan tangan Devan dan berbalik menghadap ke arah Devan. "Jangan nakal deh."
Cup! Kecupan singkat Devan langsung mendarat di bibir Zyva. "Kau sudah menyalakan api Zyva, dan aku tidak bisa memadamkannya."
"Dev, tapi aku __".
Emuach! Devan kembali mencium bibir Zyva dan kali ini lebih berasa dari yang pertama.
"Aku mengizinkanmu tinggal bersama ibu kandungmu dengan tiga syarat." ucap Devan membuat mata Zyva berbinar.
"Kamu harus selalu beri kabar ke aku, apapun tentangmu selama ada di rumah."
"Yang kedua, kamu akan kemana-mana sama supir karena aku tidak mungkin antar jemput kamu meskipun nantinya aku akan sering datang ke rumahmu."
__ADS_1
"Okey, sekarang katakan yang ketiga." pinta Zyva yang terlihat sangat bahagia.
"Emmm, yang ketiga. __ emmm. Aku mau ini dan jika kamu menolaknya, maka izin itu tidak akan berlaku lagi." ucap Devan sambil mengusap dada Zyva yang ujungnya sudah menegang.